MUSIK GAMELAN

Oleh Iwan Gunawandigital-musik

Kata “gamelan” sebenarnya memiliki pengertian yang menunjuk pada alat atau instrumen musik. Oleh karena itu pengertian gamelan belum dapat menjelaskan apa-apa tentang musiknya, bahkan belum dapat pula dikaitkan dengan ciri khas budaya tertentu. Sekalipun setelah kata gamelan tersebut dibubuhi kata lain, seperti gamelan Jawa, gamelan Bali, gamelan Sunda, gamelan Amerika (?) dan apapun namanya, pengertian gamelan tersebut belum dapat menjelaskan secara proposional, masih terlalu umum dan kabur. Sementara di beberapa pihak istilah gamelan selalu memiliki pengertian serta selalu dikaitkan dengan budaya tertentu, etnik tertentu bahkan jenis musik tertentu. Seperti kita ketahui bahwa, ciri khas suatu karya musik tidak bisa dipandang sepenuhnya dari instrumen yang digunakan namun akan lebih jelas jika dilihat dari penggunaan sistem musiknya. Begitu pula dengan musik gamelan. Sebagai contoh, antara gamelan pelog salendro yang digunakan di Jawa dan di Sunda, baik dilhat dari jumlah instrumennya, warna suara, bentuk dan lain sebagainya, saat ini boleh dikatakan kurang lebih sama , akan tetapi karakter serta sistem musiknya sangat berbeda. Apa lagi jika kita mengamati pada setiap karya, terutama karya-karya baru yang telah diciptakan akhir-akhir ini, bahwa pada dasarnya sudah tidak penting lagi bahwa alat gamelan ini berasal dari mana, bagaimana sikap dan cara memproduksi bunyinya dan lain sebagainya, karena bagaimanapun gamelan tersebut hanya sekedar alat, seperti alat-alat musik lainnya yang digunakan sebagai wahana kreatifitas bagi seniman. Sebagaimana alat musik lainnya, gamelan memiliki potensi untuk digunakan serta dikembangkan oleh siapa saja dan dengan cara apa saja. Namun pada kenyataannya, sebagian masyarakat seni gamelan di Indonesia masih memiliki beban-beban prasangka yang terkadang menghambat perkembangan musik gamelan yang sebenarnya dapat berkembang jauh lebih terbuka. Sebuah kritik tentang perkembangan musik gamelan di Indonesia pernah dikemukakan oleh Suka Hardjana, antara lain.

Gamelan di satu pihak masih selalu diwaspadai dan diprasangkai oleh ‘pihak lain’ (the otherness), di lain pihak masih terlalu ‘disepihaki’ (diklaim) sebagai milik oleh suatu kelompok masyarakat atau etnik tertentu. Kedo-kredo ‘adilihung’, ‘asli’ dan ‘dijaga kelestariannya’ menjelaskan sikap keberpihakan yang sempit itu, sehingga jenis kesenian seperti gamelan sangat terikat pada locus budayanya dan susah melakukan ekspansi secara terbuka. Ia akan selalu cenderung bersifat eksotis, terasing, dan tidak ikhlas di luar dirinya.

Fenomena musik gamelan di Indonesia dilihat dari sudut perkembangannya, memiliki persoalan yang cukup kompleks. Apa yang dianggap ‘baru’ oleh seniman sunda belum tentu diakui oleh seniman daerah lain begitu pun sebaliknya. Pernyataan ini sebenarnya mencerminkan sikap keberpihakan seperti yang dijelaskan pada kutipan di atas. Sikap keberpihakan ini sampai saat ini masih terjadi , terbukti oleh karya-karya yang dianggap ‘baru’ sekarang ini, yang seolah-olah masih terbebani oleh masa lalu (tradisi). Banyak komponis gamelan saat ini secara sadar ataupun tidak merasa kesulitan untuk “keluar” dari rasa tradisinya. Apakah memang untuk mengembangkan seni gamelan mesti “keluar” dari rasa tradisinya (kebiasaan)?, bagi penulis hal itu penting untuk dilakukan sebagai suatu sikap serta motivasi untuk mencari ke’baru’an, tanpa harus terkungkung oleh vokabuler atau repertoar yang telah menjadi tradisi. Jika tradisi dipandang sebagai suatu karya seni, maka tradisi itu akan bermanfaat sebagai bahan perbandingan, telaah musik, referensi sejarah, inspirasi dan lain sebagainya yang dapat memberi kontribusi terhadap penciptaan karya-karya baru. Namun jika tradisi itu dipandang sebagai sebuah spirit atau objek yang harus terus dilestarikan, dalam satu sisi tradisi itu akan mengungkung kreatifitas seniman. Penulis sependapat dengan apa yang dikemukakan Suka Hardjana tentang pernyataan berikut ini.

Gamelan punya potensi untuk berkembang lebih jauh melewati batas-batas persemaian budayanya sendiri. Tetapi, ia harus dibebaskan dari rasa mindernya sebagai sekadar budaya etnis. Teori-teorinya harus dikembangkan. Konsep-konsepnya harus diperbaharui. Tokoh-tokohnya harus dibangunkan dari mimpi-mimpi proyek dan takhayul budaya superioriti. Oleh karenanya, gamelan harus dinetralisir dari bayang-bayang sugesti rasa kedaerahannya yang secara geokultural sangat sempit. Adalah ironis bahwa seni gamelan dipelajari oleh banyak orang di banyak negara, tetapi di negaranya sendiri terus-menerus diprasangkai, terasing, dan kalah dengan musik-musik yang sebenarnya justru asing.

Salah satu hambatan lain pada perkembangan musik gamelan di Indonesia adalah kurangnya kesadaran serta perhatian terhadap perkembangan struktur gramatika musik. Hal ini disebabkan karena kurang dilakukannya telaah-telaah musik yang telah diciptakan (baik karya tradisi maupun karya baru), yang kemudian hasil dari telaah musik itu dapat dijadkan sebagai bahan kajian untuk menumbuhkan sikap kritis demi kemajuan karya-karya di masa depan. Untuk menelaah suatu karya musik (terutama karya noname/komponisnya sudah meninggal) diperlukan dokumen-dokumen, salah satunya adalah notasi atau partitur. Inilah masalahnya. Tampaknya para seniman gamelan di Indonesia tidak begitu merasa perlu adanya notasi atau partitur, terbukti bahwa sampai saat ini belum dapat ditemukan metode penulisan notasi yang dapat mewakili atau memadai konsep musik gamelan itu sendiri. Bahkan notasi yang digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seni dan berlaku sampai saat ini pun masih menjadi masalah yang kontroversial. Melihat pada persoalan itu Rahayu Supanggah berpendapat, antara lain.

… di konservatori-konservatori muncul pembakuan pola-pola (cengkok) tabuhan gender, kendang, rebab dan sebagainya yang disistematisikan dan dibakukan dalam bentuk rumus-rumus atau formula, diabadikan dengan notasi-notasi karawitan (kepatihan). Notasi tersebut merupakan ‘abstraksi’ dan atau bentuk penyederhanaan dari seseorang terhadap pola-pola tabuhan berbagai instrumen yang variatif, selalu berubah dan kompleks.

masih dalam tulisannya, pendapat di atas diperkuat oleh pendapat SD Humardani yaitu, … notasi adalah identik dengan pemalasan, penyeragaman, pembekuan kreatifitas dan pengebirian kepekaan musikal. Sementara, alasan penulis menyatakan pemikiran ini didasari atas apa yang dikemukakan oleh Suka Hardjana, sebagai berikut.

…cukup banyak karya-karya baru dan lama dari para pencipta musik seni di Indonesia yang bagus-bagus hilang atau dilupakan begitu saja karena tiadanya dokumen-dokumen tertulis otentik memadai yang memungkinkan untuk bisa dilacak kembali melalui studi kearsipan manuskrip. Kita tidak tahu, bagaimana seluruh proses penciptaan musik yang hebat-hebat itu dibuat. Dokumen dalam bentuk rekaman audio-visual tidak cukup memadai untuk menelaah kembali studi karya musik. Dokumen tertulis dalam berbagai deskripsi teks, tanda-tanda, corat-coret kode, dan petunjuk simbol-simbol, maupun notasi komposisi, masih tetap relevan dan menjadi sumber bukti utama untuk suatu telaah musik. Dari telaah studi tertulis inilah ‘musik baru’ dikembangkan. Bukan dari spekulasi daya dengar yang seolah-olah.

Dua pendapat dari kutipan di atas, bagi penulis bukan sebagai sesuatu yang bertentangan, akan tetapi saling melengkapi. Di satu sisi perlu diakui bahwa adanya notasi untuk musik gamelan khususnya musik gamelan di Indonesia memberi implikasi seperti apa yang dinyatakan Rahayu Supanggah. Namun di sisi lain, keberadaan notasi sebagai sebuah konsep suatu karya sangatlah penting sehubungan dengan apa yang dinyatakan Suka Hardjana. Hanya saja bagaimana metode notasi tersebut dapat terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan karya-karya musik gamelan itu sendiri. Selain itu para pelakunya mesti berusaha untuk menghilangkan kecurigaan-kecurigaan atau membebaskan dari prasangka-prasangka pengaruh budaya luar (sehubungan dengan informasi bahwa notasi merupakan cerminan budaya tulis yang konon katanya berasal dari budaya barat). Apakah setiap karya musik yang ditulis dengan notasi balok dapat dipastikan sebagai karya musik barat?, jawabannya belum tentu. Ada hal yang barangkali kita lupakan bahwa notasi dalam musik gamelan hanya merupakan sebuah alat atau konsep yang kemudian dapat diterjemahkan atau ditafsirkan oleh para pemainnya. Oleh karena kompleksitas musiknya yang selalu berubah-ubah, banyak variasi, banyak alternative dan sebagainya, musik gamelan (terutama karya-karya tradisi) memungkinkan tidak dapat atau bahkan tidak perlu untuk ditulis secara detail dan pasti ke dalam sebuah notasi. Namun justru hal inilah yang menarik dalam musik gamelan. Di lihat dari fleksibilitas sistem musiknya, walau bagaimanapun tetap saja dalam struktur musiknya masih terdapat kerangka yang mengikat sebagai sebuah ciri khas atau identitas komposisi. Intinya, peran notasi pada musik gamelan sangatlah penting sejauh seseorang itu mampu membaca dan menulis, permasalahannya adalah bagaimana memanfaatkan serta menginterpretasikan notasi itu?. Para pemain musik gamelan itu lebih mengandalkan rasa. Kedalaman rasa itu tumbuh oleh karena kebiasaan yang hidup dan berkembang dilingkungannya. Akhirnya kata ‘rasa’ ini sering menjadi senjata andalan bagi seniman gamelan ketika harus menjelaskan berbagai aspek musikal pada suatu karya. Hal ini perlu diwaspadai karena melalui faktor ‘rasa’ ini kadang-kadang kita terjebak oleh suatu kondisi yang mapan. Sulit untuk keluar dari kebiasaan demi mencari pengalaman baru. Akibatnya dalam Proses penafsiran suatu karya pada musik gamelan, seringkali aspek keunikan dari gramatika musiknya kurang disadari sepenuhnya. Mereka memainkan musik gamelan berdasarkan pada suatu gaya/style yang telah terbentuk oleh karena kebiasaan. Untuk mengamati sebuah keunikan gramatika musik gamelan tak cukup dengan olah ‘rasa’ saja, akan tetapi tata pikir memiliki peranan yang sangatlah penting sebagai kontrol dalam mengendalikan ‘rasa’. Secara nyata dapat dibuktikan bahwa terdapat beberapa seniman yang dianggap ahli atau diakui oleh karena mereka bermain dengan mengolah rasa dan pikir secara total sehingga kualitas musikal mereka sangat memiliki karakter. Sebagaimana yang telah dikemukakan Suka Hardjana yaitu. “Seni pada akhirnya memang bukan sekedar olah rasa, tetapi totalitas jiwa dan alam pikir manusia secara keseluruhan dalam upaya mencari pembaruan dalam dirinya”.

9 responses to this post.

  1. Blog yg bagus sekali! Amat diperlukan buat mereka yg mau memahami musik… Teruskan!

    Balas

  2. Posted by virgantanasale on Februari 5, 2009 at 08:59

    “Ueeenak, broer !” Dan saya sangat setuju apabila broer Iwan juga menceritakan pengalaman berkarya dan berproses bersama “fatahillah” nya dengan menggunakan media notasi balok ! Pun saat meng-interpretasikan berbagai karya gamelan yang memakai notasi balok ! Maupun penelitian yang broer lakukan tentang pembelajaran gamelan menggunakan notasi balok. Maturnuwun broer. Ditunggu “karya-karyanya”.

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Februari 5, 2009 at 17:06

      ok broer, saya suatu saat mau nulis pengalaman menginterpretasi karya ton de leeuw yaitu “gending’
      dan Reubeudieu arr, kang dody. kayanya banyak hal yang dapat dibahas. mungkin setelah pergelaran “dewi pangrenyep”.
      matur nuwun atas komentarnya.

      Balas

  3. Posted by tendi on Maret 26, 2009 at 15:12

    Sae psan a,,margi dprkuliahan tntang sjrah dan analisis pun qta gak dpt pngrtian dan ilmu tntang gamelan scara luas dan lugas.
    Tulisan saperti ini yang dbtuhkan oleh setiap orang yang peduli terhadap musik,terutama gamelan yang merupakan alat musik yang secara historis asal mulanya dari Indonesia,,negeri kita..

    Balas

  4. Posted by Ferdi Juniardi on Agustus 5, 2010 at 04:29

    Salam kenal. Saya Ferdi bergerak di bidang EO. Bolehkan saya meminta nomor telepon yang dapat dihubungi untuk pertunjukan seni gamelan di Jakarta untuk acara-acara yang akan saya adakan. Terimakasih

    Balas

  5. Ulasannya kritis, ada ‘pencerahan’. Namun mohon hati-hati dalam memahami pendapat Suka Harjana. Menurut saya, tradisi berkembang dalam ketradisiannya, modernisasi berkembang dalam kemodernannya. Keduanya merupakan gejala lumrah dan tidak perlu yang satu merendahkan yang lainnya. Keduanya memiliki arti penting dalam konteks masing-masing.

    Sebenarnya tak ada tradisi dan modern. Tradisi bagi kita adalah modern bagi orang lain. Begitupun sebaliknya. Ia hanya merupakan ‘komunikasi’ antar budaya. Maaf jika saya salah.

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Maret 15, 2011 at 08:12

      hallo kang rachmat, maaf baru balas. sudah lama saya tidak buka blog saya sendiri karena passwordnya lupa. he..he..
      komentar anda menarik perhatian saya sehingga saya mau membalas komentar tersebut.
      Jika anda merasa tak ada tradisi dan modern berarti anda tidak percaya akan eksistensi tentang waktu berserta perkembangan peradaban budaya tertentu. persoalan tradisi dan modern dalam musik berhubungan dengan masa lampau dan masa sekarang tetapi tidak berarti mana yang paling baik. hal ini hanya memberi ciri tentang pemikiran para seniman yang hidup dalam kurun waktu tertentu yang dipengaruhi oleh lingkungan atau peradaban yang berlaku saat itu. dengan demikian sesuatu yang modern suatu saat akan menjadi tradisi, akan tetapi tidak sebaliknya karena kita tidak bisa kembali ke masa lampau. dan kedua hal itu saling membutuhkan (simbiosis mutualisme). maka kita bisa mengetahui sesuatu yang modern berdasar pada perbandingan dengan tradisi. pada setiap musik yang berkembang dalam budaya tertentu selalu ada yang modern dan yang tradisi.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: