The Loud of Harmonic Rock & Symphony Orchestra

Oleh

Iwan Gunawan

Pada malam kamis lalu (4 feb 2009), telah diselenggarakan konser musik bertajuk “The Loud of Harmonic Rock & Symphony Orchestra” di 1_939433262lgedung Sabuga Bandung. Konser ini merupakan aplikasi mata kuliah manajemen pertunjukan di Program Studi Pendidikan Musik FPBS UPI. Pada konser tersebut tampil beberapa musisi rock Indonesia, baik musisi yang dikenal dalam jajaran artis nasional maupun para musisi muda berbakat dari lingkungan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Para musisi tersebut antara lain: Andi \rif, John Paul Ivan, Ale “Virgie”, Ammy “4 Peniti”, Syarif “aksara hi-rock”, Sisca “harp”, Didit “Dr. Luck”, Rana “Incrush”, Rebeh “Red Peanut”, Prameswara Voices, Orkestra Bumi Siliwangi dan pelukis Syarif Hidayat.

Jika kita melihat pada persoalan “bisnis musik”, tentu saja judul yang diusung serta deretan nama-nama artis yang terlibat dalam konser tersebut akan memiliki nilai jual yang tinggi. Walau konsep garap musiknya  tidak begitu “segar” alias tidak orsinil akan tetapi di negeri kita yang disebut sebagai negara berkembang dan “melambai-lambai” (meminjam pernyataan Slamet Abdul Sjukur), konser tersebut menarik perhatian banyak orang termasuk para sponsor yang ingin bekerja sama dalam memanfaatkan kegiatan tersebut dengan tujuan agar saling menguntungkan (baca:bisnis!).

Di Indonesia terutama di daerah perkotaan kata musik dengan embel-embel  “Symphony Orchestra” selalu memiliki kesan sesuatu yang “wah”, berkelas, sebagaimana yang tertuang dalam sebuah booklet acara tersebut antara lain, “Kemasan yang elegan membawa orkestra ke dalam klasifikasi musik kelas atas …”.  Oleh karena itu, jika suatu jenis musik belum melibatkan alat-alat musik orkestra tampaknya belum dapat diakui sebagai musik kelas atas. Dengan demikian agar suatu jenis musik menjadi kelas atas, dengan mudah kita dapat menambahkan kata pada ujung nama jenis musik tersebut dengan kata “chestra” sebuah singkatan dari kata orchestra, seperti “Dutchestra”(Dangdut Orchestra), “Rock-Chestra (Rock Orchestra) dan mungkin tahun depan bakal diadakan konser “Popchestra” atau “Blues kana Rock-chestra”, (dalam bahasa Sunda ‘blus kana rok’) agar lebih sensual.

Menurut Suka Hardjana bahwa di Indonesia sering terjadi kesalahpahaman tentang kata Symphony Orchestra. Dalam bukunya yang berjudul “Musik Antara Kritik dan Apresiasi”, Beliau menegaskan bahwa Symphony adalah kerangka komposisi arsitektural musik seperti dalam bentuk sonata. Apa bila sonata adalah sebuah kerangka bentuk komposisi untuk satu atau dua alat musik, maka dapat dibilang bahwa Symphony adalah “sonata” untuk banyak alat musik yang berbeda-beda. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa musik dalam bentuk Symphony selalu dimainkan oleh banyak orang beserta alatnya yang beragam, akan tetapi sebuah ensemble orkes, sekalipun menggunakan embel-embel kata Symphony seperti Boston Symphony Orchestra misalnya, dalam pertunjukannya tidak mesti selalu memainkan musik dalam bentuk Symphony. Tentu saja apa yang dilakukan oleh para mahasiswa musik UPI bersama artis rock Indonesia itu, tidak salah. Akan tetapi persoalan tentang musik Symphony atau musik orkes mesti dipahami lebih mendalam, demikian juga dengan musik rock. Karena bagaimanapun, antara musik rock dengan musik orkes atau orkes simponi memiliki latar belakang sejarah, estetika, kompleksitas dan segala tektek bengeknya yang dari awalnya cukup berbeda.

Seperti kita ketahui bahwa musik orkes sebagai produk budaya barat (eropa tengah), memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang. Jika kita mulai mengamati dari musik orkes pada jaman Barok sampai Romantik atau Impresionisme di Perancis misalnya, kita dapat melihat berbagai bentuk pengembangan yang cukup signifikan. Mulai dari perkembangan banyaknya jumlah pemain dan instrumen, perluasan gramatik musik, estetika, ke-individualan seorang komponis dalam karyanya sampai pada pengembangan teknik permainan yang sangat kompleks dan lain-lain membuktikan bahwa musik sebagai suatu karya seni selalu membutuhkan perubahan-perubahan oleh karena tuntutan perasaan, pikiran serta idealisme seorang seniman. Apa lagi jika kita amati perkembangan selanjutnya pada abad 20 sampai sekarang, yang tidak hanya berkembang di benua Eropa akan tetapi di benua Amerika, musik orkes berkembang jauh lebih ekspansif seiring dengan perkembangan komposisi musik. Anehnya, karya-karya musik barat yang mutakhir seperti musik kontemporer (istilah yang sering dipakai di Eropa) atau musik Avantgarde (istilah yang sering dipakai di Amerika), bagi saya selalu memiliki spirit serta kesan “multikultural”.  Yang paling sederhana dapat kita lihat misalnya dalam beberapa karya Piere Boulez atau Oliver Messiaen yang menggunakan alat perkusi gong. Atau sebuah konsep mikro intervalis, yang sebelumnya tidak pernah ada dalam tradisi musik barat (sistem well tempered). Menurut pengamatan saya, baik karakter bunyi gong maupun konsep mikro intervalis banyak kita temukan dalam musik tradisi di Asia termasuk di Indonesia. Artinya dalam proses perkembangan musik, para komponis di Barat tampaknya sangat tertarik untuk bersentuhan dengan budaya lain untuk pemantapan budayanya sendiri. Ironisnya, di Indonesia banyak orang memiliki minat belajar musik budaya lain (baca: musik Barat) akan tetapi seringkali lupa dan entah sadar atau tidak, kurang menghargai bahkan meninggalkan potensi budaya sendiri

Sementara itu musik rock lahir di Inggris  sekitar tahun 60-an yang selanjutnya berkembang di Amerika, sebagai imbas dari perkembangan teknologi dan industri serta keadaan sosial di negara tersebut. Oleh karena itu perkembangan musik rock tidak bisa dilepaskan dari aspek itu. Saat ini estetika musik rock tidak hanya dapat dinilai dari aspek musikal saja tapi non musikal,  aspek non musikal secara umum dapat dilihat dari beberapa hal seperti “aksi berlebihan” dalam memainkan instrumen, eksploitasi amplifikasi, cara berpenampilan atau berpakaian pemainnya beserta atribut/asesoris seperti anting, rambut gondrong, ikat kepala, tatto, simbol-simbol “kekerasan”, slogan-logan dan lain sebagainya. Semua itu menjadi kesatuan yang dapat memberi penekanan bahwa itulah dunia musik rock. Kehebatan musik rock dapat membawa gairah hingga penontonnya bisa sambil berjingkrak-jingkrak, berteriak histeris oleh karena hentakan drum serta dentuman bass yang refetitif, permainan gitar yang virtous dan memukau, ditambah oleh teriakan atau jeritan vokalis dengan makna syair yang kontekstual dengan keadaan masyarakat yang sedang frustasi, apakah frustasi karena keadaan sosial, cinta, ekonomi dan lain sebagainya. Inilah sebuah paradoks. Seperti lagu “kehidupan” yang dinyanyikan oleh Andi \rif pada konser malam itu. Jika kita mencermati isi syair lagu itu tampaknya sangat menyedihkan, akan tetapi di sisi lain, iringan musik menghentak-hentak dengan tempo yang cepat, dinamika keras dan bersemangat.

Lalu, di mana hubungannya musik simponi orkestra dan musik rock dengan keadaan serta kultur kita? Apa kontribusi kedua jenis musik tersebut untuk pengembangan sumber daya demi pembangunan negara yang kita cintai ini?. Dalam sebuah obrolan, Suka Hardjana pernah mengemukakan bahwa di Indonesia sering terjadi keadaan “seperti perselingkuhan yang tertangkap basah”. Sudah tahu keliru, tapi ngga apalah… sama-sama enak!.

Kembali pada persoalan konser “The Loud of Harmonic”, dari awal saya sudah memprediksinya bagaimana hasil pertunjukannya nanti. Pertama-tama saya meragukan kualitas permainan orkestranya, dan ternyata memang bagi saya interpretasi musik pemain orkes kurang persiapan alias tidak memadai. Keraguan saya ini sebenarnya bukan hanya untuk kualitas permainan Orkes Bumi Siliwangi saja yang baru berdiri mulai tahun 2002, akan tetapi untuk sebagaian besar grup orkes di Indonesia. Hal ini berdasar pada suatu cerita bahwa konon katanya karya-karya musik orkes dari komponis Indonesia Tony Prabowo, tidak pernah dimainkan oleh grup orkes dari indonesia akan tetapi selalu dimainkan oleh grup orkes dari luar negeri. Lalu, kebetulan saya pernah membuat komposisi untuk musik orkes, pada tahun 2006 saya perlihatkan partitur karya tersebut ke Slamet Abdul Sjukur (maestro musik/komponis Indonesia). Pada waktu itu mas Slamet (demikian saya menyapanya) bertanya, … Mas Iwan siapa yang akan memainkan karya ini?, setahu saya di Indonesia sulit sekali mencari grup orkes yang bagus. Satu lagi, saya mendengar secara langsung dari Idris Sardi (maestro/pemain biola) dalam sebuah obrolan di rumahnya Prof.  Rahayu Supanggah (Komponis/Etnomusikolog), Beliau cerita tentang keluh kesah tentang karirnya dalam memimpin musik orkes di Indonesia. Pada intinya Pak Idris kecewa akan kualitas serta mentalitas pemain orkes di Indonesia. Begitulah kira-kira salah satu alasan keraguan kualitas permainan grup orkes di Indonesia. Apa lagi jika saya mengingat lagi pengalaman pada saat saya diundang dalam sebuah festival musik gamelan di Berlin, pada saat itu saya memiliki kesempatan untuk menonton latihan sebuah grup orkes di salah satu stasiun radio di Berlin Jerman. Luar biasa!, tak pernah saya menemukan kualitas permainan musik orkes yang sangat bagus seperti itu di Indonesia.

Jika kita lihat pada sisi lain yaitu beberapa arransemen musik orkes yang dibuat oleh Aldi Nada Permana yang ditampilkan pada konser tersebut, sangat membanggakan. Walau jika kita dengar dari aspek tekstur, orkestrasi serta struktur harmoni masih terbayang-bayang oleh musik film gaya John William atau Danny Elfman, akan tetapi untuk komponis/arranger seusia Dia, patut diberi acungan jempol. Namun kembali lagi pada pemain, sebagus apapun musik itu dibuat, kualitasnya sangat tergantung oleh intrepretasinya. Selanjutnya siapa penontonnya? Apakah penontonnya memliki “tools” yang akan digunakan untuk menilai baik buruknya permainan musik? Apakah penonton tahu bahwa pitch nada yang dimainkan oleh musisi itu sebenarnya kurang tepat? Apakah penonton tahu bahwa pada saat pemain orkes memainkan tekstur ritme yang cepat sebenarnya mereka keteter? Apakah penonton tahu bahwa pengolahan suara instrumen-instrumen akustik itu yang kemudian menggunakan amplifikasi tidak menghasilkan suara yang seimbang? Dan lain-lain.

Sementara, paduan suara yang menjadi “backing vokal” pada setiap lagu yang dinyanyikan oleh Prameswara Voices pun terkesan kurang latihan. Warna suara setiap penyanyi masih kedengaran masing-masing seperti warna vokal pada saat nyanyi sendiri sehingga kesatuan suara sebagai sebuah paduan kurang tampak. Kecuali pada saat lagu “We Will Rock You” yang cukup meyakinkan. Yang menarik pada sajian lagu ini adalah adanya transformasi gaya vokal yang dinyanyikan oleh Ady Putra, dari gaya rock menjadi gaya vokal “black music”. Satu lagi yaitu lagu “Bohemian Rapshody”. Lagu ini memang dari awal telah memiliki komposisi yang bagus dan struktur harmoni vokal yang  dalam versi grup Queen dinyanyikan dengan alat elektronis yaitu Vocalizer, kemudian pada pertunjukan ini dinyanyikan oleh manusia, jadi tentu saja akan terasa lebih meyakinkan.

Terakhir untuk kelompok combo/band, tak ada sesuatu yang perlu dibahas oleh karena tak ada sedikit pun kreasi yang mencolok. Permainan musiknya seperti musik rock pada umumnya dan tentunya dengan kualitas standar. Sekalipun gitaris Syarif “Aksara hi-rock” sering dipuji-puji penonton yang sebagian besar mahasiswa musik  itu, bagi saya tak ada keunikan jika dibandingkan dengan gitaris rock lainnya.

Apapun hasilnya, peristiwa ini sangat penting untuk dikritisi demi kemajuan kesenian itu sendiri. Seperti yang dikemukakan Suka Hardjana bahwa dalam sebuah pertunjukan “Tidak cukup dengan 1001 tepuk tangan basa-basi yang membuat hati tidak waspada. Apalagi di tengah kecenderungan masyarakat atas budaya (…) sensual yang semakin membius dewasa ini,….

Sebagai penutup tulisan ini akhirnya saya ingin mengutip sebuah tulisan dari Slamet Abdul Sjukur yang pernah disampaikan pada suatu ceramah pada tahun 1993, akan tetapi pernyataan Mas Slamet itu masih relevan sampai hari ini.

Yang namanya “musik” ialah yang selama ini ditunggangi oleh kata atau lirik lagu, gemerlap lampu dan goyang gaya TV yang sangat miskin itu.

Dalam budaya “ayam goreng” yang menjadi trend orang-orang kota sekarang ini, selera kita lebih tertuju pada tepung pembungkus dan sausnya daripada rasa ayamnya sendiri, sehingga misalnya ayamnya itu diganti dengan gombal kaus-kaki pun, orang tidak perduli. Demikianlah gambaran musik kita dewasa ini.

Sebuah pesan untuk Orkes Bumi Siliwangi dan mahasiswa musik UPI, jangan berkecil hati, tulisan ini tidak bertujuan untuk mencemooh tetapi memotivasi agar kreatifitas yang anda lakukan dapat lebih berarti. Jalan masih panjang, perluaslah wawasan musik dan tingkatkanlah keterampilan permainan musiknya. Sebuah pesan bijak tentang musik pernah ditulis oleh Pak Fuad Hassan mantan menteri Pendidikan dan kebudayaan, antara lan. “Lebih dari sekedar untaian nada & irama menjadi gita, seni suara memberi peluang untuk mencapai puncak-puncak penghayatan yang sublim dalam hubungannya dengan Tuhan, alam dan sesamanya”.

74 responses to this post.

  1. Posted by virgantanasale on Februari 9, 2009 at 06:33

    “Matursuwun atas ulasan dan kritikannya, Broer. Ueeeenake, Rek !”
    Semoga menimbulkan “kegelisahan” kita untuk berkembang lebih baik.
    Untuk Arrome,”Haturnuhun, Broer !”
    Untuk barudak 2005,”Berjiwa besar-lah, ditunggu kegiatan-kegiatan selanjutnya !”
    Broer Iwan, Ditunggu penampilan video pembelajaran dan eksplorasi nya. Matursuwun.

    Balas

  2. Posted by onesgamelan on Februari 9, 2009 at 06:40

    Saya lampirkan komentar Pak Bambang Jasnanto dosen senior Prodi seni musik yang dikirim melalui e-mail. Bukan berarti saya setuju atau tidak. akan tetapi pemikiran kritis ini perlu di budayakan. berikut ini adalah komentarnya.

    ******************************************

    Kalau saya membaca tulisan Iwan berikut komentar saya (hanya point-point
    saja):
    1.Iwan tampak cukup menguasai sejarah musik barat, namun juga kurang
    kreatif, sementara menuntut orang lain agar lebih kreatif. Hal ini pernah
    juga saya alami dan sekarangpun masih juga begitu. Tulisan Iwan (mohon
    maaf) masih berbau “kesombongan”, dan tampaknya tulisan saya inipun juga
    begitu he..he..he. Pengaruh Dieter Mack terlalu kuat.

    2. Saya sangat bangga dengan Iwan, yang begitu rajin menulis dan
    memberikan kontribusi yang sangat dahsyat, namun dalam hal ini mungkin
    perlu memberikan stresing khusus, bahwa kuliah itu dalam rangka “manajemen
    pertunjukan”. Nah…dalam rangka ini kita harus bangga dengan Pak Hesty
    sebagai pembimbing, pak Nanang dan tentu semua mahasiswa yang terlibat
    (kita belum tentu mampu, apalagi lebih baik kalau kita melakukan) sebab
    semua itu kerja kolektif yang saling terikat satu sama lain.

    3. Saya usul, untuk konsumsi public, sebaiknya menulis yang positif,
    adapun diskusi di dalam kita bisa “bantai habis-habisan”. Atau setidaknya
    kita bisa belajar “mengkritik” melalui tulisan2 Prof. Sudarsono (Ahli
    Tari).

    4. Banyak aspek yang harus kita perbaiki sama-sama memang, namun “kita
    tidak mungkin mencapai kilometer ke 1000 tanpa melewati kilometer ke 1, 2
    dst”.

    5. Walaupun secara pribadi yang paling saya senangi, kagumi dan banggajan
    adalah pergelaran Iwan di Sabuga (saat konser jazz dengan Idang Rasjidi),
    beberapa waktu lalu, namun dut-chestra, rock-chestra, group krontjongnya
    Henry Virgan dkk itu buat saya/kita merupakan kekayaan kita yang sungguh
    luar biasa dahsyat! Ibaratnya makan, meskipun ayam taliwang itu lezat
    bukan main, namun jika tidak pakai nasi, lalap, plecing kangkung, tidak
    akan dahsyat.

    6. Kita tidak mungkin membandingkan prodi kita dengan rock-orchestranya
    orang-orang eropa, amerika, australia dll kalau membandingkan “apel harus
    dengan apel, jangan dengan durian atau lainya”. Mahasiswa kita masuk prodi
    musik mayoritas “nol” kemampuan, bisa gesek biola, cello dll, kita harus
    berterimakasih pada pak Agus, juliandani dll. Hari Udo dll

    7. Biar saja, mahasiswa kita menciptakan istilah2 baru, tanpa harus
    terbebani budaya barat (konteks budaya barat). Bahwa mereka harus
    mempejalari tentu itu tuntutan multak, namun kedalamanya tidak ada yang
    bisa mengukur. Biar itu pekerjaan bagai “analis”. Saya memberikan nama
    anak saya Abdullah Malik Ibrahim, bagi konteks budaya bahasa Arab salah
    total, namun benar total bagi kreativitas saya.

    8. Kemampuan mahasiswa dan dosen pembimbing mencari sponsor harus kita
    dorong terus, biar saja hal-hal yang dangkal berlangsung namun
    mendatangkan uang, namun setahap demi setahap (terutama Iwan dan dosen
    muda kreatif umumnya) terus berperan aktif membina “kualitas”, sehingga
    kalaupun kita tidak mampu setidaknya anak-anak kita, cucu kita dlsb.

    9. Kalau saya pribadi, saya memang sudah lama memutuskan untuk tidak
    meniti karier di UPI (sejak tahun 1993 hingga hr ini saya tidak mengajukan
    kenaikan pangkat dan itu memang saya sengaja), namun saya juga terus
    menerus berbuat perbaikan (misalnya dalam kuliah vokal, kewirausahaan,
    dalam pembekalan PLP kemarin dll). Secara Kewirausahaan acara Loud
    Harmonic juga harus dikasih A, sayang mereka sudah kontrak semua
    he.he..ehe

    10. Saya juga menyampaikan kritikan langsung ke pak Hesty, dan pak Hesty
    juga menyadari. Bagi saya pribadi, setelah pemain biola muncul penyanyi
    lagi membuat emosi yang sudah naik menjadi turun kembali. Andaikata pemain
    biola itu menjadi puncaknya, benar-benar klimkas (itu saya pribadi loh).
    Sound Enginer yang menurut saya juga “amat sangat kacau” itu perlu di
    kritisi secara tajam.

    11.Kita juga harus mengakui bahwa kemampuan Vokal mahasiswa kita sangat
    dahsyat, jauh lebih hebat dibanding Andi Riff dll, hanya mereka belum
    punya nama saja. Dalam hal ini kita harus berterima kasih dengan Bu Susi,
    Bu Diah, Bu Rita dll yang memang hebat dalam mengajar vokal. Ketika teknik
    vokal dikuasai, nyanyi apapun ok. Nah…sebagai kiritk bagi dosen vokal,
    ternyata mahasiswa kita kalau tampil “dengan tanpa beban” itu hasilnya
    jauh lebih baik. Para penyanyi kemarin saat ujian tidak sebagus saat
    mereka tampil kemarin. Kita harus perbaiki kuliah vokal dari berbagai
    aspek. Saya merencanakan ujian vokal akhir semester mendatang ini kita
    lakukan di luar, mahasiswa yang kontrak kewirausahaan akan saya kasih
    tugas menjadi E.O-nya, mudah2an pada setuju dan ikut andil dalam
    perencanaan hingga pelaksanaan.

    12.Bagaimana kalau tulisan Iwan tidak ditulis di blog saja, namun di media
    massa seperti PR, Kompas dll? Sehingga akan memberikan kebanggan yang
    lebih dari masyarakat untuk prodi kita umumnya dan Iwan secara khusus.

    Sukses dan bangga untuk Iwan dan seluruh teman2!
    BJ

    Balas

  3. Posted by onesgamelan on Februari 9, 2009 at 08:30

    Terima kasih pak bambang telah mengomentari tulisan saya. Tampaknya ada beberapa hal yang ingin saya komentari kembali komentar dari pa bambang.
    1. Tentang tuduhan “kesombongan” yang dikait-kaitkan dengan Dieter Mack, tampaknya nggak beralasan. karena bagi saya (mungkin bagi yang lain) berbagai pemikiran-pemikiran Dieter Mack selama ini sangat memberi kontribusi untuk kemajuan musik di Indonesia. Yang namanya “sombong” yaitu melebih-lebihkan sesuatu yang sebenarnya nggak ada apa-apanya. Sebenarnya warnanya abu-abu tapi kenapa disebut hitam. Dalam naskah drama tari “Dewi Pangrenyep” Kiki Sukanta menulis, “Yang hitam akan tetap hitam dan yang putih akan tetap putih”. Begitulah kalau kita mau jujur, mengapa kalau saya menulis untuk publik harus selalu positif kalau kenyataanya bagi saya tidak demikian?. Kalau mau begitu kembali saja ke jaman orde baru. Mengapa harus ada istilah “musik barat” dalam tanda kutip? Kalau kita memang merasa untuk memainkan karya-karya musik barat kagak kesampaian?
    2. Saat pak bambang menulis bahwa tulisan saya kurang kreatif, apa alasannya? Dimana letak ke tidak kreatifannya? Hal itu tidak dijelaskan.
    3. Tentang terselenggaranya acara “The Loud Of Harmonic”, saya cukup bangga akan tetapi tampaknya prodi seni musik kurang proposional dalam mendukung kegiatan mahasiswa. Bagaimanapun kalau kita mau jujur, sepatutnya kesenian-kesenian lokal- lah yang mesti di angkat ke publik, karena kesenian lokal menjadi aset penting untuk pengembangan budaya bangsa, bukan kesenian-kesenian populis yang sebenarnya tanpa dieksploitasi oleh Prodi seni musik UPI pun, mereka akan tetap eksis karena dukungan kaum kapitalis sangat tinggi.
    4. Pa bambang menulis bahwa orkes kita tidak bisa dibandingkan dengan orkes luar negeri. satu sisi saya setuju, tapi bagaimanapun musik orkes itu adalah musik dalam konteks budaya barat, tidak ada satu orang pun yang dapat menyangkal bahwa alat musik yang dipakai dalam konser itu adalah alat musik barat, demikian juga gramatik musiknya, sistem mayor-minor dan apapun namanya sangat berhubungan dengan konteks budaya barat kecuali syair dalam beberapa lagu indonesia. sehingga konser itu bukan act locally think globally tetapi sebaliknya, act globally (?) think locally.
    5. Ketika pa bambang menganalogikan cara mengapresiasi musik diibaratkan sebagai cara mengecap makanan. Justru disitulah permasalahannya!. Karena selama ini kita menonton atau mendengar musik selalu berdasar pada selera. Akhirnya kreatifitas musik hanya dapat diukur oleh rasa “enak tidak enak” menurut pendengarnya. Hal itu bagi saya cukup egois. Karena musik dicipta tidak hanya berdasar pada pengolahan rasa saja akan tetapi totalitas jiwa dan alam pikir. Dengan demikian sangatlah logis bila musik bisa mencerdaskan! Tapi musik yang bagaimana? Itulah tugas kita untuk senantiasa berpikir kritis agar apa yang kita lakukan, kita kerjakan, kita diskusikan tentang musik itu bermaslahat tidak sekedar mencari pujian, status atau klangenan (hiburan).

    Balas

  4. Posted by uchyl on Februari 9, 2009 at 11:29

    assalamualaikum, mohon maaf sebelumnya kalau dalam hal ini saya bukan mengomentari, tapi saya hanya ingin bertanya. saya pernah dengar kata pa iwan bahwa rockestra ini kelatahan dari dutchestra,,? terus saya juga baca bahwa ide ini muncul dari dosen pembimbing, apakah dosen pembimbing sudah kehabisan ide ataw ada tujuan lain menurut pa iwan?? dan juga bagai mana sebenarnya tanggapan pa iwan tentang anak2 angkatan 2005 apakah tidak di perbolehkan untuk merubah ide ataw judul tersebut? atau seperti yang di katakan pa arome, bahwa mereka takut mempunyai nilai E+? apakah merubah ide dosen itu mempengaruhi kepada nilai?

    saya bertanya seperti ini karena saya nanti juga akan mengalami hal yang sama yaitu pementasan.

    teimakasih.

    Balas

  5. Posted by onesgamelan on Februari 9, 2009 at 12:01

    wah, kalau itu mah pertanyaannya bukan untuk saya atuh broer! Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang……he…he…he

    Balas

  6. Posted by Susi Gustina on Februari 9, 2009 at 16:24

    Dear Iwan….

    tulisan yang sangat menarik buat saya karena ternyata ada kolega saya yang mencoba mengamati suatu fenomena (pertunjukan musik) dari perspektif sosiologis. Tidak hanya mencoba mengamati teks (musik)nya, tetapi juga analisis konteksnya secara kritis, walaupun singkat. Lain kali, lebih padat dan kritis ya Wan. Jangan pernah takut mengemukakan pendapat, walaupun pendapat itu ‘berbeda’ dari mainstream di Prodi Musik…hahaha… Keberanian itu justru bisa mendukung pengetahuan Iwan, yang tidak hanya sebagai musisi (insider), tapi juga bisa melihat atau menganalisis pertunjukan musik dari ‘luar’ (sebagai outsider). Pokoke…BRAVO…. So, sekarang saya punya partner untuk diskusi.

    Nah sekarang ke acara Loud…itu… Pertunjukan musik, yang merupakan aplikasi mata kul. Manaj Ptunj itu, dengan melibatkan Andi/Rif yang cukup beken di kalangan anak muda dan beberapa artis yang baru muncul, so pasti “berhasil” laah…! Terlepas “berhasil” itu mau dikonotasikan dengan apa, tapi saya cukup salut dengan usaha mahasiswa dan dosen pembimbingnya yang saya nilai cukup “berani” (lagi, terserah mau dikaitkan dengan apa) dalam mengusung tema itu. (Saya tidak mau komentar terlalu panjang mengenai event itu karena saya tidak melihat sendiri acaranya disebabkan oleh kesibukan saya dalam mempersiapkan laporan kepada Tim Promotor saya di Yogya.).

    Merespon pernyataan Iwan tentang pertunjukan musik itu, buat saya fenomena ‘bisnis’ di balik pertunjukan musik, konsep garap musik yang tidak begitu “segar” alias tidak orisinil, penggunaan istilah2 yang ng’pop’ (rockchestra, dutchestra, etc..) tapi justru “laku”, baik tiket yang laku terjual dan lagu sponsor, seluruhnya memperlihatkan suatu kenyataan bahwa kita hidup dalam masyarakat populer. Dalam masyarakat populer, karakter dasar musik populer adalah standarisasi. Tentang ini, saya inget pernyataan T. Adorno yang bilang bahwa struktur musik populer distandarkan dengan tujuan memperoleh profit/keuntungan maksimal!!!!. Dalam masyarakat populer, kualitas musik, prinsip, idealisme artis mah gak penting. Yang penting kuantitasnya supaya profit dapat tercapai. Nah, gimana dapat profit maksimal? Caranya, penyelenggara2 musik jangan kasih yang ‘susah’ ama penonton, musik dikemas ‘menarik’ tapi ringan (dan lucu’), dan terpenting, representasi artis/penyanyinya. Untuk laki, kudu macho, liar supaya menarik perhatian penonton perempuan. Untuk perempuan, yang penting cantik, cukup seksi (dengan kostum ketat, misalnya), dan juga warna suara yang ‘mendesah’ supaya terdengar seksi (padahal pita suaranya udah bocor…hahaha) sehingga menarik perhatian penonton laki2. Baca deh artikel Dieter dalam majalah Gong. Mas Suka dalam majalah Gong kan juga bilang bahwa karakter musik populer itu gampang diingat (tapi juga gampang dilupakan), sederhana, dan mudah ditangkap (bahasa kerennya…ear catchy…gitu loooooh..). Kenyataan ini juga terjadi dalam menyelenggarakan musik gamelan kan?. Prinsipnya, penyederhanaan yang dilakukan oleh penyelenggara2 pertunjukan musik populer merupakan hal yang lumrah karena keterkaitannya yang erat dengan selera ‘pasar’ dan duit. So, kita mulai bisa mahamin fenomena yang terjadi dalam acara itu.

    Penyederhanaan sebenarnya sudah tampak pada tema pertunjukan musik itu, The Loud of …… (maaf ya, saya jadi mau ketawa…. apa sih maksudnya?). Whatever deh…, menurut saya, tema itu cukup antik. Sayangnya, tema yang unik itu sepertinya hanya bertujuan untuk menggabungkan dua kelompok musik, rock dan orkestra. Sayang sekali ya….. Kebayang ama saya, jangan2 mikirin tema itu bisa berbulan2….hehehe… (Tapi, boleh tuh Wan sebagai inspirasi untuk bikin GAMECHESTRA [Gamelan versus Orkestra) yang dimainin oleh Gamelan Fatahillah…hahaha…biar tambah rame ‘ancur’nya. Bisa gak bisa, paksain aja…. yang penting unik dan bisa laku….hahaha.. Don’t take my words seriously. OK?…. just kidding, brother….).

    Walaupun becanda, tawaran saya itu merupakan ilustrasi konkrit tentang bagaimana pebisnis2 (besar maupun yang baru belajar) memudahkan segala cara untuk mengeruk keuntungan. Ukuran keberhasilan adalah pada kuantitas (banyak penonton) dan BUKAN pada kualitas. Itulah bisnis dalam musik populer. Disadari atau tidak, fenomena dalam acara itu sangat jelas memperlihatkan pengaruh kultur dominan yang menghegemoni musik populer (pihak kapitalis) dalam masyarakat, termasuk kita. Kalau ngomong hegemoni pihak kapitalis, ya pastilah UUD alias ujung2nya ya duit…..

    Nah… sekarang pertanyaannya, apakah kita (semua dosen lho) mau membawa mahasiswa kita untuk menjadi pebisnis2 yang ‘tunduk’ pada selera ‘pasar’ (mengabaikan kualitas) atau menjadi pebisnis2 yang mampu menciptakan pertunjukan musik sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat? Jawabannya terserah masing2 dosen karena kita gak bisa memaksakan kehendak pada orang lain.

    OK deh, begitu dulu. Untuk Iwan, SALUT telah memulai diskusi ini. Mudah2an tidak terbatas pada beberapa dosen saja, tetapi melibatkan semua dosen sehingga diskusi ini menjadi bahan pembelajaran untuk kita semua. Salut juga untuk Iwan yang tetap berpegang pada prinsip dan idealisme (tapi bukan ‘sombong’) dalam mempresentasikan pertunjukan musik dengan gaya tersendiri, ‘BERANI TAMPIL BEDA’ (sesuai dengan jargon dalam disertasi saya….hahaha…). Just go ahead with your music performance, Wan….. Be yourself!!”

    Balas

  7. Posted by onesgamelan on Februari 9, 2009 at 16:36

    ok banget bu, makasih banyak atas komentarnya.
    bukan karena ibu mendukung isi artikel saya, tapi komentarnya yang komprehensif membuka
    mata saya untuk melihat dengan cara pandang yang lebih luas.

    Balas

  8. Posted by dikmusik on Februari 10, 2009 at 01:56

    Sandie Gunara ngiring komen ah

    a iwan selaku dosen saya dan sekaligus senior saya, membaca artikelny jd teringat pada waktu saya mahasiswa (1999).

    Saya juga menempuh mata kuliah tersebut, dan pada waktu kita semua tidak setuju dg gagasan yang diungkapkap oleh pembimbing, tidak edukatif atuh da ceuk saya mah hehehehehe….kita jg sampai diberi pemikiran bahwa pertunjukkan itu harus wah, megah, dan uang-uang…ti mana atuh urang boga duitna….

    Pada waktu itu kita terpecah, mahaisswa yag ikut dg pembimbing krn takut nilai dan mahasiswa yang teguh terhadap prinsipnya, termasuk saya pada waktu itu…heheheh…
    Pertunjukkan menjadi dua pertunjukkan (tah kabayang teu harita)kami yang teguh terhadap pendirian tetap menjalankan pertunjukkan dg tanpa pembimbing, pada waktu itu saya menggagas pertunjukkan piano kontemporer, saya memainkan karya Mas Slamet,dan Mas Slametny ada pd waktu itu krn ada wrokshopnya. dan ada jg karya a iwan yang dimainkan mas hendry dosesn saya dan senior saya dan a dadan imam (alm).

    Sebuah pertunjukkan yg khidmat,sederhana penuh dg proses edukatif, dan tau gak tetep tuh saya punya nilai A hehehe…….

    Jadi untuk mahasiswa kedepan, jangan ragu untuk menggagas sesuatu dan satu lagi kita harus berlandaskan prinsip kita sebagai calon pendidik. anu edukatif nya….semua harus bermakna bagi kita untuk proses keidupan kedepan aduh euy…..

    Balas

  9. Posted by kizoku_koala on Februari 10, 2009 at 05:17

    punten…punten…. ngiringan ngarewong ah… hehehe…
    thanks bgt dah mo koment sama pementasan kami kemarin.. wah itu tandanya berarti bapa-bapak, aa2, teteh2 care sama kita anak 2005. duh da, kamari teh nya etateh menguras tenaga, pikiran, uang juga, hehe… dengan susah payah kami kemarin bikin pementasan yang seperti itu, dengan segala pertumpahan keringat dan air mata.. emang sih rada sedih juga klo dgr koment yang jelek, cuma da kumaha atuh da pementasan nya juga udah beres, trus wah pokonamah klo tau prosesnya mah ueeedan men…. matak nyurucud cai panon mun denger koment nu jelek teh.
    Honyong narsis ah… hehehe… klo menurut sy, kel, teman2 kmpus, tman2 luar kampus, smuanya ngasih koment yang bagu… hehe… prasaan baru kali ini ya pementasan (Mata Kuliah) diadain di SABUGA dengan konsep yang seperti ini. emang sih sebelumnya juga Erwin Gutawa dan pernah bikin yang kayak gini, tp ini kan kuliah gitu lho.. trus pemain orkesnya juga dari mahasiswa yang baru blajar.. jadi y… wajarlah pictnya sometimes mleset dikit.. tapi buat aku sih ini dahsyat bgt… Thank pa iwan, pa bambang, pa sandie, mas henry, a arom dll…

    Balas

  10. Posted by MurDokO5 on Februari 10, 2009 at 05:37

    Assalamuallaikum Wr.Wb.
    sampurasun.. pertama2 saya ucapkan terimakasih kepada Allah SWT. atas ijinnya saya dan teman2 bisa melaksanakan ujian menejemen pementasan ini.. banyak sekali tantangan yang kami hadapi tak lepas dari panitia sendiri dan para dosen dan juga para pendukung. Thanks atas kritikan dan sarannya saya juga mau mengungkap beberapa kejanggalan2 yang terjadi dalam proses pementasan ini. tidak sedikit orang memebrikan aplause pada pementasan kami bahkan banyak sms datang yang menyatakan bahwa mereka puas menonton pementasan kami, emang itu kenyataanya.. Adapun orang2 yang mengkritik kami, kami tunggu pertunjukan
    yang lebih wah daripada yang kami buat
    kemarin.. dan bila anda ingat2 kjadian yang dahulu, pernahkah anda melakukan hal yang sama seperti kami? dan dikemudian hari ketika saya sudah menjadi bapak” saya akan mementaskan sesuatu yang jauh lebih dahsyat dari pertunjukan yang pernah anda pentaskan.

    Balas

  11. Posted by onesgamelan on Februari 10, 2009 at 06:21

    buat MurDokO5 dan kizoku (kenapa anda sembunyi dengan identitas anda?), kalau saya kenal kita bisa diskusi secara langsung, pasti lebih asyik. tapi saya ingin komentari komentar anda. saya tahu banyak dalam proses berkesenian (pergelaran), jadi tak perlu mengeluh tentang prosesnya karena hal itu merupakan makanan sehari-hari.
    selanjutnya, mengapa anda merasa bahwa kita harus melakukan sesuatu yang sama?, justru yang anda lakukan itu adalah latah!,Apa bagusnya gedung sabuga sebagai gedung pertunjukan musik? Apakah yang wah itu selalu hebat? anda itu korban-korban seni populis jadi kalau mau jadi mahasiswa harus kritis sama diri sendiri jangan cepat puas oleh karena pujian saja. coba tengok lagi artikel saya!. Kalau penonton banyak yang suka, siapa dulu penontonnya. mungkin saja gemuruhnya tepuk tangan dan ucapan pujian itu sekedar basa-basi.Pertunjukan musik menurut guru saya seperti pertandingan catur. kalau yang main para master dan penontonnya amatiran tentu saja akan sangat membosankan, demikian juga sebaliknya. So… dalam segala sesuatu jangan terlalu banyak menggunakan emosi, berpikirlah secara jernih. Karena seringkali kita terjebak oleh ego kita. Demikianlah kalau mau jadi orang cerdas! ketika kita mau berpendapat, sebagai calon pendidik mesti punya referensi tidak apriori alias seenak perut! (mohon maaf saya sedikit keras untuk memancing, sejauhmana anda dapat mengendalikan keseimbangan antara emosi dan logika)
    catatan dari saya, sesuatu yang dahsyat itu tidak selalu membawa kebaikan untuk manusia. Lihat saja bagaimana, tanah palestina, atau kota hirosima hancur oleh ke dahsyatan Bom!

    saya harap diskusi ini dapat terus berjalan…. dan terima kasih banyak telah berpartisipasi dalam membudayakan sikap kritis.

    Balas

  12. Enry Johan Jaohari
    Mahasiswa Program Studi Seni Musik UPI
    “ANGKATAN 2005…!!!” (sengaja ditulis begitu : kebanggaan bagi saya menjadi ANGKATAN 2005)

    “Sepenggal kisah dari keluh kesah dan hembusan nafas yang terlepas tanpa beban berat seperti yang sudah-sudah,
    Di suatu tempat dimana seorang insan di hadapkan dalam keadaan terhimpit oleh berjuta-juta “air liur””

    Untuk :
    – Yang terhormat, para kritikus musik tanah air
    – Yang terhormat, para audience
    – Yang terhormat, para pemberi kebijakan
    – Yang terhormat, para pemikir yang berada di pihak tertindas
    – Yang terhormat, para eksekutor yang berada di pihak penindas
    – Yang terhormat, para pahlawan yang “diam”
    – Yang terhormat, para pelaku peran protagonis yang diupah dengan pelampiasan idealisme
    – Yang terhormat, para pendiam yang “sangat kaku”
    – Yang terhormat, para “kepala” yang senantiasa adem ayem di kursi empuk
    —————————————————————————————————-

    Terimakasih yang sebesar-besarnya kami (mahasiswa angkatan 2005) sampaikan atas perhatian dari para kritikus dan komentator dan “orang yang lewat”.
    mau tidak mau, saya selaku “objek” merasa diombang-ambing oleh beberapa kalimat yang tertuang dalam blog ini, baik secara terang-terangan, ataupun secara tidak langsung dan sengaja dibungkus oleh balutan kata-kata manis.

    Terlepas dari apa yang kami rencanakan, lakukan, dan hasilkan, memang hal itu sepenuhnya menjadi beban pikul kami sendiri, tetapi beberapa pihak secara langsung dan tidak langsung telah ikut andil dalam beberapa bahkan keseluruhan proses ini.

    Sebut saja tentang pengkondisian salah satu mata kuliah di Prodi Seni Musik UPI itu sendiri, saya tidak menyalahkan ataupun menunjuk salah satu pihak atas kegagalan (anggapan sementara saya, dari beberapa kritik dan komentar) dari aplikasi mata kuliah tersebut, akan tetapi, tidak ada gunanya apabila kita terus beradu kata tanpa diketahuinya peristiwa ini oleh pihak-pihak yang menjadi sasaran yang sebenarnya (siapapun itu, kalianlah yang tau).

    Jujur saja, saya merasa berada di tengah-tengah kjelimetan para “tetua-tetua” dan “pejuang-pejuang” yang keduanya tidak mau “bertemu”, mungkin saja kami (mulai sekarang, kami berubah jadi saya) pantas disebut sebagai kerbau yang dicocok hidungnya, dan bisa diseret-seret seenaknya oleh pemegang tali, tapi saya juga tidak bisa disebut tidak pantas untuk dijuluki sang kancil yang mengendap-ngendap mencari sebuah rahasia kecil namun manis dan mematikan yang bebas dalam segala tindakan tanpa ada secuil tali yang menempel ditubuh.

    Apabila diperbolehkan untuk ikut serta dalam ritual penumpahan isi hati ini, secara pribadi saya kagum terhadap beberapa reaksi dari kalian semua, kalian melirik, melihat sekilas, melihat jelas, memperhatikan, konsentrasi, dan bertindak atas apa yang saya perbuat. Tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu sangat membantu bagi kemajuan di berbagai bidang, tidak hanya dalam urusan aplikasi mata kuliah saja, tetapi diantaranya mencakup juga perkembangan pola pikir para “mahasiswa musik” di negara ini pada umumnya dan para mahasiswa “musik UPI” pada khususnya, dan para penggiat “The Loud of Harmonic” terlebih khususnya.

    Kepada beberapa pihak yang memang “kelihatan membantu”, saya acungkan dua jempol pada kalian. Kalian telah menunjukan eksistensi dan menyumbang pikiran untuk terselenggaranya acara ini, meskipun saya sendiri tidak tahu apa maksud dan tujuan sebenarnya yang tersimpan dalam lubuk hati paling dalam, mudah-mudahan sesuatu yang positif, mudah-mudahan sesuatu yang tanpa pamrih, mudah-mudahan sesuatu yang tidak mengharap belas kasihan dari para “tetua”, mudah-mudahan bukan hanya sekedar penumpahan ide pribadi yang ingin dianggap pahlawan, mudah-mudahan bukan hanya sekedar omongan kosong yang tiada artinya, mudah-mudahan bukan sekedar usapan tangan di dada yang tidak bertujuan untuk mendinginkan susana, dan mudah-mudahan bukan berpura-pura mengerutkan dahi yang menunjukan kepedulian atas keprihatinan, dan tidak berarti apa-apa.

    Kepada beberapa pihak yang “keliatan tidak membantu”, saya juga acungkan dua jempol pada kalian, tetapi jangan ada yang menganggap bahwa dua jempol yang dimaksud adalah dua jempol kaki (tentu saja bau busuk ikut menyertai, mungkin ada yang ingin berharap seperti itu, apabila ada, tentu saja mereka adalah pihak-pihak yang merasa tidak dihargai keringatnya dan mereka yang “diludahi” atas jerih payah mereka yang telah disumbangkan). Siapapun pihak yang “keliatan tidak membantu” itu, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, karena tanpa kehadiran kalian tidak mungkin ada “pihak yang keliatan membantu”.

    Sebenarnya, apabila saya ingin mengusut lebih dalam tentang penyebab dari hasil yang kurang memuaskan (menurut beberapa pihak) dari “The Loud of Harmonic”, bisa saja saya lakukan, sekarang, saat ini juga, bahkan dalam waktu kurang dari satu kedipan mata (bagi beberapa insan yang telah menyadari tentang beberapa kejanggalan yang tampak). Tapi, saya masih menghargai beberapa peraturan dari tatakrama (tatakrama kok pake peraturan segala!?, bukannya sudah sesuatu hal yang pasti!? tapi mungkin itu di tempat lain.. biarlah) yang berlaku di lingkungan tempat “kita” berpijak. Merupakan hal yang kurang sopan apabila kita membahas keburukan dari suatu dzat yang memang tak luput dari kesalahan. Tapi apa yang harus diperbuat apabila kita terjepit diantara dua dinding besar yang saling ingin menubruk, sementara di depan dan belakang kita terdapat pintu yang memang bisa dilalui dan dijadikan jalan keluar? Tak ada cara lain, buka saja pintu itu!, tapi kita pasti sanggup untuk tak membuka pintu itu apabila dua dinding besar tersebut dinamis, harmonis, dan sejalan, sehingga memberikan ketentraman bagi orang-orang yang berada diantaranya.

    Tak sedikit peristiwa yang terjadi akibat dari ketidakharmonisan dua dinding tersebut, diantaranya, tentang mengapa ada istilah “seperti kerbau yang dicocok hidungnya”? yang saat ini istilah itu sangat melekat di hati para tertindas. Memang saya akui, tempat yang saya pijak sangat sempit, sehingga tak ada ruang untuk bergerak sendiri tanpa diketahui oleh keduabelah pihak, adakalanya saya bergerak mengikuti arus dinding pertama, dan memang nyaman, terkendali, dan bermanfaat, tapi pada waktu bersamaan ternyata di dinding yang satunya lagi tak merasa demikian, mereka mengaggap hal itu adalah “seperti kerbau yang dicocok hidungnya”, begitupula kebalikannya, ketika saya bergerak mengikuti arus yang berlaku di dinding kedua, memang nyaman, terkendali, dan bermanfaat, tapi pada waktu bersamaan pihak yang lain berpendapat bahwa hal itu merupakan “pemberontakan” yang ingin bebas bergerak sendiri tanpa persetujuan dari semua pihak.

    Jadi, siapa yang berada di tengah-tangah antara dinding-dinding tersebut adalah pihak yang tertindas, baik oleh kejadian yang nyata, maupun oleh omongan-omongan yang samar-samar terdengar (tentu saja oleh beberapa telinga yang sensitif). Sekarang, siapa yang mau ikut andil dari adanya hasil yang kurang memuaskan tersebut? Mungkin saat ini, ada yang hanya mau menjadi komentator saja, mungkin audience saja, mungkin pemberi kebijakan saja, mungkin juga ada yang ingin menjadi pemikir yang simpatik terhadap pihak tertindas, mungkin juga pahlawan yang diam itu mau bergerak, atau mungkin malah semakin ingin diam dan pura-pura tak tahu meskipun dihatinya bergejolak ingin berteriak?, mungkin para pelaku peran protagonis yang diupah dengan pelampiasan idealisme tersebut melihat kebelakang, dan tak akan berbalik lagi kearah sebelumnya? mungkin juga para “kepala” yang adem ayem di kursi empuk itu ingin menjadi bagian dari orang-orang yang terhimpit? (Gak mungkin… soalnya, mereka udah enak dikursinya, mana mau jadi orang yang duduk di ubin beralaskan debu dan celacah rokok?). Tapi tak menutup kemungkinan bahwa keajaiban akan datang kepada mereka yang sangat sangat sangat memerlukan.

    “Mohon maaf … ! (Saya menulis kalimat tersebut dengan tegas dan sungguh-sungguh dan tidak berpura-pura, jadi alangkah lebih baik jika dibaca begitu pula)”. Kalimat tersebut seharusnya saya letakkan di awal tulisan ini, tapi karena beberapa hal, saya tidak setuju untuk menyimpan kalimat itu didepan. Mungkin karena peraturan dari tatakrama yang saya jalani ini, dan dari beberapa contoh yang memang telah tersibak di depan mata saya sendiri, disaat salah satu pihak bergerak, kemudian ditentang oleh pihak yang lain, kemudian dihalang-halanginya, tapi kemudian berhasil bergerak dan harum, tepapi balasan yang didapat malah “terucapnya kata maaf dalam hati”, percuma, tak akan ada yang mendengar. Yang mereka (pihak yang bergerak) tahu hanyalah berbagai iri yang merajalela dan menguasai setiap hati para pihak yang menentang tersebut.

    Apa salahnya jika permintaan maaf itu disampaikan secara tulus dan terang-terangan?
    Apa salahnya jika jangan ada iri hati ?
    Apa salahnya juga jangan ada pergerakan-pergerakan “dibawah” yang memang itu bisa dibilang jenius dan pembaruan, tetapi apa yang menjadi kebanggan apabila hal itu menjadi hal yang dapat menambah jurang pemisah dan mengurangi keharmonisan antara keduabelah pihak?
    Apa salahnya jika kalian bertemu dalam suatu momen yang “dingin” dan tidak diembel-embeli keterangan ” wajib kepada seluruh …. “?
    Apa salanya jika pihak tertindas tak ingin berada diantara kjelimetan tersebut?
    Apa salahnya jika jangan ada dua dinding besar tersebut? Sehingga tidak akan ada pihak tertindas bahkan mungkin tidak akan ada pahlawan yang “diam” dan “takut”.

    Terimakasih, kepada penyedia blog ini, karena dengan adanya blog ini, saya dapat mencurahkan berbagai keluh kesah yang terasa berat dipikul oleh seorang diri. Komentar-komentar terhadap “The Loud of Harmonic” memang perlu adanya, bisa jadi komentar-komentar “The Loud of Harmonic” merupakan pintu bagi mereka yang tertindas.

    Secara ilmiah, tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan konteks musikal “The Loud of Harmonic”, bahkan menurut saya, sangat jauh dari hal tersebut, tetapi dengan munculnya beberapa pemikiran dari para komentator, hal itu dapat membuka mata saya dan bersemangat untuk “bergerak sendiri” (berusaha untuk memerankan tokoh tertindas). Harapan saya tidaklah muluk-muluk, hanya ingin membuat penghuni tempat yang terakreditasi tertindas itu menjadi tidak tertindas, dan dapat melakukan segala gerakan dengan apa yang dicita-citakannya, tentu saja dengan menaati tatakrama yang berlaku, tapi bukan tatakrama yang terpengaruh oleh aturan, karena aturan-aturan tersebut dibuat semata-mata untuk membuat “dirinya aman”.

    Siapapun yang merasa tersinggung oleh sepenggal kisah yang muncul dari seseorang yang sedang mengigau dalam mimpi buruknya ini, adalah dia yang merasa menjadi salah satu peran-peran diatas.

    ——–Terimakasih untuk salah satu “teman” saya dalam “obrolan warung kopi” waktu itu.———

    Penulis : Enry Johan Jaohari
    Catatan : Ditulis dengan sepenuh hati dan penuh pertanggungjawaban

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Februari 10, 2009 at 20:47

      adik johan yang saya kagumi, mohon semua komentar yang ada disini jangan terlalu dibawa ke persoalan pribadi sehingga apa yang anda rasakan dituangkan dengan kata-kata yang berbelit-belit dan “puitis”. Memang kritik musik di Indonesia itu belum berjalan sebagaimana mestinya. Seperti saya bilang bahwa berpikirlah secara jernih, tampaknya kita belum siap dikritik, padahal sebenarnya kritik itu adalah bentuk penghargaan yang setinggi-tingginya. Dan ingat pergelaran yang anda lakukan adalah momentum yang bagus dan menjadi Isu hangat yang dapat kita diskusikan untuk memperoleh makna dibalik kegiatan tersebut. Dan bagi orang-orang yang merasa “tertindas” (termasuk saya) bersyukurlah…karena dengan demikian kita akan senantiasa berpikir serta melakukan hal-hal yang lebih baik. Saya harap blog ini bukan ajang “curhat” tapi ajang adu argumentasi untuk melihat fenomena musik secara komprehensif dan ilmiah. hal itulah yang belum terjadi di lembaga yang kita cintai ini. saya ucapkan syukur berkali-kali, sampai setelah menulis artikel tersebut saya bermimpi banyak orang berkomentar, bereaksi terhadap tulisan itu dan mimpi saya telah jadi kenyataan, karena selama ini saya tidak mempunyai partner untuk berdiskusi. Sangatlah mudah menerimanya jika kita mendapat pujian-pujian akan tetapi sangatlah sulit kita menerimanya jika suatu saat kita di hujat (di “eksekusi” seperti istilah yang anda tuangkan). Akan tetapi kita harus (sekali lagi) berpikir jernih seperti yang telah dicontohkan oleh nabi-nabi kita. Dalam bidang musik hampir setiap komponis mendapat hujatan dari pendengarnya pada saat Ia menuangkan konsep serta pemikiran barunya melalui suatu karya. Tetapi bagi komponis-komponis besar yang sampai hari ini kita dapat mendengar karya-karyanya, hujatan itu dijadkan sebagai motivasi untuk senantiasa terus melakukan apa yang diyakininya. Dan pada akhirnya karya tersebut memilki kaki dan tangannya sendiri untuk menemui publiknya. Teruslah berbuat sesuatu yang anda yakini sejauh keyakinan anda itu dapat bermanfaat untuk orang lain.

      Balas

  13. Posted by arrome on Februari 10, 2009 at 17:50

    tuh kan a, jadi rame hu huuuy….. MurDokO5 dan kizoku teh nu pasti mah budak 2005… tapi saha nya ? matak teu make ngaran asli ge NGARASA meureun nya ?

    maaf sekali lagi ini forum kritik MUSIK bukan kritik SA-model Indonesian IDEOT eh… IDOL, AFI, yang mengkritik BAGUS BAGUS BAGUS….. kalo anda di kritik bagus yang ada ke enakan euy…. maen jelek di bilang bagus yang ada anda akan terus maen jelek dan saya gk mau itu terjadi brur….

    kalau anda main bagus, akan saya bilang jelek biar anda main lebih bagus….. jangan pernah puas brur…..
    think positif…..

    sorry banget, saya sensor!

    Balas

  14. Posted by arrome on Februari 10, 2009 at 18:06

    saya juga masih mistery di balik musik………………….
    ……………….dan masih belajar…

    belajarna ka saha cing….?
    ka A Iwan, Mas Hendry, Bang Udo, Pa Kiki, A Sandie, Pa Oya, Mimih Yoyoh, Bu Putri, Bu Susi, jsb….

    ari hoyong na mah abdi teh nga guru ka :

    ka Pa Dieter, Eyang Amet (Slamet A Syukur), Stockhausen, Pa Sukoharjana tapi jauh teuing eung…..tapi alhamdulillah tos kawakilan ku :

    A Iwan, Mas Hendry, Bang Udo, Pa Kiki, A Sandie, Pa Oya, Mimih Yoyoh, Bu Putri, Bu Susi, Bu Rita, jsb….. duh manfaat pisan eta elmu…. abdi teu tiasa ngbales kasaean budina mudah-mudahan sing di bales ku Alloh SWT

    yu ah… urang sami-sami di alajar…

    Balas

  15. Posted by arrome on Februari 10, 2009 at 18:53

    one more thing I want to say something buat MurDokO5 dan kizoku (Diki dan Pandu)selamat untuk pergelarannya……

    untuk pergelaran SAYA/ KAMI 04 DUTKESTRA, saya ataw kami 04 gk bilang pergelaran kita BAGUS atau WAH di TAMBUD bo…….. jangan salah brur ka kami juga banyak yang bilang juga klo pergelarannya BAGUS dan MEREKA PUAS MENONTON PERGELARAN KAMI dan itu adalah pernyataan pahit yang saya alami….seperti yang A Iwan bilang memang ucapan pujian itu sekedar basa-basi saja.

    pergelaran dutkestra biasa saja tuh… makanya kita 2004 setelah pergelaran di hari berikutnya tidak pernah mengadakan yang namanya EVALUASI cuek aj kita….sama juga dengan pergelaran ANGKLUNG 2004 (gila angklung aj kita bikin pergelaran ya..huh bangga) yang pernah ANAK ANAK 2004 adakan….seolah pergelaran itu yah….gk penting lah…..tanya aja lur Teguh, Kokoy, Epul, Aji, Hendrik, dan ada dana sisa 5 juta dari pergelaran kami sumbangkan….. kita gk pernah ngeributin sisa duit 5 juta itu ti is aj….

    kenyataan yang indah hanyalah bercengkrama bersama teman-teman seangkatan….. itu saja…. seperti yang A Iwan ktakan itu makanan kita sehari-hari brur(gk pake brur ya…arom tambahin aj y dikit)….

    itu asal MurDokO5 dan kizoku (Diki dan Pandu) tau aj y….

    Balas

  16. Posted by kakang_abay on Februari 11, 2009 at 03:46

    aya nu rame geningan…… saya baru tau nih d kampus kritikan2 ini d print dan dipajang di mading. mendingan seperti ini ada kritik2 segaligus ada saran kali ya, mudah2an budaya “cengeng alias pundungan”+ “silih omongkeun” lenyap lah. buat 2005 acaranya yang kemaren sukses ya. ampe muka saya di painting kaya black metal. aransemennya untuk setaraf mahasiswa UPI B+ lah salut buat aldi.

    Rom…..emang aya JURUSAN ENSAMBLE KYAI FATAHILLAH? urang rek daftar ah…hehehehehe……

    Balas

  17. Posted by onesgamelan on Februari 11, 2009 at 08:00

    thanks for abay! geura anggeuskeun skripsi ari hoyong ngiring dolanan mah……

    Balas

  18. Posted by hery udo on Februari 11, 2009 at 08:04

    hery udo
    …memang kita semua harus mulai belajar dan biasa dengan kritik, apapun yang pasti semuanya peduli dengan prodi musik, coba kalau yang ngritik masyarakat luar..
    ..MERDEKA BUNG IWAN!!!

    Balas

  19. Hai semua,
    Saya atas nama pribadi saya sendiri tanpa embel2 anak seni musik UPI angkatan 2005 (bukan berarti saya ga bangga lho jadi angkatan 2005, tapi di sini saya pengen berpendapat secara tulus tanpa adanya rasa keberpihakan), juga mau ikut ngasih komen. Tapi thx bgt sebelumnya buat yang udah mengkritik abis2an acara kami yang bertajuk ”The Loud of Harmonic” itu, semoga kritikan itu bisa jadi masukan yang berguna buat kami dan akan menjadi lebih baik di acara-acara selanjutnya (itu juga klo masih pada mau bikin acara lagi, hehe).

    Dan sebagai mahasiswa musik, pertama2 saya mau mengutip terlebih dahulu ungkapan yang pernah ditulis oleh Suka Hardjana : ”Kritikan musik itu selalu tertinggal selangkah dengan musik yang dikritik” (ceritanya ada landasan teorinya, hehe, supaya agak ilmiah). Ini berarti kita semua yang di sini harus mengingat terlebih dahulu apapun kritikan kita dan sedalam apapun kritikan kita, belum tentu (bukan berarti tidak bisa) ”sebaik” dari musik yang dipertunjukkan karena kita juga belum tentu bisa melakukan hal2 yang sama mulai dari proses hingga hasil dari proses yang dipertunjukkan pada waktu itu. Sekali lagi, kita harus mengingat kita belum tentu bisa mengaransemen lagu2 rock itu dengan format full orkestra dalam waktu 2 bulan saja, kita juga belum tentu bisa mengkomposisikan karya ”The Thief and The Sleeper” (salut buat konsep multi-tone lo yang udah dikembangkan dengan ”khas Aldi bgt”, tunggu gw akan melebihi lo sebentar lagi dengan konsep jurus tikus menggali lubang, hehe, just kidding), kita juga belum tentu bisa melatih anak2 OSBS dengan repertoar yang susah apalagi melatih lagu Dream Theater dalam waktu 1 bulan udah gitu digabungin sama combo (buset, susahnya bukan main), lagipula kita juga belum tentu bisa menjadi EO seperti angkatan 2005 yang bisa melobi Sabuga, dan Djarum Super. (Salut buat seluruh mahasiswa angkatan 2005. Hehe, kok malah jadi memihak angkatan 2005).

    Tapi, kalo saat itu posisi saya sebagai apresiator (bukan pemain hand-cymbal, hehehe), pasti saya juga ikut memberikan kritik terhadap acara itu, dan ga mungkin juga ada apresiator yang cuma ”puas” begitu saja sama pertunjukkan musik yang ”diamati”, yang ada cuma pulang ke rumah dengan tangan kosong. Kan rugi, ya ga? Nah maka dari itu ada 3 poin yang pengen saya sampaikan :

    1. Terlepas dari masalah musik seni dan populer, secara konseptual saya pikir cukup menarik juga menyajikan suatu perkembangan musik rock mulai dari era ”The Beatles” hingga ”Hoobastank”, akan tetapi sayangnya MC ga pernah sedikitpun membahas tentang sejarahnya. Mana hey? Katanya mau mengulas sejarah musik rock? Katanya udah bikin narasi tentang sejarah musik rock?

    2. Secara musikal dan tentu berkisar pada persoalan teknis : saya pikir, aransemennya udah bagus bgt akan tetapi interpretasinya dari skala 1-10 untuk kerapihan orkestra, yaaahh 6 lah, karena masih banyak not-not yang tidak dimainkan sebagaimana mestinya terutama violin 1 dan 2, clarinet, trumpet, saxophone dan french horn. Masih ada pitch yang ngga karuan, masih ada yang masuk tidak pada tempatnya baik tergesa-gesa atau telat masuk (clarinet, oboe, terutama saxophone pas lagu Dream Theater, timpani dan hand cymbal, hehe), frasering-fraseringnya juga masih belepotan, tidak presisi dan kurang tegas. Mungkin yang boleh dikatakan mendekati target musikal yang ingin dicapai hanya cello, fagot, flute, dan combo. Setahu saya, sang conductor sudah maksimal dalam memberikan sign2, mengarahkan player, membantu menginterpretasikan aransemen dan karyanya, namun mungkin juga karena masih ada banyak hal yang belum dia ketahui tentang ilmu conducting, sehingga beliau ini masih belum bisa ”menyatukan” orkes dengan sempurna. Dan setahu saya juga, masih belum ada koordinasi yang baik antara conductor dan pemain2nya. Itu bisa dilihat dari jarangnya pemain melihat aba-aba dari sang conductor (kecuali pemain timpani dan hand cymbalnya ya!! Ndu, kita udah kompak, kita bikin band yuk. Hehe, just kidding), dan seolah-olah player asyik sendiri (jadi sebenernya mereka ini autis karena punya dunianya sendiri2. Heurey ah! Jgn dimasukin ke dalem hati ya!).

    3. Masalah judul sendiri, seperti yang ditertawakan oleh Bu Susi, saya juga mengetahuinya, Bu. Itu memang kekurangan kami dalam hal grammar Bahasa Inggris. Setelah acara tersebut usai, saya juga sudah sempat diberi komentar oleh salah satu teman saya dari Jurusan Bahasa Inggris. Kata dia, seharusnya tu klo mau pake kata ”of”, kata sebelum dan sesudahnya jangan kata sifat dua2nya. ”Loud” sendiri udah kata sifat, sedangkan ”harmonic” itu juga kata sifat, meskipun bisa juga kata benda. Jadi klo kata-kata itu digabungkan, otomatis akan jadi absurd. Saya juga sempet berpikir keras, apa ya kira-kira arti dari ”The Loud of Harmonic” ini, tapi tetep ga ”dapet” juga di benak saya. Toh salah saya juga, kenapa saya ga pernah mengusulkan nama yang lain. Hehe.

    Klo sebagai mahasiswa seni musik, ada 3 hal lagi yang pengen saya sampaikan :

    1. Masalah berpikir kritis atau tidak, saya juga memahami pertunjukkan musik seperti itu memang kurang bahkan tidak ”nyeni” namun unsur komersil sendiri lebih diutamakan seperti yang dikatakan oleh Bu Susi Gustina bahwa yang diutamakan dalam musik populer adalah kuantitas bukan kualitas, nah, di lain pihak, tinggal bagaimana sekarang dosen2 akan menggiring mahasiswa2nya ke arah yang nyeni atau komersil (?)

    2. Sejujurnya saya juga merasa kecewa terhadap salah satu dosen pembimbing mata kuliah ini yang tidak perlu disebutkan namanya (karena semua orang di sini pasti sudah mengetahuinya), karena segala proses yang telah kami kerjakan itu agaknya kurang didukung dengan segenap ilmunya sehingga mungkin hampir 90% hasil yang kita capai itu adalah hasil pikiran dan keringat kami sendiri dengan dibantu oleh salah satu CV yang cukup terkenal (terima kasih sebesar-besarnya buat Pak Wawan atas ilmu-ilmu tentang Event Management yang diberikan kepada kami secara cuma-cuma).
    3. Dan pada akhirnya yang saya sadari, tujuan akhir dari mata kuliah manajemen pertunjukkan ini baik mau membuat pergelaran musik yang ”nyeni” ataupun membuat pergelaran musik populer, or whatever, yang terpenting adalah kita jadi belajar bagaimana memanejemen sebuah pertunjukan dan belajar berkoordinasi satu sama lain dengan baik. Masalah kita mahasiswa atau bukan, menuntut sikap yang kritis atau tidak, biarlah itu menjadi masukan buat kita semua angkatan 2005 termasuk saya juga dan tinggal bagaimana kita semua bisa saling menghargai perbedaan idealisme di antara kita.

    Akhir kata, saya merasa bangga bisa terlibat dalam acara itu, merasa bangga juga jadi angkatan 2005, merasa bangga juga jadi mahasiswa seni musik UPI sebab di sini saya bisa belajar banyak hal bukan hanya mempelajari musik saja tapi saya juga bisa mempelajari bagaimana mempertunjukkan musik dll. Terima kasih buat semua pihak yang mendukung acara, yang tidak mendukung dan termasuk para kritikus sekalian yang menyempurnakan acara ini. Ga sempurna klo ga ada kritik. Kritik itu sama aja kayak kripik : makan enak klo pake kripik, begitu juga pertunjukkan juga enak klo ada kritik. GBU all.

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Februari 11, 2009 at 11:03

      yes!!! itu namanya mahasiswa, lain kali kalau kontrak kuliah dengan saya pasti saya kasih nilai A he…he…he…
      catatan untuk viki: kutipan yang anda tulis dari bukunya Suka Hardjana, mohon dikaji lagi dan dibaca sampai selesai. Kritik yang dimaksud dalam kutipan tersebut adalah kritik musik yang terjadi oleh karena kesenjangan waktu, biasanya terjadi dalam pertunjukan musik kontemporer. Namun “The Loud of Harmnic adalah pertunjukan yang menjadi isu. Tapi kalau tidak dikritisi isu tersebut tidak akan muncul ke permukaan. Thanks banget buat Viki, anda sudah berbicara di jalan yang tengah seperti pepatah “masih ada jalan tengah menuju roma”. Kritik saya itu telah terjawab oleh Viki. sekarang saya baru bisa bilang ….Sukses untuk Viki!
      kalau setuju bagaimana kalau setiap ada pertunjukan atau peristiwa yang berhubungan dengan musik kita buat buletin, agar setiap peristiwa kesenian itu dapat dimaknai oleh kita semua. Gimana setuju?????????
      Dan saya berharap anda-anda yang mengunjungi blog saya ini tidak hanya berhenti berdiskusi mengenai konser “The Loud Of Harmonic”, akan tetapi topik-topik lain hingga memperluas wacana kita. Kalau ada yang mau nyumbang artikel dan belum punya blog boleh numpang di blog saya ini.
      Bagi para dosen yang ingin memberikan kontribusi buat masyarakat musik di Indonesia, saya bersedia membuatkan blog dan mengupload file-filenya. gratis lho dan ikhlas…..

      Balas

  20. terimakasih bnyk atas saran & kritiknya,
    itu semua akan jadi acuan kami agar selalu tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah d capai sehingga kedepannya kita(kalo bisa sih tong kita hungkul,tp seluruh pelaku seni,prodi musik khususna)bisa berbuat yg lebih baik lagi k depanya.
    semoga kami adalah orang2 yang sukses yg dalam perjalananya selalu kontroversial & menuai kritik dari sana-sini(baik ataupun buruk).da banyak kritikan tiditu-tidieu mana kitu ge acara 2005 kamari teh kurang-kurangna mah sukses,mun henteu mah naon kacape2 repot2 mengomentari mengkritisi mencari2 keslahan dr acr kmrn?nya intinamah hatur nuhun pisan yg sbsr2na atas saran & kritikna,berarti the loud of harmonic teh sukses,klo beres acara orang2 batur ti’is2 berarti kamari teu sukses.kitu panginten nya?hatur nuhun sukses selalu buat semua.mangga..wass…

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Februari 11, 2009 at 11:23

      indro yang ‘baik hati dan tidak sombong’….. saya tidak pernah menyalahkan event ini. kritik itu adalah sebuah penilaian sebagai tanda penghargaan yang setinggi-tingginya. Yang perlu dicatat bersama bahwa tujuan pertunjukan itu bukan mencari sukses!, walaupun sebenarnya sukses dalam hal apa? apakah seninya atau keuntungannya? sebagai pelaku atau pendidik seni sepatutnya adalah mencari makna dibalik peristiwa itu. Agar apa yang kita lakukan, kita kerjakan dan kita pikirkan, baik sebagai pelaku pertunjukan maupun apresiator dapat bermanfaat untuk kemajuan kita semua. Amin…..

      Balas

  21. Posted by hery udo on Februari 11, 2009 at 13:11

    Bung iwan..ternyata akibat tulisanmu telah membuka mata kita semua bahwasanya mahasiswa kita ternyata pandai dan berbakat dalam menulis ya,coba kita lihat tulisan dik johan nampaknya bagus kalau ia menulis semacam puisi atau novel dikemudian hari he.he..susah lho mengembangkan kerangka pikiran dalam tulisan
    “menulis itu seperti berimprovisasi dalam musik jazz, kita diberi kemerdekaan akan tetapi kita dibatasi oleh bentuk musik jazz itu sendiri”.
    sama halnya ketika kita menanam sesuatu di sebidang tanah kita bisa menanam tanaman sejenis atau bermacam-macam tinggal kita berfikir tentang fungsi dan manfaatnya saja…sederhana toh.

    Balas

  22. Posted by uchyl on Februari 11, 2009 at 13:53

    buat bapa harry (pa rumput melambai)

    aduh,, hatur nuhun pisan pa rumput. (hehehe….) ya mungkin saya juga harus berunding dulu sama anak2,, supaya kita punya harga diri…

    terimakasih banget.

    Balas

  23. Posted by uchyl on Februari 11, 2009 at 14:08

    buat pa iwan

    hatur nuhun pa, mungkin memang saya mengajukan pertanyaan yang bukan seharusnya saya tanyakan ke bapa. (he.. he.. he… jadi mlau ah..)

    Balas

  24. Posted by dian_UNPAD on Februari 11, 2009 at 14:39

    saya Dian Agustinus. Kebetulan punya adik ipar yang kuliah di UPI jurusan seniRupa. kemaren main ke prodiMusik Upi (pura-purana kang iwan nya..) dan saya liat di mading prodiMusiknya ada artikel untuk argumentasi ini, Dan kebetulan pula saya nonton pertunjukan itu. saya yang awam musik mau berkomentar tanpa referensi. tanpa Henry Virgan (penempel) mungkin impian kang iwan tidak akan terwujud.haha. ide kang iwan membuat blog ini sangat cemerlang, tapi menurut saya, waktu pembuatan komentar anda yang kurang tepat, anda membuat argumentasi yang disaat pikiran penyelenggara masih tersimpan memori2 pada waktu proses latihan yang mungkin masih hangat tersimpan baik di otak mereka. memang untuk pembelajaran dari sisi Kritisius (eh, ke_kritis_an teh naon bahasa ilmiah na kang?(hehe maklum baru semester 1)) itu bagus, bahkan bagus sekali. tapi melihat kondisi penyelenggara yang masih merasakan segala hal (suka duka) dari penyelenggaraan acara tersebut, saya rasa kang iwan kurang tepat untuk bisa leluasa mengemukakan segalanya kepada publik (sebenarnya Henry yang menempel).
    saya merasa iba kalau dalam satu jurusan terdapat suatu kerenggangan2 silaturahmi. karena mau tak mau para penyelenggara merasa marah, gondok, sakit hati setelah membaca tulisan kang iwan. karena mereka dengan susah payah membuat acara tersebut. (masih pararusinglah mereun)

    Balas

  25. Posted by Violaputra on Februari 11, 2009 at 15:10

    Hidup Orkestra Bumi Siliwangi.. Hidup Ensemble Kyai Fatahillah.. Hidup 2002.. Hidup UPI

    Balas

  26. Posted by Arromme on Februari 11, 2009 at 16:21

    di dalam diskusi ini tidak akan menambah jurang pemisah dan mengurangi keharmonisan antara keduabelah pihak …..

    justru dalam blog ini merupakan ajang silaturahmi yang LOUD and HARMONIC ….

    saya bosen tiap hari kita saling bertemu basa-basi “oy…. arromme kumaha damang…?” atau ” yo wats up DIJEeeeeeeee kamana wae….?” tapi setelah melihat bacaan ini saya terharu…. saya senang…. selain basa-basi ada diskusi yang berguna untuk kita…..

    ini baru LOUD and HARMONIC brur…….

    ada yang merasa TERTINDAS/HINA di kritik ?

    ini belum seberapa….anda lihat FORUM AKI (Asosiasi Komponis Indonesia)… “maaf bukan membanding-bandingkan ya….asal tahu saja….” dimana teman saya Andreas dari Seni Musik UPH bertanya kepada Pak Slamet tentang Komposisi…. malah di hina “dalam tanda kutip” oleh Pak Dieter tentang pertanyaan tersebut dan di olok-olok oleh Pak Slamet dan Pak Dieter dengan bahasa yang mungkin bisa di bilang sakit hati dan agak seronok “….cium Slamet dan di balas….cium Dieter…..” uih gila banget dah…..!!!! dan satu pertanyaan itu menjadi masalah yang polemik di antara komponis Indonesia saat itu….

    tapi Andreas merasa bangga karena pertanyaannya jadi perhatian komposer kelas dunia BO…..!!!

    saya juga pernah berkomentar pada AKI FORUM….apa yang terjadi…?? Saya di MAKI-MAKI oleh salah seorang komposer Indonesia….

    tapi klo saya pribadi menghadapi komentar seperti itu, bukan HATI yang bicara tapi OTAK yang bicara…. klo pake HATI yang ada hanya sakit hati dan merasa terTINDAS…. tapi kalo OTAK yang bicara, seluruh tubuh bergerak melawan kritikan dan membuktikan melalui repertoar KARYA-KARYA….

    jangan sakit hati….ini semua adalah perhatian bagaimana layaknya seperti SAUDARA/DULUR/BRUR/BARAYA/BROTHER/FAMILY klo anda sakit hati, maaf mungkin anda bukan bagian dalam THE BIG FAMILLY OF eLBe…. SENI MUSIK…. dan kampus tercinta kita yang Syahdu Wangi Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia The One Only…. Leading and Outstanding University…..

    PISS….

    Arromme Van Hoeken seni musik 2004 NIM 045237

    Balas

  27. Posted by onesgamelan on Februari 11, 2009 at 16:33

    mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada robi dan arie pratama, saya tidak mem-postkan komentar anda, saya khawatir ini akan jadi debat kusir dan lebih memicu pertengkaran, apakah seniman rock demikian? selalu emosional? karena tujuan saya menulis kritik ini bukan mencari siapa yang lebih jago! coba pikir secara jernih. anda boleh tersinggung tapi bagaimana kita dapat menuangkan ketersinggungan anda dengan cara penyampaian yang tidak melulu “negatif” dan ingat sebagai mahasiswa menyampaikan pendapat harus mempunyai referensi! dan hal itu tidak berarti bicara dibawah ketiak seseorang (karena kebetulan anda lebih meyakini the beatles daripada suka harjana yang tidak anda kenal). Demikian juga saya ucapkan terima kasih setulus-tulusnya telah diberitahu tentang asal muasal musik rock (saya mohon ijin koreksi artikelnya ya….). ingat bahwa kritik saya lebih tertuju pada fenomena sosiologis dan cara interpretasi pemain bukan pada musik rock itu sendiri! Coba anda kaji kembali dengan kepala dingin artikel saya itu. selalu ada sisi positif dan sisi negatif tapi semuanya diuraikan secara komprehensif. Dan sebenarnya tidak usah berkepanjangan, toh pelakunya sudah menyadarinya sendiri (lihat pernyataan viki). bila penasaran kita bisa berdiskusi secara langsung, terutama untuk robi yang nantang adu keterampilan bermain musik! (lho kok saya jadi ikut-ikutan emosional he…he…he)

    Balas

  28. Posted by Setya Arie Pratama on Februari 11, 2009 at 16:34

    Iwan Gunawan says “..Sementara itu musik rock lahir di Amerika sekitar tahun 60-an..”

    Bro, musik Rock itu lahir di Inggris. Lihat bagaimana The Beatles menginisiasi British Invasion, dilanjutkan dengan Band “Lidah-melet” The Rolling Stone yang banyak digandrungi oleh manusia di zaman itu bahkan hingga sekarang, Lalu Led Zeppelin dengan Stairway to Heavennya yang banyak disebut media sebagai Band Rock Sepanjang masa, Black Sabbath dengan sang vokalis “gila”nya yang besar di tanah Paman Sam juga sebetulnya terbentuk di Inggris, Deep Purple, Pink Floyd, Iron Maiden, U2, mereka semua adalah dari daratan British yang sama sekali tidak menyatu dengan daratan Amerika. So, musik rock memang identik dengan Amerika, itu boleh lah, tapi awal pergerakan musik rock itu adalah dari Inggris.

    Membahas tentang “Latah”. Banyak orang bilang jika latah itu adalah sebuah gangguan psikologis which is itu bisa aja benar walaupun tidak sepenuhnya benar. Latah itu adalah PILIHAN seseorang untuk mendapatkan afirmasi, validasi, dan juga atensi dari orang sekitarnya karena ia merasa tidak memiliki sebuah social value yang bisa dibanggakan. Coba Lihat saja bagaimana seorang teman kita yang memiliki kebiasaan tolol itu. Ada dari kita yang merasa prihatin dengan kelakuan latah itu, ada juga yang malah semakin senang dengan si latah itu dengan cara mengolok-olok, menertawakan, dan mengagetkan si latah dengan hal-hal yang secara otomatis terekam langsung ke alam bawah sadarnya seperti :

    A : “DARRR!!!!” dengan gaya yang mengagetkan

    B (si latah) : “eeeh!!! konci lu!!! konci Lu!!!” gaya SOK kaget

    itu adalah cara yang terbaik untuk meng-amplify kelatahan si orang itu. Lalu, apakah si latah itu marah ketika ia menjadi badut pertunjukan teman-temannya? tidak.. kebanyakn dari mereka justru merasa senang, walaupun di mulut ia berkata “udah deh! jangan ganggu mulu napa?!” tapi Sub-conscious mindnya berkata “yess, gue jadi perhatian orang-orang”
    Jadi sebetulnya latah itu adalah sebuah pilihan yang menjadi hal yang adiktif bagi si pecandu “latahnya”. BUKAN PENYAKIT!!
    Si pecandu latah akan merasa kehilangan perhatian dari dunia sekitar bila dia menghentikan kebiasaan latahnya itu.

    Oke, sekarang saya bisa merasakan gumaman orang-orang yang berkata “trus, maksut lo?” atau “plis deh, hubungannya ama topik ini?”

    Well, di beberapa komen di atas sana banyak sekali yang menyebut kata latah, entah itu latah terhadap konsep yang sudah pernah terjadi atau latah terhadap dunia populis, dan sebagainya apalah itu!

    oke, itu bisa di sebut latah, bisa juga tidak.

    Bila Iwan Gunawan mengatakan mereka (para Loud of Harmonic Squad) latah terhadap dunia pop, itu adalah karena Iwan hidup di dunia yang berbeda dan pernah berada di dunia yang sama. Secara halus Iwan mengatakan pada mereka “aah, itu basi! coba bikin yang baru dong! yang lebih apresiatif sama budaya tanah air!”, bukan? well, langkah yang cukup bagus untuk menggampar mereka.

    Itu adalah yang saya lakukan terhadap salah satu teman lelaki saya yang latah, dengan cara menggamparnya keras-keras! dan setelah itu ia berjanji untuk menghentikan kebiasaan latahnya itu.

    Tapi bro, pernah membayangkan gak, jika anda ada di posisi mereka yang hidup di dunia populer, terkena media exposure yang setiap detiknya berisi dengan dunia seperti itu, hidup di tengah masyarakat yang popular minded ? Pasti ada sebuah kemungkinan _ulangi_ kemungkinan anda melakukan hal yang sama dengan mereka. Well, itulah Matriks Sosial yang terjadi di Negara kita ini. Lalu anda berkata TIDAK!? nice, berarti anda adalah salah satu dari sekian orang yang berani keluar dari matriks tersebut dan mau di beri label “pemberontak” oleh para populis.

    Ada juga Arrome yang berkata bahwa si Loud of Harmonic Squad latah terhadap konsep dari angkatan sebelumnya. Okay. Pernah berpikir atau melihat dari sudut pandang yang lain belum, bro? Bagaimana dengan pemikiran ini?

    “Para Loud of Harmonic Squad adalah orang-orang yang begitu menghargai konsep yang pernah dibuat oleh angkatan yang sebelumnya dan berniat untuk meneruskan jejak langkah yang pernah dibuat dengan semangat yang sama yaitu Bermain musik”

    Simple and Positive!

    Bila tidak pernah berpikir seperti itu, coba deh! mungkin impresi latah terhadap angkatan yang sebelumnya itu terganti dengan sebuah pemikiran yang baru tadi. Bila masih tidak saja terganti? Berarti ada sebuah pesan personal di alam bawah sadar anda yang berkata

    “ANJIRRR, KONSEPNA MENYERUPAI JIGA KONSEP ANGKATAN AING, TAPI LEUWIH HADE EUY! SIRIK AING…..”

    dan dari pesan personal alam bawah sadar itulah anda langsung membuat pesan-pesan lain di alam sadar anda yang memperkuat alasan ke-iri-an anda pada mereka. seperti “jah, inimah mahasiswa yang tidak berpendirian dan suka menjilat dosen…bla…bla…bla” dan sebagainya.

    Sekarang kita berbicara tentang pemain Orkestra di Indonesia tidak ada yang BAGUS. Berbicara tentang Musik berarti berbicara tentang budaya juga. Bila di Indonesia tidak ada pemain orkestra yang bagus, yaa wajar! wong, orkestra nya sendiri berasal dari eropa. Struktur alat, tehnik permainan, pola komposisi, dan sebagainya itu berkaitan erat dengan kebudayaan dan kehidupan di eropanya sendiri yang tidak terjadi di negara kita, so sangatlah wajar bila Pemain Orkestra di Indonesia tidak sebagus di eropa. Lalu ketika melihat pera pemain orkestra yang sangat bagus yang berasal dari eropa, saya sebagai orang yang juga mempelajari ilmu budaya sedikitpun tidak kaget ataupun tercengang. karena itu adalah sesuatu yang sifatnya “pasti”. justru saya malah kaget dan aka tercengang setengah mampus bila ada orang eropa yang memainkan gamelan bali dengan sempurna atau istilah kerennya “Bali Banget!!”. Maka dari itu bila ingin mencari pemain orkestra yang bagus, bukan di sini tempatnya, pergilah ke eropa sana…

    Sedikit menyinggung masalah istilah symphony orchestra, Iwan Gunawan yang seakan-akan bersembunyi di balik ketiak Suka Hardjana, mengutarakan pengetahuannya tentang “musik simfoni” yang menurutnya pada judul acara ini berupa sebuah jenis komposisi musik. Padahal kata symphony orchestra di sini berada pada konteks instrumentasi, seperti halnya pada istilah philharmonic. Dari sisi lain OsBS sendiri sama sekali jauh dari makna symphony orchestra. Dengan squad alat tiup yang kurang jumlahnya. Dapat terlihat jelas pada woodwind section yang hanya memiliki 1 fagot, 1 oboe, dan 1 clarinet. Kemudian adanya instrumen alto dan tenor saxophone yang sebetulnya tidak perlu ikut-ikutan meskipun mungkin menurut arranger timbrenya sangat cocok untuk musik rock. Terlepas dari masalah kemungkinan kurangnya pemain atau apalah itu, saya bahkan tidak peduli. Saya melihat pemakaian istilah symphony oleh konseptor acara ini terkesan sembrono dan ingin mengimpresi orang dengan istilah yang “Sok Keren”. Maka, bila ingin terkesan benar sebaiknya hilangkan kata symphony agar tidak terjadi perdebatan.

    Bila melihat ketika pertunjukan Loud of Harmonic kemarin, saya tidak merasa merasa bahwa pemain orkestra bumi siliwangi ini kurang persiapan, karena saya yakin mereka tidak akan main-main dengan event mereka sendiri. Yang saya lihat adalah Kapabilitas serta kapasitas para pemain tidak cukup baik, saya tidak menyalahkan para pemainnya.

    Yang saya salahkan ada 2 yaitu,

    1.mentalitas pemainnya

    2.GURUNYA

    Mental para pemain OsBS saya bilang lemah, terbukti saat Loud of Harmonic di mulai dengan opening theme-nya yang di mainkan kurang maksimal, masih ada saja pemain yang terpisah dari satuan suara orkestra, biasanya dikarenakan nervous yang sedikit tak terkendali, atau ada beberapa diantara mereka yang newbie dengan bermain orkestra. Lalu bagaimana caranya agar memiliki mentalitas pemain orkestra yang bagus? berproseslah! “segala sesuatu adalah proses. segala seuatu yang bukan proses adalah mati, sekalipun seseorang harus mati terlabihdulu untuk memulai sebuah proses” -Lex dePraxis.

    Walaupun sebetulnya di pertunjukan itu ada faktor Sound yang orang awam bilang udah keren, tapi saya bilang masih belum keren yang berimbas kepada permainan para pemain, tapi tidak terlalu berarti.

    Lalu, kenapa gurunya ikut disalahkan?

    Buat saya, menjadi guru itu memiliki sebuah tanggung jawab yang sangat BESAR. Manakala muridnya menjadi murid yang tidak sesuai harapan gurunya (baca : bodoh), itu adalah tanggung jawab gurunya yang boleh saya bilang “tidak becus mengajar”. Ini memang belajar musik, tapi saya yakin belajar musikpun butuh suatu kedisiplinan yang luar biasa. Seorang guru Samurai di jepang memiliki murid, lalu ketika muridnya itu telah menjadi seorang samurai, si murid mempergunakan ilmu samurai itu untuk menindas orang lain dan kejahatan-kejahatan lainnya. Maka Sang guru samurai memiliki tanggung jawab untuk membunuh si muridnya itu atau untuk menebus rasa malu karena merasa tidak becus mendidik, si guru harus mekakukan ritual Harakiri sebagai etika seorang samurai (baca : bunuh diri). Atau kita ambil contoh sebuah tim sepakbola, manakala seorang pelatih melatih sebuah kesebelasan dan tim yang ia latih selalu kalah atau melakukan sebuah kekalahan yang menyebebkan timnya itu jatuh, maka sudah sepantasnya pelatih itu di pecat dan diganti dengan pelatih yang lebih layak.

    Saya sedikit membaca komen yang kurang lebih berisi tentang mahasiswa bisa memecat dosen yang tidak layak. Well, for your own good, why don’t you do it?!

    Lah, mungkin sebagai pendidik berseru, “yaa, suruh siapa bodoh!? saya gak pernah tuh nyuruh mereka jadi bodoh!”

    haha, itulah tanggung jawab BESAR seorang pendidik, pasti anda tidak mau kan murid anda bodoh?

    Semuanya dimulai dari diri sendiri, kalo kata para orang bijak.

    jika suka mengritik, berarti harus mau dikritik juga.

    Tatanan suara yang dihasilkan oleh pemain orkestra adalah tanggung jawab dari sang Conductor.

    Saya melihat Conductor “plus” Arranger OSBS di acara Loud Of Harmonic seperti seorang anak kecil yang dibelikan mainan “baru” oleh ayahnya. Aldi Nada Permana, boleh saja di acungi jempol karena kebrilianannya dalam meng-compose karya di umurnya yang masih belia. Tapi buat saya ia sedang memainkan mainan yang sebetulnya sudah basi dengan gaya-gaya harmoni multi-tonenya ataupun fourth voicing yang biasa diaplikasikan di piano kemudian malah diterapkan di string section (yang menurut saya sudah sangat ketinggalan) itu. Saya bisa melihat ia terlalu enjoy dengan mainan barunya itu, saking menikmatinya ia tidak memikirkan bahwa sebetulnya struktur komposisinya malah membuat sebuah seruan dari hati para atau beberapa pemain orkestranya yang bermental lemah berbunyi “aadduuuhh, pliss deh, aransemen lu itu menyusahkan gue..”

    Dengan kata lain, gak ada yang istimewa buat saya dengan sang Arranger. yang ada, saya hanya memaklumi, bahwa dia sedang menikmati masa kekanakannya dengan mainan baru yang padahal basi itu. Nanti juga dia akan menemukan sendiri, bahwa mainannya sudah usang dan menemukan sendiri apa yang tidak basi.

    Selain itu, semangat kapitalisme di negara kita yang sebetulnya bukan negara kapitalis sudah semakin mewabah, jadi bila ada sebuah embel-embel bisnis di dalam sebuah pertunjukan, itu adalah hal yang biasa. Selama ini kita banyak hidup dengan orang-orang yang demikian, jadi aplikasi kapitalisme di sekitar kita sudah menjadi hal-hal yang biasa.

    saya tidak mau membahas lebih banyak tentang ini, karena dari komen Susi Gustina di atas sudah mewakili dan mungkin ia memiliki jiwa dan semangat kapitalis.

    Bila ada yang bilang kritik adalah bentuk penghargaan yang setinggi-tingginya, bagi saya kritik itu adalah hal yang terlalu biasa. saya lebih suka menjatuhkan orang, supaya orang itu tahu bagaimana caranya untuk bangkit.

    Sering Jatuh,

    Balas

  29. dear para pengkritisi
    orientasi sukses tak selalu mengarah pada “sukses,banyak penonton,tiket laku,aplause penonton yg meriah dsb dsb”
    tetapi lbh dari itu kami merasa sukses krn bnyk pihak2 yg perhatian peduli care(sami mawon)terhadap tmn2 ’05 trlepas ataupun terkait dari acara kmrn,syh merasa tersanjung krn kami saat ini sedang hangat2nya mnjadi buah bibir,menjadi bhsn/prdebatan para cendikiawan2 pjuang2 pemikir2 seni yg luar biasa bukan orang2 sembarangan,dan pasti segala sesuatu yg sudah tertuang dlm blog ini akan selau menjadi motivasi utk kami untuk berbuat yg lbh baik lg kedepanya dlm sgl hal(seni khususnya)trimakasih atas segala bentuk perhatianya.semoga dgn adanya blog ini dgn segala yg telah tertuang d dlmnya dapat mencerdaskan membuka mata hati & fikiran kita kita semua.semoga tak berhenti sampai disini.terus berjuang,hidup para pelaku seni….

    Balas

  30. Posted by Arromme on Februari 11, 2009 at 16:42

    untuk de Ipan Permana sama sama ya…. Kak Harry cman mau adik adiknya lebih bagus lagi dari kakak kakanya, ambil yang baiknya, buang yang jeleknya…. itu saja…. perjalanan mu masih panjang nak…. teruskanlah buktikan dengan karya karyamu….

    Balas

  31. Posted by Setya Arie Pratama on Februari 11, 2009 at 16:47

    maaf mas Iwan Gunawan
    saya bukan bermaksud untuk memperburuk perdebatan dalam forum ini. Dan saya juga bukan seniman rock. Saya di sini sebagai orang asing yang mengapresiasi pertunjukan tersebut, dan sama sekali tidak bermaksud buruk, tolong posting saya ditampilkan, agar semuanya saling mengoreksi diri.
    Seperti yang saya katakan, daripada mengeritik saya lebih suka “menjatuhkan” orang supaya orang itu tahu bagaimana caranya untuk BANGKIT…

    Terima kasih untuk menampilkan posting saya yang sebelumnya.

    Setya

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Februari 11, 2009 at 17:07

      ok bro, saya kira anda mahasiswa UPI.
      Sebagai suatu kehormatan ada pengunjung dari luar. walau bagi saya komentarnya tidak jadi masalah
      tapi buat teman2 mahasiswa disini tolong komentar ini respon secara positif. sebenarnya saya mau merespon komentar anda
      tapi besok aja yah, soalnya sudah nguantuk tuh…. eh makasih info tentang asal muasal rock, setelah saya baca sejarahnya anda memang benar,
      sorry kurang teliti, soalnya dulu waktu nulis agak kurang konsentrasi gitu lho……

      Balas

  32. Posted by Arromme on Februari 11, 2009 at 16:50

    Untuk teman-teman, dulur-dulur yang interest di bidang Musik Digital, saya sedang menulis artikel tentang oprasional sistem Keyswitch pada software Kontakt 3 ……. mohon komentarnya….

    silahkan buka di FORUM MUSIK DIGITAL

    http://www.onesgamelan.wordpress.com

    Balas

  33. wow! GILA..GILA..GILA!

    ini sumpah keren abiss! gw nemu blog ini lewat search engine dengan keyword loud of harmonic, eh ketemulah blog ini dengan tulisan yang amat bagus dan kontroversial. Haha, gw suka yg kayak gini neh..
    jadi nambah wawasan gitu lah..

    btw, kalo baca komennya mantaff-mantaff, ada yang memberikan komplimen, counter critic, curhat, confession, debat, hingga nampaknya ada yang multi-knowledge.

    @kang iwan,

    tulisannya mantaff!
    di link boleh ya, buat tulisan di blog gw, kang.

    Balas

  34. Posted by onesgamelan on Februari 11, 2009 at 18:20

    Menyimak komentarnya setya arie pratama (sahabat saya, walau baru bertemu di dunia maya)sangatlah indah. akan tetapi ada beberapa yang ingin saya luruskan (bukan pembelaan)sehubungan dengan pernyataannya. Persoalan latah memang untuk dunia musik populer sudah bukan masalah bahkan menjadi tujuan. Jadi pada prinsipnya saya menawarkan kepada musisi2 muda seperti anda katakan agar keluar dari matriks sosial itu.Karena saya yakin “latah” itu sangat mempengaruhi tersumbatnya kreatifitas untuk melangkah ke depan. Jika anda menyebut saya ini “pemberontak” kaum populis, dengan secara tegas saya katakan ya! tapi tidak berarti saya menolak musik populer. Saya pun sering membuat musik-musik populer (pop, Rock, jazz dll) akan tetapi bagi saya pekerjaan itu adalah kerajinan bukan kesenian. Namun demikian, apakah semua musik populer tidak kreatif? tentu saja tidak. banyak karya-karya musik populer yang sangat kreatif (coba anda dengar beberapa karyanya, John Zorn, frank Zappa atau beberapa karya guru saya Alm. Harry Roesli). akan tetapi karya-karya yang menurut saya kreatif itu tidak sepopuler musik pop lainnya. dengan alasan bla…bla…bla
    tentang kata symphony saya lebih percaya guru saya Suka Hardjana daripada anda, walaupun secara empirik saya tahu betul karena telah sering melihat langsung (terutama di eropa), secara etika saya memerlukan referensi tertulis dari seorang expert musik di Indonesia.
    Hal penting yang ingin saya sampaikan dalam artikel itu salah satunya adalah seperti yang anda tulis, “anda akan kaget setengah mampus bila ada orang eropa bermain gamelan bali dengan bagus”. Buat saya itu pengalaman nyata, bahkan saya belajar gamelan bali ke orang jerman! (lucu ya) yang menjadi iri saya adalah mengapa orang2 eropa itu dapat memainkan gamelan dengan kualitas permaianan yang standar bahkan melebihi standar di Indonesia? sebaliknya mengapa orang indonesia memainkan orkes symphony kagak kesampaian? dugaan sementara saya adalah perbedaannya adalah masalah mentalitas dan kerja keras. Karena sebenarnya saya adalah komponis dan pemain gamelan Sunda. Pengakuan itu saya pertanggungjawabkan secara lahir batin. akan tetapi saya belum sanggup disebut sebagai pemain piano sekalipun saya pernah memainkan karya-karya, Bach, Beethoven, bartok bahkan piano pop sekalipun yang secara musikal jauh lebh sederhana, oleh karena bagi saya musik yang saya mainkan itu merupakan produk budaya asing. Intinya apa yang saya pelajari tentang musik barat (sejarah, komposisi, repertoar dll) dijadikan sebagai referensi atau alat untuk mengembangkan serta memantapkan budaya sendiri. Oleh karena itulah saya sering dipercaya atau diundang ke luar negeri bukan karena kemampuan musik barat tapi kemampuan musik lokal. Akan tetapi bagaimana musik lokal ini akan dapat dikembangkan jika kita hanya sebagai “insider” saja.
    akhirnya pendapat anda dibunuh oleh pendapat anda sendiri. Anda menulis “wajarlah kalau di Indonesia ngga ada pemain orkes bagus” sementara anda hampir setengah mampus terkagum-kagum melihat orang eropa main gamelan bali bagus?! Hah.. anda nggak malu? berbicara masalah budaya, anda berada dibudaya mana? barangkali budaya anda ke-barat ngga ke timur ngga? dugaan saya anda mungkin asing atau tidak begitu memahami tentang berbagai macam kekayaan musik lokal (sunda), sementara anda sangat tahu banyak tentang musik rock di Inggris? inikan ironis “seperti perselingkuhan yang tertangkap basah”. apakah karena latar belakang budaya anda ngga jelas sehingga anda menyebutnya sebagai orang yang “sering jatuh” dan selalu menjatuhkan orang!

    Balas

  35. Posted by onesgamelan on Februari 11, 2009 at 18:30

    buat lafagreen, terima kasih banyak telah mengunjungi blog saya, dengan senang hati silahkan link……

    Balas

  36. Posted by onesgamelan on Februari 12, 2009 at 02:14

    hey! teman-teman semua yang ikut komentar di blog ini,tolong hal ini jangan dibawa pada persoalan pribadi!
    ini bukan ajang curhat. Ini sekedar latihan agar aspirasi yang kita punya tidak selalu harus dituangkan dengan kekerasan.
    Jangan sampai segala sesuatunya diselesaikan dengan jalan yang emosional seperti peristiwa tawuran antar anak SMA, demo mahasiswa yang anarkis dan lain-lain. Saya harap blog ini menjadi sarana yang edukatif. Sekali lagi kritik kita bukan pada penyelenggaran konser itu apalagi pada musik rock. Tolong baca lagi artikel saya. ambillah hikmah dibalik peristiwa ini. analoginya,jika kita memakai baju hitam dan kemudian orang mengatakan baju anda putih, maka sampaikanlah secara etis kepada orang itu bahwa baju anda itu hitam. Tapi setelah anda lihat lagi ternyata anda sadar bahwa memang benar baju anda putih, anda harus mengakuinya dengan berbesar hati. itulah kesuksesan yang sesungguhnya!.

    Balas

  37. Enry Johan Jaohari
    yang tetap bangga menjadi ANGKATAN 2005
    dan tetap bangga menjadi penggiat “The Loud of Harmonic

    Sebenarnya, apa yang bapak Iwan Gunawan katakan tentang status tulisan saya adalah tepat (bapak Iwan Gunawan : “Saya harap blog ini bukan ajang “curhat”…), tulisan saya lebih pantas disebut curahan hati (curhat) dari pada “ajang adu argumentasi untuk melihat fenomena musik secara komprehensif dan ilmiah”, seperti yang bapak Iwan Gunawan katakan sebelumnya.

    Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa curhat tersebut adalah pangkal dari segala pangkal yang akan menjadi calon penyebab. Tidak etis apabila masyarakat umum (pembaca blog ini) hanya mengetahui kegagalan “The Loud of Harmonic” dari beberapa komentar yang hanya menjelaskan secara teknis, dan hanya mendasarkan pada calon penyebab tersebut, tanpa menyinggung sedikitpun beberapa hal yang mungkin bisa disebut “BIANG KEROK” atau apabila diperhalus menjadi “penyebab dasar”.

    Beberapa pihak mungkin keberatan jika saya harus mengutarakan “penyebab dasar” tersebut, namun saya juga yakin tidak sedikit pihak-pihak yang mendukung saya untuk mengutarakan “penyebab dasar” tersebut. (terserah anda berada di pihak mana… yang pasti, saya menyarankan lebih baik menjadi insan terhimpit daripada menjadi bagian dari salah satu dinding yang sedang bergetar tak karuan itu).

    Bilamana pembaca meneliti tulisan saya yang pertama (catatan : dengan kata redaksi ASLI, karena apabila sudah mengalami perubahan (satu huruf pun) hal itu diluar tanggung jawab saya sebagai penulis) dengan seksama, kalian akan seperti dituntun ke dalam sebuah kisah kjelimetan yang sedang terjadi di rumah “kami”. Memang saya tidak dilahirkan sebelum bapak Iwan Gunawan, mas Henry Virgan, bang Hery Supiarza, ibu Susi Gustina, bapak Bambang Jasnanto, dan a Sandie Gunara, tetapi saya (ataupun pihak lain yang merasa seperti saya) tidak ketinggalan terhadap apa-apa yang telah dan sedang terjadi di “rumah kita” ini. Namun, saya memiliki batasan dalam kegiatan merangkai kata ini, saya tahu mana yang pantas menjadi objek lihat publik dan mana yang tabu untuk dijadikan sebagai pajangan di muka umum.

    Apabila seorang mahasiswa yang pernah mengontrak mata kuliah komposisi III seperti saya ini sadar mana yang pantas dan mana yang tidak pantas, atau kritik pedas mana yang harus disertai penjelasan dan kritik pedas mana yang tidak perlu penjelasan apalagi komposer yang telah mementaskan beberapa repertoir karya sendiri seperti anda ini yang memang telah “lebih awal” tahu banyak.

    Komentar ANDA terhadap OsBS menurut saya kurang PERTANGGUNGJAWABAN, hal itu didasarkan apabila posisi anda saat ini sebagai salah satu dosen di Prodi Seni Musik UPI atau sebagai arranger yang salah satu aransemennya pernah dimainkan oleh OsBS (entah anda merasa puas atau tidak, yang pasti saya sebagai salah seorang yang memainkan aransemen tersebut, merasa beruntung sekali bisa memainkan aransemen dari arranger hebat seperti anda dengan penuh kesadaran dan tidak disertai dengan menurunnya mentalitas pribadi).

    komentar dari bapak Iwan Gunawan :
    “Pertama-tama saya meragukan kualitas permainan orkestranya, dan ternyata memang bagi saya interpretasi musik pemain orkes kurang persiapan alias tidak memadai. Keraguan saya ini sebenarnya bukan hanya untuk kualitas permainan Orkes Bumi Siliwangi saja yang baru berdiri mulai tahun 2002, akan tetapi untuk sebagaian besar grup orkes di Indonesia.”

    Sambut balik dari saya :
    Bapak Iwan Gunawan tidak menjelaskan latar belakang sebenarnya, kenapa Dia ragu akan kualitas tersebut ? (latarbelakang “sebenarnya” tersebut adalah hal intern yang sangat bapak Iwan Gunawan ketahui sendiri sebagai salah satu “penggiat” musik orkes di lingkungan Prodi Seni Musik UPI).
    Yang saya lihat seakan-akan Dia adalah “orang lain” yang berdomisili di tengah-tengah kumpulan pemain orkestra dari kota “Berlin” (seperti yang ditulisnya sendiri : “…Apa lagi jika saya mengingat lagi pengalaman pada saat saya diundang dalam sebuah festival musik gamelan di Berlin, pada saat itu saya memiliki kesempatan untuk menonton latihan sebuah grup orkes di salah satu stasiun radio di Berlin Jerman. Luar biasa!, tak pernah saya menemukan kualitas permainan musik orkes yang sangat bagus seperti itu di Indonesia.”), atau salah satu pembelaan yang seakan-akan Dia ikut kecewa bersama bapak Idris Sardi (dalam tulisannya : …Pada intinya Pak Idris kecewa akan kualitas serta mentalitas pemain orkes di Indonesia…).

    Apabila keterangan diatas yang akan dijadikannya alasan untuk “pertanggungjawaban” dari pertanyaan pertama, maka kurangpantaslah menurut saya sebagai perkataan dari seorang dosen UPI yang membandingkan sebuah grup orkes kampus dengan cakupan prodi di salah satu ibukota provinsi dengan grup orkes papan atas DUNIA, kemudian akan muncul pertanyaan buntut : dimana letak kritik membangunnya ? yang saya lihat adalah pembandingan dua hal yang sangat sangat sangat “jauh” dan memang kurang pantas untuk diposisikan sebagai perbandingan dan apabila dipaksakan untuk dibandingkan, yang terjadi mungkin “Hang” (meminjam bahasa komputer)?, karena kedua objek banding tersebut lebih pantas jika diposisikan sebagai objek contoh dan pecontoh, atau objek murid dan guru, atau objek tahapan belajar dan tingkat professional.
    Jadi alangkah bijaksananya bapak Iwan Gunawan apabila tidak serta merta membawa-bawa “grup orkes yang seperti di kota Berlin” itu dalam alasan keraguan anda terhadap kualitas permainan OsBS. Mungkin dan apabila tetap menyertakan hal itu, maka akan lebih-lebih bijaksana dengan menyertakan latarbelakang internnya seperti :

    Tanggapan anda tentang sumberdaya pengajar musik / instrumen orkes di UPI (dalam hal ini adalah : bapak Agus Firmansyah, bapak Juliandani Mustafa, bapak Hery Supiarza, bapak Henry Virgan ((meskipun beliau tidak tercatat resmi di mata kuliah yang berhubungan dengan instrument orkes, tetapi jasa dan perjuangan beliau merupakan kontribusi yang sangat berarti untuk OsBS)), dan beberapa orang yang mungkin telah ikut andil dalam berperan sebagai pengajar musik / instrumen orkes).

    Tanggapan anda tentang proses perkuliahan dan aplikasi dari materi-materi perkuliahan.

    Tanggapan anda tentang proses bimbingan para anggota OsBS dalam berlatih secara individu maupun secara kolompok.

    Tanggapan anda tentang bagaimana proses penanaman sebuah interpretasi sebuah materi yang disampaikan oleh berbagai pihak terhadap OsBS.

    Tanggapan anda tentang “dualisme” (atau mungkin “triolisme” atau mungkin juga “takterhingga-isme”) yang berlaku di OsBS ini, yang kemudian berdampak kepada lemahnya mentalitas para pemain Orkestra Bumi Siliwangi tercinta ini. (“mentalitas” yang sering disertakan dalam komentar-komentar para kritikus tanah air)

    Jika saya berpikir negatif, bisa saja saya menyangka bahwa anda akan menjawab : “saya bukan pengajar instrumen orkes, saya hanyalah pengajar piano dan komposisi dsb, dsb, oleh sebab itu saya kurang berhak untuk bertanggapan seperti yang Enry Johan Jaohari minta”

    Tapi, saya (Enry Johan Jaohari) percaya terhadap dedikasi anda (bapak Iwan Gunawan) sebagai salah satu dosen muda yang aktif dan bergairah serta peduli terhadap berbagai “gerakan”, anda pasti sedikit banyak mengetahui tentang hal-hal diatas. Dan alangkah mudahnya cernaan para pembaca apabila dihadapkan dengan berbagai alasan intern seperti itu, yang mungkin sedikit menimbulkan imej yang tidak baik terhadap diri “kita” sendiri, tetapi itulah yang saya anggap kritik membangun, dan bertanggung jawab dengan penuhnya penjelasan bapak Iwan Gunawan oleh hal-hal intern terlebih dahulu dan kemudian diteruskan dengan hal luar seperti “orkes dari kota Berlin” itu (yang memang diperdebatkan juga oleh beberapa komentator).

    Dan memang itu akan menjadi catatan tersendiri bagi para pelaku yang terlibat di OsBS, yang imbasnya terhadap kemajuan OsBS itu sendiri. Apakah itu bukan merupakan suatu kontribusi positif?

    Tambahan dari saya :
    Baik buruknya sebuah hasil yang tercipta dari suatu materi setiap repertoir adalah tanggungjawab conductor, apa mungkin juga bapak Iwan Gunawan merasa ragu karena hal tersebut? yang tidak lain sang conductor adalah dari mahasiswa yang sedang mengontrak mata kuliah manajemen pertunjukan?

    (maaf saya hanya meminjam tunggangan “cerita keraguan” ini untuk manggarap komentar-komentar yang kurang enak didengar yang tertuju pada conductor “The Loud of Harmonic”)

    Sebetulnya, Kami (mahasiswa 2005) dan saya pribadi telah meminta kesediaan seseorang yang telah menjadi figur yang disegani dan disenangi oleh sebagian besar bahkan seluruh anak-anak OsBS bahkan tidak menutup kemungkinan oleh semua mahasiswa musik dari berbagai angkatan untuk menjadi conductor dalam “The Loud of Harmonic”, tapi mungkin karena adanya “peraturan dari tatakrama” (penjelasan ada di tulisan saya yang pertama) yang beliau pegang (mungkin), kemudian beliau menganggap bahwa, tidak baik apabila kita terlalu jauh melangkah, sehigga takut terjadi hal-hal yang akan menimbulkan “kegelisahan”. Dan beliau juga beranggapan bahwa generasi yang lebih muda saja lah yang bergerak, jangan terus-terusan yang tua. Dengan susah payah saya meminta beliau untuk menjadi conductor, tetapi hasilnya nihil, tetap saja beliau tidak mau.

    Yang jadi mandeg dan selalu mengganjal dalam otak saya adalah : “MENGAPA HAL-HAL INTERN YANG TERCIPTA DIKALANGAN KALIAN SELALU BERIMBAS BURUK TERHADAP MAHASISWA…!!!”, saya beranggapan begitu karena, mungkin beliau juga tidak mau ambil pusing, karena apabila beliau meluluskan permintaan saya, maka para “tetua-tetua” yang merasa terinjak dan terlangkahi akan bergerak, dan mungkin juga hal itu akan mengancam kelangsungan kenyamanan beliau, dan saya sangat mengerti sekali terhadap hal ihwal tersebut.

    Kemudian para penggiat “The Loud of Harmonic” menunjuk sang arranger yang tidak lain adalah Aldi Nada Permana untuk menjadi conductor, karena dialah yang lebih tahu akan kemana aransemen musiknya dilajukan.

    Ketika dia dipercaya sebagai conductor, dia sangat berusaha untuk menyelamatkan kelangsungan pementasan kami, karena jujur saja, kami bisa dibilang bergerak “tanpa bantuan” dari “pihak luar” (dalam urusan aransemen dan komposisi musiknya), hal itu sangat terlihat dari perubahan sikap dia dalam memimpin OsBS, dari hari ke hari semakin dewasa, dan lebih mendalami arti sebuah kata “conduct” itu sendiri, dan dia memperlakukan OsBS tidak seperti “anak kecil yang dibelikan mainan baru” seperti yang saudara Setya Arie Pratama katakan, melainkan dalam pandangan saya dan mungkin dalam pandangan para pemain orkes, Aldi Nada Permana adalah sosok berani, berkemampuan multi, dan bertanggungjawab, dan sudah pasti bisa membawa OsBS ke arah yang ia akan tuju dengan rambu-rambu yang sudah ia pelajari, dan tidak ceroboh seperti yang anda (Setya Arie Pratama) kesankan dalam tulisan anda.

    Saya merasa digelitiki (sebenarnya ingin menulis : “jantung saya merasa digelitiki”) oleh anda yang berkomentar terhadap hal-hal teknis yang berhubungan dengan conductor, seperti yang dilontarkan oleh anda (Setya Arie Pratama) sendiri diatas (lihat sendiri komentarnya), menurut saya, komentar tersebut sangat tidak berlandaskan pada referensi-referensi yang memang harus disertakan, jikalau anda ingin mengkritik seseorang dengan berbagai kelemahannya, maka cari tahu dulu latarbelakang dari penyebab kelemahan tersebut, baru anda berhak bicara. Jika anda telah mencerna latarbelakang diatas, mungkin anda akan berpikir positif dengan menganggap wajar hal itu terjadi, dan mungkin anda akan lebih berlapangdada jika anda beranggapan bahwa Aldi Nada Permana bisa disebut juga sebagai “Kambing Hitam”, dari peristiwa penolakan secara halus terhadap sebuah permintaan dengan dilatarbelakangi peristiwa-peristiwa yang ANEH dan JANGGAL di “Rumah Kami”.
    Untuk Setya Arie Pratama, saya salut dengan kemampuan analisis anda terhadap berbagai peristiwa yang terjadi selama kami bergerak (jika memang anda dari pihak “asing”), tapi tolong lebih “dibuka matanya”.

    ———————–

    Saya tidak malu untuk tetap menghias coretan saya ini dengan kalimat “The Loud of Harmonic”, meskipun ibu Susi Gustina telah dibuat tertawa karena kehadiran kata “The Loud of Harmonic”.
    Memang, dari pandangan “orang yang kaku hati” (panggilan sembrono dari saya yang tidak tahu harus memanggil apa, tetapi walaupun telah ada panggilan yang pantas, tetap saya ingin memanggil begitu), kalimat itu rancu dan adsurb. Itupun didukung dengan komentar “viki”, teman seperjuangan saya yang mudah-mudahan dia hanya berpura-pura menjadi “orang yang kaku hati”. Tapi cobalah kita lihat dengan kacamata yang lain!

    Disaat ada perpaduan kata :
    “Manisnya sebuah Pahit”

    Dalam kacamata saya sebagai pecinta perpaduan kata-kata, hal itu merupakan sesuatu yang lumrah saja, bahkan lebih memiliki banyak makna, dan makna yang dihasilkan akan lebih baik dan berguna dibanding hasil dari perpaduan kata-kata yang sudah konvensional.

    Apa salahnya jika kita membicarakan Pahit dari segi Manisnya?

    Apa salahnya jika kita membicarakan Sesuatu yang bersifat harmonis dari segi kekerasannya?

    Cobalah menggunakan salah satu sisi hati yang menginjinkan kalimat itu terlahir, cobalah cerna kembali, cobalah sementara tanggalkan hati kaku itu untuk menerima sesuatu yang keluar dari koridornnya.

    Tentunya (mungkin), komposer musik kontemporer seperti bapak Iwan Gunawan, bisa menerima kehadiran kalimat tersebut.

    Atau

    Tentunya (mungkin), komposer musik kontemporer seperti bapak Iwan Gunawan, bisa menerima kehadiran kalimat tersebut???

    ————

    bapak Iwan Gunawan yang terhotmat, untuk kritik anda yang tentunya mengandung muatan-muatan untuk membuat para penggiat “The Loud of Harmonic” menjadi “rada panas” tolonglah disertakan juga latarbelakang seperti yang saya utarakan diatas, dengan begitu, para pembaca (siapapun) akan memakluminya. Bahkan akan lebih memaklumi dari yang anda kira, tentunya dengan maksud dan tujuan ke arah yang lebih positif.

    “Jika anda ingin membersihkan bak mandi yang berisikan air kotor, janganlah anda hanya membersihkan bak mandinya saja, atau dengan menguras habis airnya, itu merupakan hal yang sia-sia karena kotoran yang sebenarnya terdapat di saluran tempat keluarnya air tersebut.”

    Terimakasih kepada bapak Iwan Gunawan yang telah menampilkan tulisan saya dengan utuh dan lengkap tanpa ada pengurangan satu huruf pun.

    Penulis : Enry Johan Jaohari
    Catatan : Ditulis dengan sepenuh hati dan penuh pertanggungjawaban

    Balas

  38. Posted by onesgamelan on Februari 12, 2009 at 08:18

    adik johan, kok sudah saya berkali-kali jelaskan kenapa masih tersinggung?. Inilah triger untuk maju dan kuat bukan menjadi lemah. Secara lahir batin saya mendukung OSBS serta kegiatan mahasiswa lainnya. buktinya dik johan sendiri tahu. Kalau OSBS percaya sama saya, saya siap membantu untuk memajukan kegiatan mahasiswa ini berdasarkan kapasitas saya.tapi persoalan kritik saya itu jangan dimaknai secara dangkal lho. Karena setiap kegiatan mahasiswa yang pernah ada belum pernah dikritik sehingga tulisan saya ini tampaknya membuat shock. Kalau ada kata-kata saya yang negatif dan mengarah pada seseorang saya mohon maaf. tapi tujuannya anda lihat lihat lihat dan maknai. Kebetulan saja objek yang kita diskusikan adalah ‘The Load of Harmoic’, akan tetapi bukan OSBS atau yang lainnya. Saya bahkan sangat bahagia melalui peristiwa ini kita dapat saling berbagi, sebaliknya saya lebih hina dan sedih sekali pada saat sebuah pergelaran tanpa kritik satu pun, artinya yang nonton hanya robot karena ia tidak punya perasaan dan pikiran. Yang saya ragukan bukan pemainnya, tapi interpretasinya! camkan itu. tentu saja persoalan interpretasi adalah masalah yang kompleks, antara lain kemampuan pemain, wawasan pemain, disiplin latihan, lamanya waktu latihan dan lain-lain. Semua hal itu dapat dibangun. Tapi kalau ngga ada pemantiknya bagaimana api itu akan menyala? begitulah dik johan… jadi tuduhan-tuduhan yang mengarah ke pribadi itu harus dihindarkan. dan sekali lagi ini bukan persoalan salah benar!, saya sangat menentang keras jika ada orang yang menolak kegiatan itu. saya sangat senang dengan penampilan OSBS pada waktu acara festival musik bambu di sabuga. sederhana tapi pas dan mantap. cuma pada waktu itu saya belum terpikir untuk berkomentar seperti ini dan akhirnya sayang… peristiwa itu sepertinya terlupakan..yang ingat hanya orang2 yang terlibat dan penontonnya. Yang aneh kenapa kritikan saya itu ada yang merasa “rada panas”. apakah ada yang tidak sesuai dengan apa yang saya katakan?, kalau saya bilang bahwa pitch not yang dimainkan anda itu sebenarnya sumbang, apakah anda menyangkalnya? dan sekian pertanyaan2 yang saya tulis itu berdasarkan apa adanya. Kalau memang saya salah mohon buktikan!
    hanya saja, anda terima atau tidak pernyataan itu tergantung dari kejujuran anda. saya pengalaman dan mudah-mudahan ini bisa jadi perbandingan, pada saat saya konser di STSI (saya rasa anda nonton juga kan), wartawan dari kelola menulis bahwa penampilan dalam karya saya itu pemainnya tidak kompak dan bla..bla…bla pokoknya yang jelek-jelek deh. pada saat saya membaca artikelnya, perasaan saya ya tentunya ‘Panas’. tapi setelah saya melihat videonya memang benar, bagi saya pertunjukan itu kurang bagus. saya harus akui itu. karena pada saat itu saya juga sebagai pemain jadi tidak begitu tahu hasilnya baik secara audio maupu visual (insider) tapi ketika saya tonton videonya (outsider), barulah saya menyadarinya. begitulah dik johan…..

    Balas

  39. Komentar yang sangat bijaksana…

    (“…Secara lahir batin saya mendukung OSBS serta kegiatan mahasiswa lainnya. buktinya dik johan sendiri tahu. Kalau OSBS percaya sama saya, saya siap membantu untuk memajukan kegiatan mahasiswa ini berdasarkan kapasitas saya…”)

    Sebenarnya pengakuan-pengakuan seperti itulah yang diharapkan saya (selaku anggota OsBS sendiri) untuk menjelaskan status dan pandangan OsBS dimata para dosen (yang saat ini mungkin masih simpang siur tentang siapa pembimbing sebenarnya dari OsBS).

    (Jadi curhat lagi nih,, tapi gak apa lah mumpung ada ruang, mohon diijinkan…)

    Dan tentu saja kualitas dari interpretasi para pemain OsBS tidak terlepas dari peran dan masukan-masukan para pembimbing. Tapi faktor individual juga berperan dominan dalam pembentukan kualitas interpretasi tersebut.

    Jadi, para pemainnya juga jangan terlalu terlena karena ansambel orkestra yang jumlah pemainnya banyak itu (baca : keroyokan), sangat memungkinkan untuk melarutkan satu interpretasi yang kurang bagus kualitasnya dan tenggelam dalam interpretasi-interpretasi pemain yang lainnya.

    Kesimpulan, saya bangga pernah menjadi mahasiswa anda, karena telah banyak cipratan-cipratan ilmu yang secara langsung ataupun tidak langsung telah terserap olah saya. diharapkan kesimpulan ini tidak bersifat sementara, melainkan menjadi suatu kesimpulan yang bulat.

    bapak Iwan Gunawan, apakah mimpi anda terkabul dengan sukses? apakah seperti yang diharapkan?

    bapak Iwan Gunawan, pertanyaan saya tentang hadirnya kalimat “The Loud of Harmonic” yang sempat membuat ibu Susi Gustina tertawa itu belum disinggung oleh anda,

    Terimakasih.

    Balas

  40. Posted by Robi on Februari 12, 2009 at 10:14

    Hahaha…666×666
    Teu sawios-wios A’ nyantei we… Punten bilih kaleuwihan. Peace ah… Robi jadi mau nanya, sejauh apa sih A’ referensi itu? Dan apakah bentuknya harus selalu begitu? Di bawah ketiak siapakah saya berkomentar? Robi sama sekali tidak emosi, dan sama sekali tidak bermaksud mengajak untuk adu keterampilan main musik atau sejenisnya, percantenlah ka Aa mah, hahaha… justru sebaliknya maksud saya sebaliknya, tolong pertimbangkan dengan kepala dingin pula, hehehe…serius ieu mah, tapi ka saha we nu nganggap remeh musik Rock atanapi Metal, nu rumaos we ieu mah, kade ah bilih aya “uyahna”. Nuhun dukunganna ka Musik Underground, nyungkeun kritikna A’ kanggo lagu-lagu Disculture (band Robi tea) terlepas dari komentar anak Underground rerencangan Robi nu sanes.
    Peace ah… hahaha…666×666 Nuhun

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Februari 12, 2009 at 15:45

      hai robi…(tidak usah khawatir, kalau saya tinggal di Lembang jadi kepala saya pasti dingin)
      diskusi tentang event itu kita selesaikan saja yah, lihat komentar terakhir dari johan.
      kalau tentang death metal, robi pernah punya ide katanya mau bikin kolaborasi dengan gamelan.
      kenapa tidak? tapi awas jangan muluk-muluk dulu. segala sesuatunya mulai dari yang sederhana
      da ari death metal jeung gamelan kontemporer mah sapertos ku robi dicarioskan, dana na ti mana? sesah milari sponsorna, he…he..he
      tapi rob sebagai pendidik saya teh mesti membimbing ke arah yang lebih baik (hal yang ‘baik’ itu pun hanya menurut saya, kalau percaya syukur, kalaupun tidak, ngga apa2)
      sebagai mahasiswa, ketika ingin berpendapat harus punya referensi maksudnya, dapat dipertanggung jawabkan. kalau orang bilang bahwa grup dream theater itu bagus, bukan karena ikut-ikutan kata orang atau pengaruh media tapi setidaknya punya pandangan analitik misalnya ada kalimat dalam “karya musik dream theater sangat bagus karena penggunaan birama aditif sangat menonjol”, aspek birama aditif kalau kita amati dalam fenomena musik barat adalah sesuatu yang langka dan ini muncul mulai abad 20.artinya ini belum begitu konvensional. sebelum dream theater menggunakan konsep birama aditif itu jauh-jauh hari sebelumnya bartok, stravinsky atau steve reich telah menggunakannya. tapi sampai hari ini konsep tersebut masih terasa segar. karena kebanyakan karya musik menggunakan hanya satu birama kalau ngga 4/4, 3/4 dsb. tapi kalau yang aditif merupakan multi birama atau macam-macam birama sehingga perasaan tesis pada setiap ketukan pertama seperti berubah-ubah, sehingga cara memainkannya agak sulit, karena melawan dari “rasa” yang menjadi kebiasaan umum. Jika kita pernah membaca bahwa jordan rudess seorang pemain keyboard pada grup itu ternyata pernah bahkan sering memainkan repertoar musik abad 20 salah satunya bartok, inilah hubungannya. akan tetapi jordan rudes yang cukup mempengaruhi konsep garap grup tersebut, tidak berarti Ia seorang latah, karena konsep aditif itu dijabarkan berdasar interpretasi dia sendiri dan hasilnya sangat berbeda dengan karya bartok.
      wah… akhirnya fenomena aditif ini bisa jadi satu makalah bahkan satu buku. inilah menurut saya sebuah pendapat yang memilki referensi. Dengan demikian debat yang akan kita lakukan lebih edukatif gitu lho… tidak emosional….namun untuk menuliskan pendapat itu dalam karya tulis harus disebutkan sumbernya dari mana? penyebutan nama-nama itu bukan dipajang begitu saja akan tetapi secara kebetulan kita menemukan tulisan yang kurang lebih sependapat dengan pendapat kita. bukan berarti berdiri di bawah ketiak seseorang!

      Balas

  41. Posted by onesgamelan on Februari 12, 2009 at 14:39

    dik johan, saya kira bu susi tidak mentertawakan acara ini mungkin seperti kata viki ini hanya masalah ejaan saja. saya pun sebenarnya tidak tahu. tapi masalah judul karya itu sebenarnya bisa apa aja yang penting jadi identitas.
    ok …..tampaknya suasana semakin hangat dan akrab. mari kita bangun bersama prodi musik ini tanpa harus mengeluh dengan segala keadaan. dik johan saya baru saja nonton video pertunjukan sewaktu acara festival musik bambu. coba dik johan amati, bagaimana permainan teman-teman osbs, mantap kan?, ngga wah, tapi sangat berbobot dan penampilan karya seperti itu tidak ada duanya di dunia ini. Berlin philharmonik tidak pernah memainkan karya cublek-cublek suwang arr. mas henry, atau setahu saya belum pernah ada kolaborasi orkes, Suling Sunda dengan alat petik cina melalui lagu bubuy bulan dan itu yang saya maksud dengan “multikultur”. artinya tak pernah grup orkes manapun yang pernah memainkan karya dengan cara interpretasi serta gramatik musik seperti itu. itulah salah satu aset bagi kita yang dapat kita kembangkan. Kalau setuju, gimana kalau karya-karya itu dimainkan lagi dan kalau boleh saya mau nyumbang karyanya.

    Balas

  42. Posted by Marckoy on Februari 12, 2009 at 16:14

    Waduh sudah tereh lulus, baru aya silaturahmi nu kieu…

    Coba ti dulu ^_^

    Tp mudah2an trus jadi ajang silaturahmi we lah…

    Buat yg baru masuk k blog ini. masih banyak artikel laennya, ilmu eta teh euy, jgn lupa dipelajari…

    Mudah2an banyak memberi banyak konfirmasi untuk para “pejuang musik”…

    Nuhun a…

    Balas

  43. Posted by Marckoy on Februari 12, 2009 at 16:15

    Hapunten mun seueur salah nulis nuju bergadang ngetik skripsi (kebiasaan jelek Menunda2 waktu)

    Balas

  44. assalamualaikum wr.wb
    alhamdulilah, akhirnya bisa ketemu juga sama forum diskusi di dunia maya tentang musik😀 khususnya tentang seni musik UPI, jadi bisa lebih terbuka dan bebas kalau dibandingkan di kampus. Terima kasih A Iwan …:D
    The Loud Of Harmonic, kalo boleh saya ingin sedikit mengomentari acara yang diselenggarakan oleh angkatan saya sendiri itu. Teman-teman 2005 saya rasa cukup bekerja keras untuk menyelenggarakan acara ini, semua berfikir keras bagaimana caranya agar acara ini bisa sukses, minimal berjalan dengan lancar. Tapi kadang saya merasa acara ini seperti bukan acara yang diselenggarakan angkatan 2005, kenapa yah bisa begitu? (alah koq jadi curhat gini yah? :D) jujur saja, saya juga memang ngga begitu eksis dalam acara itu(peace ah teman2… heheh) tapi koq banyak juga teman2 satu angkatan yang curhat mengenai hal itu sama saya…😀 berarti ada masalah kan dalam management nya sendiri? mudah2an hal ini ngga terjadi lagi sama angkatan selanjutnya yang akan mengontrak mata kuliah Management Pertunjukan yah…😀 Semangat… semangat…! Hatur nuhun A iwan…!

    Balas

  45. Posted by Robi on Februari 13, 2009 at 06:07

    Oh…kitu, nuhun pisan A, ke ah urang ngobrol-ngobrol deui nya A…

    Balas

  46. Posted by HERY UDO on Februari 14, 2009 at 04:32

    PUNTEUN..Bung Iwan aku ikut komen untuk dik agis.
    ..paradigma berfikir tentang management pertunjukan itu mesti di kaji ulang ,nampaknya telah terjadi kesalahan persepsi tentang pengolahan sebuah pertunjukan musik, kalau dik agis merasa tidak terlibat dan seharusnya terlibat berarti aktivitas managemen pertunjukan itu adalah gagal.Management pertunjukan musik bukan hanya perlombaan menyebarkan proposal, atau presentasi basa-basi berbuih-buih dengan harapan keuntungan besar sehingga segala cara ditempuh untuk memuluskan ajuan konsep acara. Hal ini merupakan bagian paling kecil dalam management pertunjukan (tidak usah dibesar-besarkan). Tapi yang paling penting adalah pengetahuan mendramatur sehingga pertunjukan itu memiliki nilai, tidak penting glamour, sederhana saja tapi semua orang bisa merasakan sesuatu yang berarti bukan hanya beberapa orang, ya toh..?

    Balas

  47. Posted by HERY UDO on Februari 14, 2009 at 06:00

    Penting nya kreativitas dalam berkesenian

    Aku ikut komentar ya….tralala..trilili..
    KATAK-KATAK MELOMPAT
    PLUNG-PLANG-PLONG,
    TEMPURUNG DITINGGALKAN
    PRUNG-PRANG-PRONG
    “Kritik adalah satu jelmaan yang bisa menjadi hantu bagi pribadi tidak kreatif tentunya pribadi-pribadi feodal dan status quo, namun kritik dapat menjadi pemicu semangat atau malaikat penyejuk bagi pribadi cerdas dan demokratis “(hery udo) . Namun kritikpun dapat dibedakan menjadi dua jenis sesuai dengan bobot argumentasi yang terkandung didalamnya, yaitu : kritik subyektif dan kritik objektif.
    Kritik bung Iwan ini adalah termasuk kritik objektif sebab didalamnya terkandung argumentasi yang jelas, lugas dan jujur apa adanya. Hal ini tentu kita lihat pula dari latar belakang dan proses berkeseniannya. Sebagai seorang pengajar musik dan komponis muda, bung Iwan mengalami betul tentang arti sebuah proses kreatif dalam mewujudkan pokok-pokok pikirannya sehingga menjadi sebuah pertunjukan bermakna ,bermakna bukan berarti bagus atau tidak bagus…atau banyaknya tepuk tangan penonton , sebuah pertunjukan bermakna adalah sebuah pertunjukan yang membuat orang gelisah karena didalam pertunjukan itu terkandung nila intelegensi, gaya kognitif dan berkepribadian. Mengapa Jimi Henrik bisa menjadi ikon musik rock terutama bagi gitaris-gitaris rock padahal teknik permainanya begitu kasar dan brutal ?, sebab Jimi Henrik adalah musisi kreatif buah dari kejujuran dalam melaksanakan proses kontemplasi yang panjang.
    Kritik bung Iwan terhadap pertunjukan Rockestra mahasiswa seni musik UPI angkatan 2005 terjadi karena adanya proses pengamatan, proses merasakan secara sungguh-sungguh kemudian muncul tawaran suatu masalah. Secara pribadi bung Iwan memiliki kedekatan secara emosional terhadap seluruh pribadi yang terlibat didalam pertunjukan Rockchestra ini, sehingga nampak ada nilai subyektifitas terhadap kritik ini jika dilihat secara gamblang. Namun tidak demikian halnya, dibalik kritik bung Iwan ini ada satu pertanyaan tentang dimanakah kreativitas itu bersembunyi?!
    Hulbeck (1945),”Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way”. Dimana tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.
    Bung Iwan melihat bahwa Mahasiswa pendidikan Seni musik UPI banyak yang memiliki potensi kreatif, mengapa itu tidak dimunculkan? Mengapa terkubur dibalik sorak sorai ?, mengapa harus begitu, mengapa harus begini?! Ada apa dengan semua ini. Secara pribadi saya sangat memahami kegelisahan bung Iwan, apalagi jika kita lihat bahwa kawan-kawan mahasiswa ini adalah calon pendidik , pejuang yang akan meramaikan dunia pendidikan bangsa ini. Kita memiliki ragam kesenian tak terhingga tersebar di setiap pulau dan itu adalah akar budaya bangsa, nilai-nilai budaya ini dapat dimanfaatkan secara sadar dalam proses pendidikan. Sebagai contoh di Jepang “moral Nimomiya Kinjiro” merupakan nilai budaya yang dimanfaatkan dalam praktek pendidikan untuk mengembangkan etos kerja. Kinjiro adalah anak desa yang miskin yang belajar dan bekerja keras sehingga bisa menjadi samurai, samurai adalah suatu jabatan sangat terhormat. Karena saking miskinnya, orang tuanya tidak mampu membeli alat penerangan. Oleh karena itu dalam belajar ia menggunakan penerangan dari kunang-kunang yang dimasukkan kedalam botol. Kerja keras diterima bukan sebagai beban, melainkan dinikmati sebagai pengabdian. Selain semangat kerja keras, budaya Jepang juga menekankan rasa keindahan tercermin pada ketekunan, kejujuran dan bersih sebagaimana semangat Kinjiro kemudian diwujudkan dalam bentuk patung anak sedang asyik membaca sambil berjalan dan menggendong kayu bakar di bahunya. Patung tersebut didirikan di setiap sekolah di Jepang. Dalam kaitan dengan ini adakah pertunjukan Rockchestra yang dipentaskan kawan-kawan mahasiswa memiliki nilai-nilai dan orientasi budaya kita dan kemudian bisa dimanfaatkan dalam praktek pendidikan? Manakah nilai dan orientasi yang perlu dikembangkan dan manakah yang harus ditinggalkan?.
    “proses kreatif adalah mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat ditertima. Sehingga biasanya mekanisme pertahanan merintangi produktivitas kreatif. Meskipun mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, namun justru mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama dari kreativitas”. Sigmund Freud
    “Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial”,Haefele (1962).
    “kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya. Torrance (1988).
    Bung Iwan, untuk tulisanmu yang ini aku sepakat .Nampaknya bung Iwan telah dibenarkan oleh Mazhab Torannce, nama yang agak dekat dengan kegiatanmu men-download he.he..tapi mungkin tulisan berikutnya kita tidak sepakat.

    Untuk kawan-kawan angkatan 2005 terus maju pantang mundur , lihat kedepan jangan lihat kebelakang..tralala..trilili..salam untuk Charles sipeniup oleng..ayo, kuliah !!!

    Balas

  48. Posted by DORRY on Februari 14, 2009 at 07:14

    ass.wr wb….
    ikutan bangga dan terkesan dgn almamater tercinta SENI MUSIK UPI, wah saya kagum dengan aktivitas yang ada saat ini,(SMOGA TRUS BERLANJUT)kreativitas mahasiswanya, kegiatan mahasiswa dan dosen 2nya….jadi iri sebenernya..nampaknya sukses program perkuliahan yang diterapkan saat ini…semakin pandai bermusik, semakin baik mendidik, semakin giat meneliti, semakin tajam tajam mengkritik…padahal jam (HIDUP)kampus sudah jauh berbeda dengan jaman saya dulu…berarti, sudah pasti sukses program penerapan perkuliahan buat mahasiswa dari dosennya (PUAS?)…anak didik yg sukes tidak lepas dari peran bapak ibu pendidiknya…..(KALO MAHASISWANYA SUDAH DASYAT DAN BERKREATIVITAS TINGGI KEBAYANG TINGGKATAN SAKTI BAPAK DAN IBU DOSENNYA), jadi ingin berapresiasi bapak dan ibu dosen SENI MUSIK UPI BERKREASI…….KAPAN DONG? KABARIN YA? biar memberikan contoh pembelajaran yang baik dari proses hingga penyajian sebuah pementasan..hatur nuhun kang iwan dah boleh nimbrung….semoga blog ini menjadi ajang silaturahmi yang baik antara kita…satu hal lagi, saya tidak sebagai angkatan 98 , tapi saya sangat bangga sebagai civitas akademi SENI MUSIK UPI…MAJU TERUS SENI MUSIK UPI!!!!!

    Balas

  49. Posted by onesgamelan on Februari 14, 2009 at 12:44

    Thanks a lots bang……

    Balas

  50. Ass. Wr.Wb

    Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah sudi untuk menggerakkan tanggnnya untuk menekan Keyboard untuk ber”comment”, seperti Bpk Iwan, Bpk Udo, Bpk Henry Virgan, Bpk Bambang, bu Susi,& seluruh Dosen dan apresiator “The Loud of Harmonic” 2009.

    Tak banyak yang ingin saya sampaikan, terlepas dari komentar/kritik yang “Manis/Pedas” yang pasti untuk saya pribadi itu merupakan suatu motivator kita sebagai manusia yang sedang mencari jati diri yang memang haus akan hal itu.
    tapi izinkan saya mmenumpahkan ungkapan hati saya ini kedalam beberapa point untuk beberapa pihak.
    1.Untuk Panitia 2005 :

    GILA MAN…I LOVE YOU ALL!!!
    Kalian keren,,,Gw pribadi Salut buat loe
    semua. Keep Rocooooookkkkkkk,,,ok!!!

    2.Untuk Pembimbing :

    Alhamdulillah,,,pak kita dapat beberapa
    nih, Katenye sih ada yang bilang “latah”
    (Waduh kalo gtu salut deh untuk “Latah”Nya
    dah bisa ngasih ide gila-gilaan kaya gini.
    he..he..he
    Waduh pak(Untuk para pembimbing)kta masih
    dapet kritikan nih,,,Ayo bimbing mahasiswa
    kita supaya bikin sesuatu yang lebih
    gila lagi…Syukur-sukur Pementasan
    berikutnya diadain di jakarta atau di
    Arab.he he he

    3.Untuk pihak yang bukan panitia tapi sok
    sok jadi panitia :

    Thanx ya buat bantuannya,,,katampi pisan
    Mudah-mudahan ada proyekan lagi tahun
    depan ya!!!!

    4.Untuk Kritikus :

    Saya atas nama pribadi merasa tersanjung
    yang sebesar-besarnya karena bukan tanpa
    kemauan yang sangat hebat untuk sudi
    menuliskan kritikannya di halaman ini.he
    Tapi untuk Bpk-bpk sekalian sekali lagi
    tanpa mengurangi rasa hormat saya kpd
    anda semua, saya harap bukan sekedar
    kritikan saja yang kami dapat tapi juga
    Masukan Pra-acara karena saya merasa
    pada waktu pra-acara kami sama sekali
    boleh dikatakan kurang mendapatkan
    masukan-masukan yang mungkin masih bisa
    kita kerjakan sebelum acara sehingga
    mengurangi daftar kritikan yang agak
    kurang enak di dengar. makanya, saya
    agak kaget juga pada saat pasca acara
    ternyata acra kami mengundang banyak
    kontoversi(walaupun dalam hati kecil
    saya merasa senang),tapi saya cukup
    senang dengan perhatian Bpk/Ibu semua
    saya anggap dan semoga seluruh panitia
    juga memiliki pemikiran sama seperti
    saya, yaitu kita jadikan semua masukan/
    kritikan itu sebagai bagian dari proses
    pembelajran & pendewasaan berfikir.

    Masukan-masukan :
    1.Untuk panitia :
    – Koordinasi antar panitia
    – Akselerasi kerja,Thats it!
    2.Untuk pembimbing :
    – Pak,Bu, mbok.. ya kita dibekali ilmu
    yang Lebih banyak sebelum kita diberi
    Tugas…
    he he he ….
    3.Untuk pihak yang bukan panitia tapi sok
    sok jadi panitia :
    – Brur mbok ya liat-liat situasi…
    (he he he )
    4.Untuk Kritikus :
    – Berikan mahasiswa lebih banyak masukan
    (khususnya Pra- acara) agar mahasiswa
    tahu apa yang harus mereka kerjakan.
    itu aja ah ya pak,Bu gak banyak banyak.
    he he makasih..

    Akhirnya saya mengucapkan banyak-banyak makasih buat semua pihak yang sudah ikut terlibat secara langsung atau pun tidak.

    Marilah kita jadikan kritikan untuk membangun diri, dan lakukan sesuatu hal dengan niat yang tulus Insya Allah apa pun yang ingin kita lakukan akan bermanfaat!!! Cieeeeeee..Terima Kasih
    Wassalam…

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Februari 14, 2009 at 14:06

      ok dik riyan…… itulah makna kritik….dapat membuka mata hati kita agar saling intropeksi, terutama bagi kita yang telah aktif
      baik secara langsung maupun tidak langsung dalam diskusi ini. Bagi yang masih merasa “berat” oleh beberapa kritikan itu, untuk sementara
      berbesar hati dulu, saya yakin…seyakin-yakinnya, tiga sampai enam bulan ke depan, semua komentar2 ini dibaca lagi dan kemudian anda akan mendapatkan kesadaran baru dalam memahami maknanya seperti sebuah “siraman rohani”. Dalam lubuk hati yang paling dalam saatnya saya ucapkan SUKSES untuk mahasiswa musik angkatan 2005, SUKSES untuk ‘The Loud of Harmonic’. I really proud with you…….

      Balas

  51. Posted by Pandu on Februari 16, 2009 at 03:45

    Ass Wr. Wb.
    met pagi A… g tau kenapa saya penasaran terus pengen buka blog ini… he..he.. Terus terang saya jadi sedikit Khawatir dengan teman-teman saya yang terlalu lama gelisah.. boleh ikut nitip pesen ya…

    Teman-temanku yang sy sayangi… yang masih gelisah dengan diskusi ini… kita tinggalin yu.. kegelisahan itu… mendingan kita buat sesuatu yang baru.. kita diskusikan sesuatu yang lebih bermanfaat dibanding mempermasalahkan sesuatu yang sudah usang.. masalah pementasan kita itu udah berlalu.. Baik Buruknya udak kita ketahui bersama.. It’s so yesterday (Ha..ha… bhs inggris ngarang) OK…
    teman-teman… ayo kita bangkit dari keterpurukan emosional yang seharusnya tidak kita lakukan..

    buat johan:
    jo, Istirahat di kosan.. tong di sekre wae.. jgn terlalu banyak pikiran.. Cepet sembuh y… (so perhatian… Ha…ha.. getek)

    Buat Viki, Riyan, Aldi, Dani, S’mangga:
    Kita bikin “sesuatu” lagi yu… Ke jogja jadi kan.. hahaha…

    Buat A iwan(pemilik Blog):
    Nuhun nya A.. buat semuanya.. blog Aa jadi rame (jd tempat curhat+ntip pesen pula)he.. he..

    Buat Ibu dan Bapak Dosen yang lain:
    Keep moving… Make us Better..

    Merdeka!!!!!

    Balas

  52. Posted by Setya Arie Pratama on Februari 17, 2009 at 19:24

    Hahaha, setelah sekian lama tidak mengunjungi blog ini, ternyata sudah banyak yang mulai “bangkit” dari “kejatuhannya”.

    Pertanda Baik.

    Apa yang dimaksudkan oleh Iwan Gunawan dan para ahli kritik lainnya nampak beberapa sudah terjawab dan di pahami secara sehat, walaupun nampaknya masih ada saja yang masih terlalu mempermasalahkan.

    Mental manusia itu seperti pegas, semakin ia ditekan, semakin lontarannya jauh.

    Saya malah terlalu yakin ketika manusia-manusia yang terlibat dalam Loud Of Harmonic ini nantinya akan membuat karya-karya lain yang melampaui batas mereka sekarang.

    catatan! apa yang tak terlihat oleh diri kita sendiri, biasanya terlihat oleh orang lain.

    sewajarnya apabila di kritik, kita cerna dan berperilaku sebagaimana mestinya. bila tidak senang di kritik, coba lakukan hal ini ketika di kritik :

    anggap kritikan itu adalah “sendal jepit!” dalam pikiran anda. karena sendal jepit itu bendanya tidak terlalu penting, jadi semua kritikan dan pesan-pesan yang unacceptable terpental oleh interpretasi “sendal jepit” itu. Akan tetapi, anda akan kehilangan esensi dari makna sebuah kemajuan.

    Saya juga sepakat dengan mentalitas orang di negeri kita yang selalu mentally “victim” or “i’m the victim”

    come on guys…

    lihatlah kuda pacu!

    ketika ia sedang berlari kencang di arena balapan, lalu si jokey mencambuk si kuda terus menerus, apakah si kuda malah jadi berhenti berlari dan enggan meneruskan lomba lalu pundung meracau kesana kemari “i’m victim..”, “aku tertindas..” ?

    tidak!

    si kuda malah semakin terpacu untuk berlari lebih kencang diluar batasnya sendiri!

    lho, kita kan bukan kuda??

    haha, kuda aja yang lebih rendah dari manusia bisa memiliki semangat juang yang terlampau hebat seperti itu, masa kita enggak?

    haha, itu hanya sebuah analogi saja, jangan terlalu dirasakan, tapi di pikirkan dengan otak yang sehat yang kuda tidak miliki.

    Saatnya kita (bangsa indonesia) memiliki sebuah mental yang tidak mentally “victim”, but mentally “winner”.

    lihat bedanya :

    mentally “victim”

    A : “tolol lu, goblok lu!”

    B : “ya, gue emang tolol..dan goblok.. mau gimana lagi, gue emang kayak gini”

    mentally “winner”

    A : “tolol lu, goblok lu”

    B : “oh ya? hmmm, kita lihat apa yang terjadi nanti!”

    ingat sobat, kita bukanlah korban dari kejamnya dunia!

    jangan pernah terjebak pada satu batas saja!

    bila masih ada yang tidak mau atau merasa tidak pantas Loud of Harmonic dibandingkan dengan orchestra luar negeri, berarti anda sedang terjebak pada kemampuan yang segitu saja.

    Kritik itu adalah hal yang terlalu biasa bagi saya.

    Saya tidak terlalu senang di puji, apabila dipuji, saya akan melakukan misinterpretasi “jus kulit jeruk!”, karena jus kulit jeruk bendanya tidak penting.

    @iwan gunawan

    perbincangan hebat kita, sebaiknya dilakukan di posting yang lain yang lebih relevan, okay bro! coba anda buat tulisan yang bisa kita diskusikan bersama secara “panasss” hahaha!

    i’m not a victim,

    Balas

  53. Posted by Enry Johan Jaohari on Februari 18, 2009 at 02:47

    Untuk Setya Arie Pratama, apakah anda sendiri tidak termasuk ke dalam golongan ‘terjebak dalam kemampuan yg segitu saja’?

    Buktinya?

    Kalo anda sudah bicara begitu, anda sendiri harus sudah bisa membuktikan bahwa anda lebih baik, dan anda bukan termasuk ke dalam golongan
    ‘terjebak dalam kemampuan yg segitu saja’.

    Saya tunggu buktinya!

    (Itu pun kalo anda tidak mau di cap sbg org yg ‘omdo’ alias omong doank, sperti para komentator tanah air diatas)

    Balas

  54. Posted by Arromme on Februari 18, 2009 at 15:37

    ….duh…mo ngomong apa ya…!!!

    …duh…bingung nih….. duh……

    gimana ya….. duh……

    mo ikut nitip pesen…. !!

    WATCHING US……!!!

    ENSEMBLE KYAI FATAHILLAH goes to AMSTERDAM

    – Warna (komposisi Pak Nano S)
    – Kulu kulu 2004
    – Fonem
    – Reubeudieu (komposisi Mang Koko) arr.Dody Satya Ekagustiman

    on August 2010

    Balas

  55. Posted by Arromme on Februari 24, 2009 at 08:31

    …dik Johan batuk ya….?

    minum obat dong…

    Balas

  56. Jadi sepiii…

    Balas

  57. Posted by Syarif 'aksara hi-rock' on Maret 9, 2009 at 19:42

    Maaf saya agak terlambat mengikuti obrolan di sini. Saya hanya ingin menyampaikan terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk ikut serta dalam acara “The Loud of Harmonic Rock&Symphony Orchestra”.
    Untuk bung Iwan Gunawan, terima kasih atas ‘pujiannya’, dan kalau bisa saya minta saran anda bagaimana cara menjadi gitaris rock yang ‘unik’ itu, karena menurut anda saya tidak memiliki ‘keunikan’jika dibandingkan dengan gitaris rock lainnya.., mohon saran anda karena saya adalah seorang gitaris otodidak, tidak bisa membaca not balok meskipun sudah main gitar selama hampir 20 tahun.., saya rasa anda pasti bisa memberi saran-saran karena anda seorang dosen di program studi musik, terima kasih.
    Regards
    Syarif ‘aksara hi-rock’

    Balas

  58. Posted by Arrome on Maret 28, 2009 at 22:13

    ini adalah pertanyaan yang gak usah di jawab

    Balas

  59. Posted by Owlieh on April 22, 2009 at 10:23

    Arrome buuk ente geus lurus acan?

    Balas

  60. Posted by Enry Johan Jaohari on Mei 18, 2009 at 19:30

    Punten…

    Abdi janten emut kana paribasa :

    “Haneut-haneut tai kotok (-red)”

    Balas

  61. Bung Iwan,

    Saya suka tulisan ini. Saya heran dengan komentar Bapak pejabat di atas itu. Argumennya tidak kuat. Tp bagi saya, tulisan ini sudah jauh dari memadai dibanding liputan para wartawan koran yg sok ngerti musik dan seni itu.

    Balas

  62. hehe,, punten ngiring ngalangkung…

    a iwan, berminat menulis untuk pementasan yang baru saja dilaksanakan? semoga kampus kita tetap berwarna dan penuh dengan kreativitas… amiiiin…

    Balas

  63. Dengan segala kerendahan hati, ingin rasanya kutuliskan sepenggal curahan ide dan gagasan tentang sebuah karya anak bangsa yang gandrung akan kemajemukan budaya bangsa terekat menjadi sepenggal karya cipta yang sangat luar biasa. Dengan rasa sepenuh hati terurai goresan catatan, semoga bermanfaat bagi kang IWAN :
    1. Musikalitasnya mampu menyentuh kesetiap relung2 kehidupan, seakan kita terbawa pada pengembaraan warna musik yang dinamis, ritmis dan harmonis, namun realitas dan originalitas musik perlu juga dikukuhkan dan dipelihara sebagai pertanda pencitraan kesejatian dan kemandirian karya musik itu sendiri, agar sipendengar dapat tetap istiqomah dalam mengapresiasi karya kang Iwan.
    2. Biarkan karakteristik dari pada karya musik tersebut mengusung budaya SUNDAISME, jika perlu berkolaborasi danberalkulturisasi dengan budaya luar, asalkan tema dan misi karya musik tersebut tidak terinveksi dengan kebebasan dalam penggalian budaya lain yang pada akhirnya mengakibatkan lunturnya karakteristik sebuah karyamusik tersebut.
    3. Saya sebagai pendidik musik formal di sekolah (red. SMA), sangat takjub dan bangga pada seorang seniman sekaliber IWAN yang telah mencipta, meracik, menggali dan mengeksplore karyanya yang demikian kaya akan kreatifitas yang dimiliki, namun alangkah eloknya bila karya Akang memikirkan dan memperhatikan juga pada engel pendidikan, khususnya mampu mengaitkan pada pendidikan apresiasi dan ekspresi. Dalam hali ini pada tataran komunitas pelajar di sekolah, sehingga akan menjadi khasanah positif dan konstruktif bagi kelengkapan bahan ajar pembelajaran musik untuk peserta didik.
    4. Salut dan surprise buat akang, terus dan teruslah berkarya, jangan merasa terbebani dan terhimpit dengan segala kritikan dan sindiran, justru hal ini awal pencitraan sekaligus pembaiatan akang dalam meraih predikat seniman.

    Balas

  64. Yes! Finally something about myla baby bump video.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: