KESENIAN SEBAGAI MATA PENCAHARIAN

Oleh Henry Virgan Tanasale

mas-henryAda satu pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh Tuan R.M. Soewardi sebagaimana terdapat dalam buku “Kebudayaan dan Pendidikan/Seni” yang disusun oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu ‘Bagaimanakah jika seorang mempergunakan kesenian sebagai mata pencaharian ?’ Dan yang lebih menarik adalah pendapat beliau sendiri tentang pertanyaan tersebut ,”Jika orang hendak mengarahkannya (kesenian) kepada mata pencaharian, maka akan rusak binasalah kesenian itu!”

Mungkin bagi kebanyakan orang pendapat tersebut terlalu berlebihan. Akan tetapi bila kita kaji lebih dalam, maka kita akan menemukan sesuatu yang sangat berarti. Untuk itu kita akan mencoba mengupas apa sebenarnya maksud dan tujuan dari pendapat tersebut.

Langkah awal adalah mengupas tentang tentang pertanyaan Tuan R.M.Soewardi dengan kata inti “mempergunakan kesenian sebagai mata pencaharian.” Ini berarti orang berusaha untuk menghidupi dirinya (dengan uang) hanya dengan bertumpu pada kesenian saja, dan kemudian timbul pikiran bagaimana kesenian bisa menghasilkan uang. Jika hal tersebut terlaksanakan, maka yang akan muncul kemudian adalah “kompromi”. Segala sesuatu bisa/mudah dikompromikan, asal mendatangkan uang. Bentuk kesenian, penambahan unsur di dalamnya, keasliannya, durasi waktu penyajian, orang-orang yang memainkannya sampai pada pen-distrosi-an kesenian itu sendiri semuanya bisa/mudah dibicarakan (dikompromikan). Nah, kalau sudah begini, maka fungsi dan tujuan yang paling mendasar kesenian dikalahkan oleh kepentingan pribadi untuk mendapatkan uang guna penghidupan diri sendiri.

Fungsi dan tujuan yang paling mendasar dari kesenian menurut pendapat Tuan R.M. Soewardi adalah untuk menghaluskan budi pekerti dengan contoh “sastra gending” Jawa. Sampai-sampai Sultan Agung mengeluarkan pernyataan, bahwa tidak akan mengakui keturunannya apabila tidak belajar “sastra gending” Jawa. Melalui “sastra” pikiran akan terasah. Melalui “gending” perasaan akan semakin halus. Sungguh dapat kita bayangkan pada saat Sultan Agung memerintah, perhatian terhadap kesenian (“sastra gending”) sangatlah total.

Langkah kedua adalah mengupas tentang pendapat Tuan R.M. Soewardi ” Jika orang hendak mengarahkannya kepada mata pencaharian, maka akan rusak binasalah kesenian itu.” Ada hal yang sangat menarik di sini, yaitu beliau tidak berpendapat dengan menggunakan kata-kata “mempergunakan kesenian sebagai mata pancaharian”, seperti pertanyaannya (“Bagaimanakah jika orang mempergunakan kesenian sebagai mata pencaharian ?”), tetapi dengan kata-kata “hendak mengarahkannya”. Maknanya adalah jangankan mempergunakan, orang hendak mengarahkan kesenian sebagai mata pencaharian saja maka akan rusak binasalah kesenian itu. Dengan kata lain, baru niat saja (belum melakukan) dalam diri seseorang terhadap kesenian hal tersebut sangatlah besar akibatnya. Niat di sini dapat berart positif maupun negativ, tetapi keduanya berpotensi besar terhadap kesenian itu sendiri. Keduanya berdampak pada kelangsungan, perkembangan dan kehidupan kesenian tersebut.

Telah dijelaskan di atas mengenai fungsi dan tujuan yang paling dasar dari kesenian, yaitu memperhalus budi pekerti seseorang. Dengan cara apa dan bagaimana ? Dalam hal ini dibutuhkan seorang yang dapat men-transformasi-kan kesenian kepada orang/seorang yang lain, yang berarti ada suatu pembelajaran, ada suatu pengajaran dan ada suatu pendidikan. Pembelajaran apa ? Yaitu belajar mengenai bentuk kesenian, unsure-unsur pembentuknya dan gaya kesenian. Pengajaran yang bersifat bagaimana ? Pengajaran tentang nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian itu. Kemudian pendidikan yang bagaimana ? Pendidikan tentang sikap, prilaku, perkataan, pikiran dan perbuatan terhadap kesenian yang berdampak pada hal-hal lain di luar kesenian.

Lalu bagaimanakah dengan penyajian ? Bukankah di situ terdapat apresiator ? Bagaimanakah apresiator dapat tersentuh dengan ketiga hal tersebut (pembelajaran, pengajaran dan pendidikan) ? Kembali lagi pada niat seseorang terhadap kesenian. Kalau dia berniat belajar kesenian dalam cakupan ketiga hal tersebut di atas, maka apabila hanya salah satu unsur dari ketiga hal tersebut saja yang dapat ditangkap oleh apresiator, kita patut bersyukur. Selain itu bukan hanya sekali dua kali saja penyajian itu dilaksanakan, tetapi ini dapat dilakukan secara berkesinambungan. Yang harus digarisbawahi adalah penyajian itu sendiri. Pemahaman penyajian di sini bisa berarti “penyajian” di depan kelas, “penyajian” dalam kelompok kecil, “penyajian” pada 2 atau 3 orang yang dapat dilakukan atas dasar niat yang mencakup ketiga hal tersebut, yaitu pembelajaran, pengajaran dan pendidikan.

Sesuai judul di atas, “Kesenian sebagai mata pencaharian”, bagaimanakah dengan guru kesenian ? Bukankah itu merupakan mata pencaharian/pekerjaan ? Guru (dalam hal ini mau guru TK, guru SD, SMP,SMA sampai dosen maupun professor disebut guru) adalah predikat ! Pekerjaannya adalah belajar, mengajar dan mendidik ! Medianya adalah kesenian ! Sangatlah jelas, bahwa kesenian digunakan sebagai media untuk mendidik yang berarti memperhalus budi pekerti seseorang (peserta didik) yang akan berdampak pada hal-hal lain di luar kesenian dalam kehidupan yang lebih luas.

13 responses to this post.

  1. kamu seharusnya lebih baik lagi ya!

    supaya jadi cepet kaya

    ngerti!

    Balas

  2. gw akan membantu lo untuk jadi kaya oke!

    Balas

  3. kok kamu bisa jadi hebat,bisa membuat benda kerajinan?

    Balas

  4. Posted by virgantanasale on Februari 13, 2009 at 02:16

    Terimakasih atas kesediaan saudara-saudari membaca tulisan saya.Terimakasih atas komentar saudara-saudari.
    Saya sangat senang.
    Saya akan mengunjungi blog saudara-saudari dan berharap dapat menemukan tulisan balasan mengenai tulisan saya tsb.
    Bagi saudara yang akan membantu saya untuk jadi kaya, saya sangat berterimakasih apabila saudara membagi ilmu tersebut, dan saya berharap semoga bukan saya saja yang dapat ilmu tsb, tetapi juga saudara-saudari kita yang membutuhkannya.
    Matursuwun, matursuwun.
    Untuk broer Iwan, matursuwun sdh rela menyediakan blog-nya untuk tulisan saya tsb.

    Balas

  5. Posted by virgantanasale on Februari 13, 2009 at 07:18

    Untuk Saudari Selly Setiawati, saya berterimakasih atas komentarnya.
    Tiap hari saya membuat “benda kerajinan” berupa aransemen-aransemen pesanan dari beberapa pihak (dalam bentuk orkes, piano maupun paduan suara). Ada atau tidak ada pesanan tersebut, saya tetap membuat “benda kerajinan”. Dan saya tidak berani katakan bahwa itu merupakan kesenian. Saya hanya berusaha untuk melatih membuat aransemen dengan berbagai gaya. Berusaha untuk mengaplikasikan musik yang pernah saya pelajari dalam berbagai aransemen. Dan sekali lagi saya sebut “benda kerajinan’ itulah. Mungkin Saudari Selly berlatarbelakang Seni Rupa/Kerajinan ? Saya tidak anti dengan adanya “benda kerajinan”. Sama sekali tidak.
    Tahun 2008 kemarin saya berkesempatan untuk melihat bagaimana siswa-siswi Sekolah Dasar dari berbagai penjuru tanah air berkumpul di Bandung untuk mengikuti Festival membuat Perahu Tradisional dari berbagai bahan dasar. Ada yang memilih bahan dasar batang pohon pisang, kayu, sampai kerang. Dan saya salut kepada adik-adik tersebut, yang dengan susah payah membuat perahu (sampai ada juga peserta yang tangannya sobek terkena sayatan cutter). Dan hasilnya berbagai “benda kerajinan” yang saya sendiri belum tentu bisa membuatnya saat saya berumur seperti adik-adik tersebut.
    Dalam tulisan saya di atas, saya hanya mengulas tentang pendapat seorang Tn.R.M. Soewardi yang tertuang di buku Ki Hajar Dewantara. Mohon maaf apabila dari ulasan saya tersebut menyinggung para pelaku “kerajinan”.
    Terimakasih sekali lagi, dan saya sangat senang apabila saya dapat mengunjungi blog saudara-saudari sekalian dan kita berdiskusi mengenai berbagai hal. Matursusun. GBU All.

    Balas

    • Posted by indah on Januari 18, 2014 at 10:00

      ini om henry virgan bukan? om kenal sama papa aku? dulu kan satu SMM di yogyakarta nama papa aku yuli purmono.

      Balas

  6. Posted by onesgamelan on Februari 13, 2009 at 08:28

    thanks broer, telah aktif di blog ini. saya ingin sedikit berkomentar. bagi saya karya apapun yang kita buat tergantung dari tujuannya. Dan istilah untuk menyebutkan suatu karya apakah ini disebut karya seni atau karya kerajinan tergantung interpretasi serta wacana masing-masing. Sebuah karya “musik pesanan” tidak selalu berarti musik komersil. yang paling penting kita sendiri memiliki kesadaran akan sikap serta tujuan membuat karya itu. hati-hati, bahwa karya yang disebut kerajinan itu jangan dimaknani dengan konotasi negatif. Saya pikir pekerjaan yang kita lakukan apapun profesinya dapat disebut sebagai mata pencaharian. Dan saya yakin broer henry memahaminya. Hanya menurut saya orientasi pada karya kerajinan lebih banyak tertuju pada kegunaannya sedangkan untuk nilai-nilai yang terkandung dalam karya tersebut untuk sementara tidak begitu penting, akan tetapi tidak menutup kemungkinan sebuah karya kerajinan itu memiliki nilai-nilai yang dalam sehingga dapat dikategorikan sebagai karya seni. Demikian juga sebaliknya. begitulah broer… apakah setuju?

    Balas

  7. Posted by HERY UDO on Februari 14, 2009 at 06:11

    sangatlah sulit untuk menghindari seni dalam hal ini musik sebagai salah satu mata pencarian apalagi di era globalisasi penuh iming-iming ini, tidak bisa dipungkiri pekerja seni butuh dapurnya ngebul. Namun tidak semua seni jualan itu tidak memiliki nilai. aku melihat musik jualanmu pun banyak yang memiliki nilai, nilai renungan dan tentu komersil..he.he..ok tralala broer, nulis trussss….

    Balas

  8. Posted by henry virgan on Februari 16, 2009 at 11:17

    Terimakasih Broer Iwan, atas tanggapan serta pemikirannya. Setuju bahwa apapun itu “pesanan”nya, kalau berguna bagi orang lain tancap terus. Dan tepat kata-kata broer untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah kita kerjakan.
    Untuk broer Udo,”Maturnuwun Broer. Kapankah kita akan membuat video pembelajaran tentang KERONTJONG ?”

    Balas

  9. Posted by Giwang on Februari 19, 2010 at 01:41

    Mas Hnedry pa kabar?
    Tulisannya cukup membuka “mata-ku”, ternyata kesenian itu koyo ngono toh mas…sblumny aku kira kesenian itu tercipta selain atas kebutuhan nilai, etika, dan estetika, juga iso dijadikan alat untuk survive di dalam pengertian dapat dijadikan penyangga kehidupan, sbb kt orang konon seni itu hasil daya cipta manusia sebagai akibat adanya kompleksitas berpikir yang kemudian menjadikan perilaku dan cara berpikir yg universal itu menjadi kebutuhan untuk memenuhi kelangsungan hidup, jd kesenian “dikomersilkan” mas. contohnya kesenian tradisional dulunya kan mmiliki fungsi sebagai kebutuhan ritual, skarang? “komersil” mas.
    trim’s pencerahannya.

    Balas

  10. Posted by wahyu panca wati on Juli 5, 2011 at 05:15

    hallo,mas!! saya baru baca tulisan mas, menarik sekali. memang dilematik menjadi seniman. di satu sisi, untuk mempelajari kesenian butuh waktu yg panjang dan daftar biaya yg pauaanjang juga, dan di sisi yang lain hati menjadi risih saat kesenian yg ditampilkan dibandrol dengan rupiah atau bahkan di diskon dan diobral, sebab nilai kesenian itu sendiri tdk sanggup dinilai dengan uang. namun demikian para seniman tidak perlu merasa “berdosa” saat ada pihak-pihak yg mengapresiasi kesenian dengan nilai uang, atau menjadikannya profesi. bila tidak ada seniman yg profesinya sebagai pekerja seni, siapa yg akan melestarikan dan mengembangkan kesenian? saya sangat mengagumi para pekerja seni, para guru kesenian, pencipta lagu, musisi, penabuh gamelan,dsb, orang-orang seperti mas henry yg begitu mencintai kesenian, yg mendedikasikan hidupnya untuk berkesenian, semua orang itu pantas mendapatkan apa yg seharusnya mereka dapatkan. yaitu rasa hormat dan penghargaan yg tinggi.
    ditunggu tulisan lainnya, ya mas! terus berkarya, Tuhan Sumber Segala Inspirasi memberkati mas selalu……

    Balas

  11. Posted by tito on Desember 15, 2011 at 18:36

    GBU mas..

    Balas

  12. Posted by indah on Januari 18, 2014 at 09:56

    ada yg tau nomer hp nya om henry ngga soal nya om henry itu temen papa aku waktu SMM yogyakarta nama papa aku yuli purmono tanyain deh pasti kenal. please tolong tanyain soalnya temen lama

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: