Archive for the ‘Komponis’ Category

Simak dan Komentari

John Cage

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

For the Ally McBeal character, see John Cage (character).
For the Mortal Kombat character, see Johnny Cage.

John Cage in 1956.

John Milton Cage Jr. (September 5, 1912 – August 12, 1992) was an American composer. A pioneer of chance music, electronic music and non-standard use of musical instruments, Cage was one of the leading figures of the post-war avant-garde. Critics have lauded him as one of the most influential American composers of the 20th century.[1][2] He was also instrumental in the development of modern dance, mostly through his association with choreographer Merce Cunningham, who was also Cage’s romantic partner for most of their lives.[3][4]

Cage is perhaps best known for his 1952 composition “4′33″“, the three movements of which are performed without a single note being played. The content of the composition, 4′33″ is meant to be perceived as the sounds of the environment that the listeners hear while it is performed,[5] rather than merely as four minutes and thirty three seconds of silence,[6] and the piece became one of the most controversial compositions of the twentieth century (the work was recently televised on BBC Four, performed by the London Philharmonic under the baton of Laurence Foster. Another famous creation of Cage’s is the prepared piano (a piano with its sound altered by placing various objects in the strings), for which he wrote numerous dance-related works and a few concert pieces, the most well-known of which is Sonatas and Interludes (1946–48).[7] Baca lebih lanjut

Iklan

Dieter Mack dan Musik “Murni”


Angin tutti2Ada kecenderungan reduksionistis. Tapi sang komponis tampak mencoba membebaskan bunyi untuk berbicara sendiri.

Selasa malam, pekan lalu, seusai pementasan musik komponis Jerman Dieter Mack di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) oleh grup musik kamar Ensemble SurPlus pimpinan James Avery, komponis Slamet Abdul Syukur terdengar mendecak kagum: “Musik yang begitu murni.”

Kata “murni” terasa menyentak, apalagi karena Slamet memakai itu sebagai perbandingan dengan Gillian Whitehead, komponis asal Selandia Baru yang karya-karyanya dipentaskan juga dalam rangka Art Summit IV di GKJ seminggu sebelumnya. Dikatakannya bahwa dalam musik Whitehead, yang bagi saya pribadi sangat bening, membumi, dan irit instrumentasi, “Masih ada kehendak merayu.”

Apakah “murni” yang dimaksud? Murni dalam arti hemat bunyi, nada, atau pesan? Murni sebagai penjelajahan atas semua kemungkinan yang ada dalam sebuah instrumen—memperalat, memperbudak, menaklukkannya kalau perlu, demi memperoleh bunyi asli? Atau murni sebagai antitesis dari “manis”, kata yang nyaris ditabukan dalam telaah musik kontemporer? Sementara, “manis” itu: melodi, harmoni, sekadar tonalitas, atau sesuatu yang menggugah roso, terasa karib di telinga?

Dieter Mack bukan orang asing di dunia musik Indonesia. Ia memakai banyak “topi”: komponis, pianis, etnomusikolog dan profesor di bidang komposisi, dan seorang yang sangat akrab dengan musik Bali. Ia dihormati, sampai sekarang, sebagai seorang penafsir yang bergulat dengan esensi gamelan, dan bukan terjemahan harfiah atau transkripsi bunyi semata. Ia tetap setia pada tradisi musik Barat—termasuk keseluruhan sejarah dan segenap hantu-hantunya, dengan unsur-unsur asing hadir bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai pemerkaya ekspresi musikal. Seperti metafor, imaji, segurat sugesti.

Dalam pengertian tersebut, karya pembuka, Taro, masih memikat. Karya tahun 1987 ini menampilkan perkusi, basklarinet, piccolo, dan dua piano dalam unisono yang ajek dan terkontrol. Tak ada ingar perkusif, riak metalik, “bunyi” Bali yang gamblang. Seperti dalam tradisi gamelan, pokok gending yang menjadi semacam melodi dasar memang diurai oleh kontrapung dan beragam ritme perkusi. Tapi lapisan-lapisan melodi yang lebih cepat, yang seharusnya berjalinan dan berkelindan secara sinkron sampai akhir teka-teki, tak sampai mengunci para pemainnya dalam sebuah ketergantungan emosional. Dari segi timing, interaksi para pemain bisa dikatakan minim, sementara jarak antara modulasi ritme cenderung panjang dan terukur. Tradisi seakan dikuliti, bunyi seperti distilasi. Baca lebih lanjut

Harry Roesli

Oleh Iwan Gunawan

harry-roesliDari berbagai informasi yang penulis ketahui tentang Harry Roesli, terutama hal yang berhubungan dengan eksistensinya sebagai seorang seniman, boleh dikatakan bahwa popularitasnya begitu sangat tinggi di masyarakat Indonesia pada umumnya. Mulai dari pejabat pemerintah sampai pada para pengamen jalanan, tampaknya sosok seniman ini begitu dikenal walaupun dengan cara pandang bernuansa kontroversial. Selain itu, popularitasnya didukung oleh begitu banyaknya “eksploitasi” atau respon orang tentang beliau yang dituangkan baik dalam bentuk media cetak maupun media elektronik. Mulai dari wartawan seni hiburan sampai pada para ahli seni, pernah menulis tentang eksistensinya. Salah satu aspek yang menyebabkan seniman ini menjadi seniman yang kontroversial yaitu dapat dilihat dari karya-karyanya terutama karya yang menggunakan “bahasa verbal” sebagai salah satu media ekspresinya yang sarat dengan kritik sosial politik yang tajam dalam bentuk lagu, teater atau mixmedia. Baca lebih lanjut