Analisis Musik “Orang Basah” Karya Harry Roesli

Oleh Iwan Gunawan

Ada berbagai permasalahan yang penulis hadapi ketika memulai menganalisis karya ini. Pertama, yaitu dokumen karya “orang basah” yang penulis peroleh untuk sementara ini adalah dokumen yang berupa rekaman audio saja. Sedangkan dokumen tertulis seperti notasi, coretan dan lain-lain tidak ditemukan karena kebanyakan karya-karya Harry Roesli dibuat dalam arsip komputer melalui program/software yang namanya SP Gold (untuk system WS sebelum window), persoalannya computer jenis tersebut sudah sangat langka. Untuk itu dalam beberapa pembahasan penulis mencoba membuat notasi yang bersifat analitis (bukan notasi lengkap) yang berdasar pada dokumen audio tersebut.

Persoalan di atas di dasari oleh suatu pemikiran seperti apa yang dikemukakan oleh Suka Hardjana, antara lain.

…cukup banyak karya-karya baru dan lama dari para pencipta musik seni di Indonesia yang bagus-bagus hilang atau dilupakan begitu saja karena tiadanya dokumen-dokumen tertulis otentik memadai yang memungkinkan untuk bisa dilacak kembali melalui studi kearsipan manuskrip. Kita tidak tahu, bagaimana seluruh proses penciptaan musik yang hebat-hebat itu dibuat. Dokumen dalam bentuk rekaman audio-visual tidak cukup memadai untuk menelaah kembali studi karya musik. Dokumen tertulis dalam berbagai deskripsi teks, tanda-tanda, corat-coret kode, dan petunjuk simbol-simbol, maupun notasi komposisi, masih tetep relevan dan menjadi sumber bukti utama untuk suatu telaah musik. Dari telaah studi tertulis inilah ‘musik baru’ dikembangkan. Bukan dari spekulasi daya dengar yang seolah-olah. (17:2003)

Kedua adalah, dalam hal kaitan antara musik dengan syair, tidak akan dibahas dikarenakan beberapa masalah, salah satunya adalah penulis sampai saat ini belum mendapat informasi yang jelas tentang isi syair tersebut, sebab artikulasi syair pada rekaman audio ini tidak semuannya terdengar jelas. Oleh karena itu, daripada terjadi kesalahpahaman sebaiknya aspek ini untuk sementara penulis abaikan.

Ketiga, dalam mengidentifikasi mengenai nama-nama instrumen secara spesifik (kaitan dengan warna suara, register/range dll), terutama bunyi/sound instrument synthesizer, penulis merasa ragu untuk menyebutkan atau menentukan nama instrumen secara pasti. Hal ini dikarenakan ada dua kategori sound yang digunakan, antara lain sound synthesizer yang merupakan tiruan dari alat musik akustik dan sound synthesizer murni yang merupakan proses olahan secara elektronik yang dapat memungkinkan terciptanya berbagai karakter/warna suara yang lain (selain alat musik akustik).

SASARAN ANALISIS

Dalam melakukan analisis sebuah karya musik, tentunya kita berupaya agar hasil dari analisis tersebut dapat bersifat obyektif. Namun pada kenyataannya, sering kali sebuah analisis karya musik dapat bermacam-macam hasilnya, tergantung dari sudut pandang mana kita dapat menilainya. Hal ini dikarenakan tools (meminjam istilah dari Suka Hardjana) atau wahana masing-masing orang sangat berbeda. Sehingga jika satu karya musik kemudian dianalisis oleh dua orang akan terjadi dua hasil yang berbeda, walaupun secara kebetulan memiliki arah yang sama tetapi tidak mungkin persis detailnya. Oleh karena persoalan di atas, penulis mencoba membatasi sasaran analisis dalam dua aspek, antara lain:

1. Kesan Afektif

Bagi orang awam, aspek ini adalah aspek yang pertama kali ditangkap ketika seseorang mendengar karya musik. Dari aspek ini timbul kesan yang sifatnya lebih subyektif yang berhubungan dengan perasaan-perasaan seperti sedih, gembira, menggangu, menyakitkan, enak, tidak enak dan lain-lain. Kemudian dari aspek ini juga akan terbentuk suatu selera pribadi yang kadang-kadang memungkinkan timbul kesan positif maupun negatif. Oleh karena itu aspek ini akan sangat sulit diukur karena berbagai kesan afektif yang dirasakan masing-masing orang akan sangat berlainan. Namun demikian aspek ini sangat penting karena tanpa aspek ini mendengarkan musik akan sangat membosankan.

2. Kesan Parametris

Aspek ini merupakan aspek yang berhubungan dengan hal teknis yang setidak-tidaknya dapat diukur. Aspek ini meliputi sebagai berikut:

a) Bentuk

b) Frekwensi (Tinggi Rendah Nada)

c) Durasi (Ritme, Tempo)

d) Dinamika

e) Warna Suara/Warna Bunyi

f) Artikulasi

Dalam uraian analisis, baik kesan afektif maupun kesan parametris, dalam prosesnya diperlukan interprertasi dari penulis yang bertujuan agar dapat menemukan keunikan-keunikan yang ada dalam karya ini. Selain itu analisis ini tidak berurutan berdasar pada unsur-unsur di atas, tetapi berdasarkan pada urutan peristiwa bunyi yang terjadi dalam karya itu.


ANALISIS MUSIK “ORANG BASAH”

klik di sini untuk mendengar

contoh audio

karya Orang Basah

1. Pembukaan

Musik ini diawali oleh bunyi “gong” (synthesizer) sebagai tanda dimulainya karya ini. Kemudian muncul “marimba” dengan motif sebagai berikut.

Notasi 1

not1

Dengan adanya aksen, sudah sangat jelas untuk sementara dapat kita tentukan bahwa karya ini berbirama 4/4 dan motif ini diulang dua kali (4 Bar). Selanjutnya pada bar ke-4 muncul melodi sebagai tanda ada tambahan bunyi lain. Melodi ini kita sebut sebagai “melodi pendek”, dengan alunan nada sebagai berikut.

Notasi 2

new-picture-1

Secara sekilas, oleh karena warna suaranya melodi ini terdengar agak asing, namun jika kita lihat jumlah nada serta susunan intervalnya melodi ini bersifat pentatonic mirip laras degung atau pelog jawar. Jika kita identifikasi serta urutkan nadanya dari yang paling tinggi adalah sebagai berikut.

Notasi 3

new-picture

Kemudian bunyi “sax” masuk dengan motif ritme seperti di bawah ini.

Notasi 4

new-picture-2

Dengan tambahan bunyi “sax” menghasilkan tekstur ritme yang lebih tebal, karena antara motif “marimba” awal dengan motif “sax” ini memiliki aksen yang kurang lebih sama, apa lagi dalam nada “sax” terdapat nada yang meloncat satu oktaf dan sangat dirasakan sebagai aksen juga (malahan lebih kuat), sehingga kedua motif ini terkesan saling mengisi. Motif sax ini diulang tiga kali (6 Bar). Sampai di sini, peristiwa bunyi dari mulai bunyi “gong” sampai bunyi “sax” dapat dikatakan sebagai bagian pembukaan. Selanjutnya tekstur tersebut menjadi suatu landasan atau semacam “ancang-ancang” untuk bagian selanjutnya.

2. Bagian A

Peristiwa selanjutnya adalah masuknya bunyi tutti (bunyi bersama-sama) dengan tekstur melodi yang cepat dan padat, kita sebut saja sebagai bagian A. Bagi penulis bagian ini dapat dirasakan sebagai “awal suatu adegan” karena teksturnya yang sangat kontras dibanding dengan peristiwa bunyi sebelumnya. Selain itu kalimat melodinya terasa mulai “membicarakan sesuatu”, menurut penulis hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain, kehadiran vocal dengan syair dan adanya nada akhir yang sama dari semua frase-frase melodi. Oleh karena itu, seolah-olah kemana pun nada-nada itu bergerak selalu memiliki arah serta tujuan tertentu seperti sebuah “topik pembicaraan”. Bagian ini dapat diidentifikasi memiliki empat frase melodi dengan nada akhir yang selalu sama yaitu nada E, seperti notasi di bawah ini.

Notasi 5

notasi-51

Kalau kita perhatikan melodi di atas, bahwa frase 1, 2 dan 3 memiliki kalimat melodi yang masing-masing berbeda namun akhir kalimat selalu berakhir pada ketukan arsis. Sedangkan frase 4 sebenarnya hampir mengulang atau hampir sama dengan frase 2, hanya pada frase 4 terdapat tambahan kalimat melodi yang memiliki fungsi mengakhiri atau menyelesaikan keseluruhan melodi bagian ini. Selain itu pada frase 1 dan 2 tidak ada bunyi perkusi namun perkusi baru mulai masuk pada frase ke 3. motif perkusi tersebut kurang lebih seperti notasi di bawah ini.

Notasi 6

new-picture-5

Pada bagian ini terdapat pula beberapa kalimat melodi improvisasi yaitu semacam “lead” yang seakan-akan memberi reaksi terhadap melodi tutti secara bergantian.

3. Bagian A’

Berikutnya, keseluruhan bagian di atas baik melodi tutti maupun aspek improvisasi diulang, namun sebelumnya, “lead” dan motif perkusi seperti di atas berjalan selama 4 bar, kemudian motif perkusi tersebut diulang-ulang, berfungsi sebagai landasan melodi.

4. Bagian B

Setelah itu kembali ke bagian perkusi serta ditambah dengan vocal. Bagian ini kita sebut sebagai bagian B. Melodi vocal dapat kita lihat seperti notasi di bawah ini.

Notasi 7

new-picture-6

Setelah bagian ini diulang dua kali, diselesaikan oleh melodi “penyelesaian” seperti yang terdapat pada melodi frase 4 bagian A.

Notasi 8

new-picture-7

5. Bagian C

Peristiwa bunyi selanjutnya mesti dikatakan sebagai bagian C oleh karena secara materi terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Salah satu ciri khasnya adalah adanya kesan blue not, seperti gaya melodi pada jenis musik blues atau jazz. Lihat notasi di bawah ini.

Notasi 9

new-picture-8

Jika kita lihat notasi di atas, terdapat kalimat melodi sebanyak 6 frase. Pengelompokan ini berdasarkan pada suatu pertimbangan yang mana setiap frase dalam kalimat melodi tersebut selalu diawali dengan not 1/16 an yang jatuh pada ketukan arsis (lihat not yang berwarna merah), sehingga dapat dirasakan sebagai ketukan opmat. Untuk itu suatu frase melodi yang diawali dengan ketukan tesis dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang lain. Penulis memberi istilah pada melodi ini yaitu selingan 1, selingan 2 serta penyelesaian seperti melodi frase 4 pada bagian A. Selain itu dari keseluruhan melodi pada bagian ini terdapat urutan frase yang mengalami pengulangan yaitu frase 1, frase 2, frase 3 (lihat tanda dengan block tipis) dan frase 2 frase 5 (lihat tanda dengan block tebal). Namun karena teknik pengolahannya urutannya terasa acak, sehingga secara auditif ulangan tersebut tidak mudah untuk diingat.

Pada prinsipnya melodi ini terkonsentrasi pada nada B dengan acciaccatura nada Ais (blue notnya) yang selalu muncul pada ketukan pertama (tesis), sehingga sangat terasa kuat dan menonjol. Hal ini sebenarnya merupakan suatu konsep pengolahan serupa jika kita bandingkan dengan setiap frase melodi akhir bagian A yang selalu berakhir dengan nada E dan akhirnya boleh kita katakan bahwa konsep pengolahan melodi ini dianalogikan seperti sebuah sikap “to the point”.

Dari apa yang penulis dengar maupun mencoba untuk menulis notasinya, melodi ini terasa memiliki kompleksitas yang cukup tinggi. Namun setelah diamati kembali bahwa sebenarnya melodi ini berdasar pada lima nada (Pentatonic), yang mana nada-nada tersebut merupakan nada pokok pada keseluruhan melodi bagian ini, sedangkan nada-nada lain dapat dikatakan sebagai blue not atau nada lintasan saja. Lima nada pokok tersebut yaitu.

Notasi 10

new-picture-9

6. Interlude

Berikutnya masuk pada bagian lain, kita sebut saja interlude, karena bagian ini berfungsi sebagai jembatan saja untuk masuk pada bagian selanjutnya. Melodi bagian ini merupakan melodi kutipan dari frase-frase melodi yang terdapat pada bagian A, namun terdapat sedikit perbedaan oleh karena aspek pengolahan serta munculnya bunyi bass dan drum sebagai landasan. Kita lihat notasi di bawah ini.

Notasi 11


not-11

Seperti yang terlihat dalam notasi di atas, bahwa melodi interlude ini dibangun dari materi melodi bagian A terutama frase 2 awal dan frase 4 bar ke 2 (lihat dan bandingan dengan bagian A). Namun kutipan frase 4 bar ke 2 ini selanjutnya diolah dengan menambah nada hingga menjadi sebuah akor vertikal dengan interval kwart murni yang bergerak secara paralel. Selanjutnya bagian ini diakhiri oleh melodi “penyelesaian” seperti yang telah muncul sebelumnya, hanya vocal mulai masuk pada bagian syair ;“orang basah orang yang penting”.

7. Bagian B’

Bagian selanjutnya kita kategorikan sebagai bagian B’ (dengan aksen) karena materi utamanya adalah materi melodi seperti pada bagian B, hanya saja teksturnya sangat berbeda. Hal ini disebabkan oleh bunyi-bunyi instrument jadi lebih banyak walaupun sebenarnya semua materi pada bagian ini telah muncul sebelumnya, kecuali motif drum yang muncul paling awal pada bagian ini. Materi bunyi-bunyi instrument itu antara lain sax, “melodi pendek”, perkusi, bass dan improvisasi “lead”. Masuknya instrument tersebut berjalan secara berurutan, pertama Beat drum (gaya Jazz Rock), setelah selama 2 bar disusul vocal bersamaan dengan bass serta “melodi pendek”, dalam waktu selama 4 bar kemudian masuk perkusi, setelah 4 bar lagi masuk “sax” dan improvisasi “lead” berjalan sampai 6 bar. Motif-motif instrument serta vocal tersebut dapat kita lihat pada notasi di bawah ini.

Notasi 12

not-12

Selanjutnya yang tersisa hanya improvisasi dan perkusi 1 yang menjadi jembatan untuk bagian selanjutnya.

8. Bagian D

Peristiwa bunyi yang terjadi kemudian adalah kita sebut sebagai bagian D. bagian ini merupakan sebuah konsep pengolahan ritme yang cukup kompleks. Jalinan ritme antara ritme perkusi dengan ritme vocal seperti berjalan sendiri-sendiri, sehingga dapat dikatakan sebagai polyritme. Yang unik adalah bahwa materi dasar ritme sebenarnya sangat sederhana. Hampir secara keseluruhan ritme ini bangun dengan menggunakan not 1/16-an, hanya saja bahan ritme ini diolah sedemikian rupa sehingga memiliki kesan aditif serta menghasilkan pola ritme yang sangat variatif. Salah satu contoh kita lihat notasi untuk vocal, seperti di bawah ini.

Notasi 13

new-picture-10

Pada intinya bagian ini merupakan permainan ritme dengan warna suara. Syair pada setiap suku kata seperti o – rang – ba – sah – dan – ke – ring – uh – hey, diperlakukan sebagai fonem yang memiliki warna suara tersendiri. Apalagi ditambah dengan ritme perkusi yang diolah pula warna suaranya, sehingga menghasilkan suatu tekstur yang yang saling bersahutan atau saling mengisi.

9. Bagian E

Berikutnya masuk pada suatu melodi yang sama sekali “baru”, alasan penulis menyatakan baru karena gaya melodi ini sangat lain daripada sebelumnya. Perbedaannya tampaknya terletak pada pendekatannya, yakni melodi-melodi awal cenderung dibangun dari pendekatan secara harisontal, namun pada bagian ini pendekatan bukan hanya secara harisontal tetapi secara vertikal. Artinya konsep jalinan melodi berdasarkan pertimbangan suatu akor. Seperti seorang pianis jazz saat berimprovisasi (tentunya jazz tradisional), biasanya alunan melodi yang dimainkan dengan tangan kanan mesti ada korelasi dengan tangan kiri yang bermain akor baik secara langsung maupun tidak. Bagian ini kita sebut sebagai bagian E. Untuk lebih jelas kita lihat notasi di bawah ini.

Notasi 14

new-picture-11

Coba lihat not 1/16-an yang ditandai dengan diblock, not-not dalam motif melodi tersebut bersifat repetitive serta memiliki loncatan interval yang hampir sama, perbedaannya hanya terletak pada satu not yaitu not Bes (warna merah) dan not Gis (warna biru). Sedangkan perbedaan ritme terletak pada posisi ketukan khususnya nada E. ulangan pertama jatuh pada sub division 1, ulangan kedua jatuh pada sub division 3, ulangan ketiga jatuh pada sun division 2 sedangkan dua ulangan berikutnya posisi ketukan sama dengan ulangan pertama dan kedua. Suatu konsep dimana sebuah motif melodi diulang dengan memilki posisi ketukan yang berbeda akan terasa memiliki perasaan birama yang bervariasi (aditif), padahal bagian ini masih dibangun dalam birama 4/4.

10. Bagian F

Selanjutnya pada bagian F terjadi sebuah suasana yang sangat kontradiktif, karena tiba-tiba saja masuk angklung dan kendang dengan gaya boboyongan. Perlu diketahui bahwa boboyongan dalam kesenian tradisional sunda memilki kesan meriah, musik semacam ini sering dipakai salah satunya dalam upacara perayaan. Namun dalam karya ini boboyongan tersebut memilki konteks yang lain. Aspek musikalnya tidak usah dibahas karena hanya menggunakan motif sederhana serta diulang-ulang. Jika kita sedikit menghubungkan dengan judul karya ini, maka konteksnya menjadi agak jelas. Bagian ini menurut menulis merupakan “kenakalan” Harry Roesli dalam misinya tentang protes terhadap keadaan politik di Indonesia. Akhirnya musik boboyongan ini secara afektif terasa sangat ironis dan dapat ditafsirkan bermacam-macam. Apakah musik ini bermaksud mengolok-olok, atau sekedar basa basi seperti kepolosan warga kampung saat menyambut seorang pejabat yang mengunjungi desanya? Penulis kira kita bebas untuk menafsirkannya. Yang pasti bahwa pada bagian ini aspek suasana hiruk pikuk yang “merakyat” sangat terasa sekali.

Nampaknya suasana ini semakin menarik ketika instrument bass masuk dengan gaya “walking bass” (seperti dalam irama swing jazz) yang terasa arahnya tak tahu kemana seperti “orang mabuk”. Kesan ini sebenarnya dibangun dari aspek improvisasi bass yang secara harisontal nada-nadanya melangkah secara kromatik dengan “teknik 12 nada” yang bertujuan menghindari kesan pusat nada. Selanjutnya, ternyata berbagai motif sebelumnya muncul kembali hingga menyatu dengan musik boboyongan. Motif-motif tersebut antara lain, motif bass seperti pada notasi 11, motif perkusi seperti pada notasi 6, melodi pendek seperti pada notasi 2, motif sax seperti pada notasi 4, ditambah dengan aksen-aksen drum.

11. Bagian E’

Pada bagian ini, materi dasarnya adalah melodi bagian E, hanya materi tersebut diolah instrumentasinya.

Notasi 15

new-picture-12

Materi di atas diulang sebanyak empat kali, ulangan pertama persis seperti pada bagian E ditambah dengan aksen-aksen, ulangan kedua dan ketiga teksturnya dipertebal, sedangkan ulangan ketiga hanya akornya saja (lihat kunci bass).

12. Bagian G

Bagian ini merupakan kombinasi antara bagian E dan bagian A. Materi bagian E terutama motif akord dijadikan sebagai landasan untuk melodi bagian A frase 3 dan melodi interlude. Seperti notasi di bawah ini.

Notasi 16

new-picture-13

13. Bagian E’’

Pada prinsipnya, bagian ini bersumber dari bagian E, namun aspek instrumentasinya diolah lagi serta ada tambahan vocal sehingga berbeda dengan olahan sebelumnya. Materi pertama yang muncul adalah motif akordnya kemudian ulangan kedua materi utuh bagian E.

ul12

14. Bagian B’’

Pada bagian ini melodi vocal kurang lebih sama dengan bagian B, yang berbeda terletak pada landasannya yaitu motif marimba seperti pada bagian pembukaan.

vok-mar

15. Bagian C’

Bagian ini diambil dari melodi bagian C separuhnya serta dikombinasikan dengan perkusi pada bagian D. Materi bagian ini sebenarnya tidak begitu tampak ada pengolahan, sehingga kesan mengulang persis bagian C agak kuat. Namun karena aspek perkusi dari materi bagian D menyebabkan teksturnya berbeda, sehingga dapat dikatakan sebagai bagian yang lain.

new-picture-14

16. Bagian Akhir (Penutupan)

Secara proses, bagian ini merupakan pengulangan dari motif awal atau bagian pembukaan dengan arah mundur. Jika pada bagian pembukaan di awali dengan gong kemudian perkusi, pada bagian ini, terjadi sebaliknya. Seperti kata pepatah asal dari tanah kembali ke tanah.

KESIMPULAN

Dari hasil analisis ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa karya ini, mulai dari bagian awal sampai bagian akhir tak ditemukan ulangan bagian yang sama persis. Artinya, setiap bagian selalu mengalami perubahan, perbedaan atau perkembangan. Dengan kata lain bahwa pengolahan bentuk Yang terjadi dalam karya ini sangat progresif. Jika kita urutkan bagian-bagian dari bentuk karya ini, antara lain:

–  PEMBUKAAN (AWAL)

–    A – A’ – B – C

–    INTERLUDE

–    B’ – D – E – F – E’ – G – E’’ – B’’ – C’

–    PENUTUPAN (AKHIR)

Selain itu, bahan atau materi dasar yang disusun dalam karya ini sangat dibatasi sehingga terkesan hemat. Konsep hemat dalam karya ini, bukan saja terdapat pada pengolahan bentuk secara keseluruhan tetapi juga terlihat pada materi-materi dasar pada setiap bagian. Selanjutnya, bahan yang terbatas tersebut diolah sedemikian rupa (“diotak-atik”) hingga akhirnya menjadi kaya.

Jika kita kaitkan antara sosok Harry Roesli (seperti yang pernah dibahas pada bagian sebelumnya) dengan karya ini, ada beberapa hal yang perlu kita tafsirkan kembali sejauh mana kecocokannya. Seperti tentang penggunaan idiom musik pop, rock, dan jazz, tampaknya sangat jelas sekali terlihat dalam beberapa elemen bagian. Misalnya, aspek “beat drum” (gaya Jazz Rock), sinkopisasi, improvisasi, blue not, akord “kwart-kwart”, dan lain sebagainya.

Sedangkan persoalan mengenai kritik sosial politik, nampak pada judul atau syair. Sebenarnya, jika kita menyimak sedikit dari kutipan syair yang terdengar jelas, seperti pada bagian B, antara lain, “Orang basah – Orang yang penting – berdiri miring – tak bisa kencing – orang bertaring”, cukup jelas dapat kita tafsirkan bahwa kata-kata tersebut memiliki makna, maksud serta tujuan seperti di atas, yakni kritik sosial politik. Selain itu, penggunaan melodi yang cenderung harisontal, serta penggunaan instrument angklung secara parametris dapat ditafsirkan sebagai sikap “kepedulian lingkungan” serta membuktikan adanya wacana tentang musik etnik (khususnya Sunda). Dalam hal ini keterlibatan musik boboyongan pun, dapat memilki kesan kiritk juga seperti yang telah dikemukakan dalam proses analisis.

Terakhir adalah konsep pertunjukan yang antara lain melibatkan unsur teater, seni rupa, seni tari, gambar, film dan lain-lain yang orsinil khas “Indonesia”, mengingatkan kita pada konsep “seni tontonan” seiring dengan semangat kesenian tradisional seperti, Lenong, Ketoprak, Topeng Banyet, Wayang dan sebagainya.

One response to this post.

  1. membaca tulisan ini aku menjadi sedih penuh haru ingat saat bersama sama harry roesli dan putu wijaya beserta rombongan teater mandiri pementasan the coffin di hamburgah jerman saat festifal teater musim panas mewakili asia dengan membawakan THE COFFIN karya sastrawan singapura , sutradara putu wijaya . Saat itu harry mengiringi babak babak pementsan putu dg organnya dan aku meniup serulingnya , lalu saat pementasan teater selesai aku dan harry pindah ke ruangan musik menyanyikan lagu lagu daerah diiringi organ harry selang seling tiupan seruling . Saat sepuluh hari di hamburgh ( tgl 17 sd 27 agustus ) ikut pementasan adalah saat saat terakhir bersama harry roesli yang rendah hati terbuka dan spontan penuh ceria. Selamat jalan kawanku harry roesli

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: