The Loud of Harmonic Rock & Symphony Orchestra

Oleh

Iwan Gunawan

Pada malam kamis lalu (4 feb 2009), telah diselenggarakan konser musik bertajuk “The Loud of Harmonic Rock & Symphony Orchestra” di 1_939433262lgedung Sabuga Bandung. Konser ini merupakan aplikasi mata kuliah manajemen pertunjukan di Program Studi Pendidikan Musik FPBS UPI. Pada konser tersebut tampil beberapa musisi rock Indonesia, baik musisi yang dikenal dalam jajaran artis nasional maupun para musisi muda berbakat dari lingkungan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Para musisi tersebut antara lain: Andi \rif, John Paul Ivan, Ale “Virgie”, Ammy “4 Peniti”, Syarif “aksara hi-rock”, Sisca “harp”, Didit “Dr. Luck”, Rana “Incrush”, Rebeh “Red Peanut”, Prameswara Voices, Orkestra Bumi Siliwangi dan pelukis Syarif Hidayat.

Jika kita melihat pada persoalan “bisnis musik”, tentu saja judul yang diusung serta deretan nama-nama artis yang terlibat dalam konser tersebut akan memiliki nilai jual yang tinggi. Walau konsep garap musiknya  tidak begitu “segar” alias tidak orsinil akan tetapi di negeri kita yang disebut sebagai negara berkembang dan “melambai-lambai” (meminjam pernyataan Slamet Abdul Sjukur), konser tersebut menarik perhatian banyak orang termasuk para sponsor yang ingin bekerja sama dalam memanfaatkan kegiatan tersebut dengan tujuan agar saling menguntungkan (baca:bisnis!).

Di Indonesia terutama di daerah perkotaan kata musik dengan embel-embel  “Symphony Orchestra” selalu memiliki kesan sesuatu yang “wah”, berkelas, sebagaimana yang tertuang dalam sebuah booklet acara tersebut antara lain, “Kemasan yang elegan membawa orkestra ke dalam klasifikasi musik kelas atas …”.  Oleh karena itu, jika suatu jenis musik belum melibatkan alat-alat musik orkestra tampaknya belum dapat diakui sebagai musik kelas atas. Dengan demikian agar suatu jenis musik menjadi kelas atas, dengan mudah kita dapat menambahkan kata pada ujung nama jenis musik tersebut dengan kata “chestra” sebuah singkatan dari kata orchestra, seperti “Dutchestra”(Dangdut Orchestra), “Rock-Chestra (Rock Orchestra) dan mungkin tahun depan bakal diadakan konser “Popchestra” atau “Blues kana Rock-chestra”, (dalam bahasa Sunda ‘blus kana rok’) agar lebih sensual. Lanjutkan membaca

Iklan

MUSIK? APA ITU?

Oleh Slamet Abdul Sjukur

Anda sendiri pun mungkin merasa tidak punya urusan langsung dengan itu, artinya dengan musik. Musik hanyalah “yang itu lho,” yang bukan urusan kita. mas-slametDan sesungguhnya untuk mayoritas orang Indonesia zaman pembangunan ini, musik tidak ada. Kalaupun kita pernah ribut tentang musik cengeng, tentang Iwan Fals yang dilarang muncul di Medan, tentang hak cipta, peristiwa dengan Geldof dan sebagainya, kita ini tidak memperoleh musik itu sendiri. Di Tanah Air kita yang melambai-lambai ini, musik yang sebenarnya musik itu hanya dipikirkan oleh beberapa gelintir manusia saja dan tenggelam dalam hiruk pikuk pembangunan jalan yang melayang-layang. Kita lebih edan pada apa saja yang serba besar, bertekad menjadi bangsa metropolitanis, sementara bangsa-bangsa lain yang sudah maju dan karena itu tidak ribut perkara kemajuan, mereka itu sedang memikirkan bagaimana agar bumi kita ini menjadi suatu perkampungan yang akrab dan nyaman, bukan metropolitan yang serba wah. Istilah “perkampungan” ini terasa lebih manusiawi daripada metropolitan yang sudah menjadi simbol masyarakat orang-orang sakit jiwa karena stres dan frustasi, dan karena itu punya dendam untuk mengutuk apa saja yang mereka anggap jelek sebagai “kampungan.”

Yang namanya “musik”, ialah yang selama ini ditunggangi oleh kata atau lirik lagu, gemerlap lampu dan goyang gaya TV yang sangat miskin itu.

Dalam budaya “ayam goreng” yang menjadi trend orang-orang kota sekarang ini, selera kita lebih tertuju pada tepung pembungkus dan sausnya daripada rasa ayamnya sendiri, sehingga misalnya ayamnya itu diganti dengan gombal kaus-kaki pun, orang tidak perduli. Demikianlah gambaran musik kita dewasa ini.

Notasi Drum Pada Software Sibelius 5

Untuk melihat artikel ini klik di sinidigital-musik

GAMELAN GENTHA

by Al Suwardi

Compositional Back-Ground

Indonesia is a country that is constituted by many different ethnic cultures spread out over 13,000 islands. I am attracted to this cultural wealth and wish to explore musical practices found within that culture as a source of my music composition. The composition aims to investigate possibilities of integrating Javanese gamelan, Javanese vocal performing practice, Balinese percussion technique, and Florenese vocal technique. The proposed composition also explores ways to develop aspects of different traditional performance practice in the context of contemporary music making

This composition, the Ringing of Gentha, explores new sounds produced from the Gamelan Gentha, which is a gamelan made up of instruments that I have developed and built in 2001. Making new instruments is one of my compositional concerns. The use of new instruments and their distinct sound colors is aimed at developing new sensibilities with audiences interested in contemporary Indonesian music. Lanjutkan membaca

KESENIAN SEBAGAI MATA PENCAHARIAN

Oleh Henry Virgan Tanasale

mas-henryAda satu pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh Tuan R.M. Soewardi sebagaimana terdapat dalam buku “Kebudayaan dan Pendidikan/Seni” yang disusun oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu ‘Bagaimanakah jika seorang mempergunakan kesenian sebagai mata pencaharian ?’ Dan yang lebih menarik adalah pendapat beliau sendiri tentang pertanyaan tersebut ,”Jika orang hendak mengarahkannya (kesenian) kepada mata pencaharian, maka akan rusak binasalah kesenian itu!”

Mungkin bagi kebanyakan orang pendapat tersebut terlalu berlebihan. Akan tetapi bila kita kaji lebih dalam, maka kita akan menemukan sesuatu yang sangat berarti. Untuk itu kita akan mencoba mengupas apa sebenarnya maksud dan tujuan dari pendapat tersebut. Lanjutkan membaca

Ensemble Kyai Fatahillah

PROFIL FATAHILLAH

Ensemble Kyai Fatahillah adalah kelompok musik yang konsisten dalam upaya mengembangkan konsep musik-musik baru yang berakar dari musik tradisi sunda.

Nama kelompok musik ini dikukuhkan sejak adanya undangan dari Haus Kulturen Der Welt dalam acara Festival Seni Asia Pasifik “Space and Shadow” di Berlin Jerman.

Kelompok musik ini telah berhasil memainkan berbagai karya dari beberapa komponis, mulai dari karya tradisi sunda sampai kontemporer.

Para pemain yang terjaring pada kelompok ini adalah para musisi muda yang berbakat dan memiliki visi ke depan dalam upaya memperluas wacana musik di Indonesia.

Berbagai jenis musik yang sering dimainkan oleh kelompok ini adalah, musik gamelan tradisi sunda, gamelan kontemporer, musik perkusi dan musik electro acoustic.

Lanjutkan membaca

APAKAH IDENTITAS ITU PERLU DALAM GAMELAN KONTEMPORER?

by I Wayan Sadra

Kini telah tiga puluh tiga tahun  saya meninggalkan Bali. Tujuh tahun saya berdomisi di Jakarta dan selebihnya sejak 1984 saya menghabiskan waktu saya di kota Solo- Jawa Tengah. Pada tahun 1996 saya  berproses membuat suatu musik untuk iringan tari. Proses ini berlangsung disebuah desa tepatnya Sukawati- Bali, oleh sebab itu beberapa musisi saya adalah seniman yang berasal dari desa tersebut atau sekitarnya.  Saya masih ingat dan tetap terngiang-ngiang dalam telinga saya adalah bisikan antar sesama teman pengrawit disaat-saat saya memberikan penuangansadra suatu bagian komposisi. Mereka sepertinya berkomentar dengan suara yang lirih bahwa saya sudah bukan orang Bali lagi ( Beli Sadra sube Jawa ne!). Mereka secara sembunyi  menyebutkan saya sebagai orang yang bukan merupakan bagian dari komunitas mereka. Mereka sesungguhnya telah mengasumsi atau menghakimi atau menganggap saya sebagai outsider. Mereka menganggap saya bukan lagi bagian dari komunitas Bali termasuk seniman yang berangkat dari kasanah dan sumber-sumber musik Bali.Walau saya yakin bahwa gagasan musikal saya saya angkat dari kasanah musik Bali.

Begitu juga ketika saya membuat komposisi musik dengan mempergunakan gamelan Jawa dikota tempat saya tinggal kini-Solo, dimana juga musisinya adalah mayoritas pengrawit Jawa. Disaat proses Lanjutkan membaca