Harry Roesli

Oleh Iwan Gunawan

harry-roesliDari berbagai informasi yang penulis ketahui tentang Harry Roesli, terutama hal yang berhubungan dengan eksistensinya sebagai seorang seniman, boleh dikatakan bahwa popularitasnya begitu sangat tinggi di masyarakat Indonesia pada umumnya. Mulai dari pejabat pemerintah sampai pada para pengamen jalanan, tampaknya sosok seniman ini begitu dikenal walaupun dengan cara pandang bernuansa kontroversial. Selain itu, popularitasnya didukung oleh begitu banyaknya “eksploitasi” atau respon orang tentang beliau yang dituangkan baik dalam bentuk media cetak maupun media elektronik. Mulai dari wartawan seni hiburan sampai pada para ahli seni, pernah menulis tentang eksistensinya. Salah satu aspek yang menyebabkan seniman ini menjadi seniman yang kontroversial yaitu dapat dilihat dari karya-karyanya terutama karya yang menggunakan “bahasa verbal” sebagai salah satu media ekspresinya yang sarat dengan kritik sosial politik yang tajam dalam bentuk lagu, teater atau mixmedia.

Seperti kita ketahui bahwa pada umumnya aspek “bahasa verbal” dalam suatu karya musik adalah aspek yang paling awal memberi pengertian serta paling mudah untuk dapat dipahami maksudnya (setidak-tidaknya bagi orang yang menguasai bahasa tersebut). Hal ini dikarenakan bahasa verbal itu dipakai sebagai bahasa sehari-hari untuk berkomunikasi. Oleh sebab itu konteks bahasa verbal dalam suatu karya seni atau musik khususnya, seringkali dipahami secara dangkal tanpa mempertimbangkan tujuan serta keutuhan ekspresi secara keseluruhan dalam karya tersebut. Harry Roesli pada sebagian besar karyanya terutama karya yang berisi tentang kritik sosial politik, cenderung menggunakan “permainan kata” (bahasa verbal) dari keseluruhan bahasa ekspresinya (termasuk bahasa musik). Resikonya adalah tidak jarang orang tersinggung oleh “permainan kata” yang diekspresikan dalam pertunjukan karyanya. Sehingga beberapa kali beliau pernah dicekal atau berurusan dengan pihak berwajib dengan alasan atau tuduhan macam-macam. Namun demikian, itulah salah satu kekuatan dari karya-karyanya, yang menjadi isu serta melambungkan popularitasnya. Seperti yang dikemukakan Theodore Ks seorang penulis masalah industri musik antara lain. “…pencekalan itu bukan karena musik rock atau jenis musik lain yang diramu Harry, melainkan karena bahasa liriknya tidak mengena pada bahasa penguasa waktu itu”. (KOMPAS, 1 April 2005)

harry1Ekspresi musik Harry Roesli dengan kritik sosial politik yang dilakukan secara konsisten, menyebabkan orang-orang menjuluki dengan sebutan yang bermacam-macam, seperti “seniman nakal”, “musikus mbeling”, “musisi Bengal”, atau “komponis yang kelewat badung” dan lain sebagainya. Namun pada umumnya, sebagian besar masyarakat menjuluki seperti itu didasari oleh pengertian serta pemahaman aspek tadi yakni penggunaan bahasa verbal (baca:syair, teater, multimedia). Sedangkan mengenai persoalan yang menyangkut bahasa musik secara spesifik, seringkali jarang dibahas dan dipahami. Menurut penulis (dengan segala hormat), tidak semua karya-karya Harry Roesli memiliki kualitas yang bermutu. Namun karena pengabdiannya dalam musik, popularitasnya dan lain-lain, seakan-akan kita (termasuk penulis sendiri) agak canggung mengatakan diantara karya-karyanya terdapat karya yang tidak bermutu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mencari “misteri” apa yang ada dibalik sosok Harry Roesli dengan membahas salah satu karyanya yang berjudul “Orang Basah” melalui studi analisis musik. Dengan demikian mudah-mudahan melalui analisis ini kita dapat menemukan keunikan-keunikan dilihat dari konsep, cara atau teknik garapannya yang setidaknya dapat memberi pengetahuan atau wacana dalam berkreativitas musik di masa mendatang.

TENTANG KOMPONIS

Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa informasi detail tentang seniman yang bernama lengkap Djahuar Zaharsyah Fachrudin Roesli (1951-2004) ini sudah banyak di tulis orang (lihat di website-website internet), baik mengenai karirnya maupun kehidupan pribadinya. Untuk itu agar tidak membosankan, pertama-tama penulis ingin memberi informasi mengenai beliau berhubungan serta mengarah pada aspek ideologinya dalam berkesenian. Informasi ini berdasar pada kutipan-kutipan yang berupa komentar atau pendapat dari beberapa budayawan atau seniman lainnya. Namun terlebih dahulu, kita lihat sebuah komentar dari Harry Roesli sendiri ketika diwawancarai oleh wartawan tentang situasi musik di Indonesia, antara lain.

Kalau bicara soal musik kita harus membedakan antara musik sebagai industri dan musik sebagai ekspresi kesenian… terlihat dari pemusik yang aksentuasinya dengan dagang kini sudah bisa hidup, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berarti musik sebagai komoditi dagang sudah jalan baik. Tapi disamping itu juga ada musik yang berdiri di daerah kesenian. Musik-musik kesenian itu merupakan ekspresi dialog dia dengan seni, tidak ada kontaminasi dengan dunia dagang. (2004:589)

Dengan demikian, komentar di atas dapat membawa pada suatu kesan, bahwa memang Harry Roesli adalah seorang seniman yang betul-betul memahami persoalan antara dua wilayah kesenian seperti yang dikemukakannya. Bahkan jika kita memperdalam setiap keunikan di dalam keseluruhan karya yang pernah dia dibuat, tampaknya posisi seniman ini agak sulit kita kategorikan secara ideologis. (Dieter Mack mengkategorikan “komponis diantara dua atau lebih kursi”)

Selanjutnya, di bawah ini penulis sajikan beberapa komentar tentang beliau yang diperoleh dari berbagai sumber, mudah-mudahan dari komentar-komentar ini dapat memberi gambaran mengenai sosok atau karirnya sebagai seniman, antara lain.

Harry merupakan seorang seniman yang tidak berpikir dalam kategori-kategori musik dengan nuansa ideologis. Yang penting adalah keutuhan ekspresi, baik dalam bentuk Happening, maupun idiom rock, pop, jazz, ‘avant-garde’. Dengan demikian (…) Harry membuktikan bahwa idiom pop/rock tidak otomatis harus diartikan dengan musik komersial yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan selera yang berlaku. (Dieter Mack:2004)

Almarhum sangat peduli dan arif pada potensi kekuatan lokal (etnis). “Dengan ketulusan serta jiwa sosialnya yang begitu besar, almarhum mau membimbing anak-anak jalanan maupun seniman untuk diajarinya bermain musik yang baik dan benar. Demikian pula kepeduliannya terhadap lingkungan merupakan bukti nyata yang sampai kapan pun akan menjadi saksi,” tutur Budhyana (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, tambahan penulis). (Buletin Melsa, Desember 2004)

Satu hal yang membuat Harry begitu istimewa di mata Ratna (Ratna Sarumpaet, tambahan penulis) adalah, kepedulian Harry pada persoalan-persoalan sosial. “Dia itu orang yang kalau ada hajatan keprihatinan selalu ada. Ada persoalan HAM dia nimbrung di situ.”. (KOMPAS, 11 Desember 2004)

“Tapi, Harry itu orang aneh. Selama ini kami tidak pernah latihan bersama. Jadi, ketemunya di panggung, langsung main begitu saja,” kata Putu Wijaya, penulis naskah dan sutradara Teater Mandiri.

Tentang beberapa karya Harry yang hingar-bingar, seperti Musik Rumah Sakit (1979 di Bandung, 1980 di Jakarta), Musik Sikat Gigi (Jakarta, 1982), dan sejumlah pementasan kemudian, Slamet Abdul Sjukur punya ungkapan khas. Tutur pemuka musik kontemporer ini, musik Harry “seperti orang bertapa di tengah pasar. Godaannya lebih hebat daripada di tempat sunyi”.

Suka Hardjana menganggap dengan kepergian Harry, Indonesia telah kehilangan salah satu ikon di dalam musik kontemporer yang hebat. Tuturnya, “Harry mengatakan musiknya bukan hanya harus didengar dan harus ditonton, tapi juga harus dipikirkan”. (KOMPAS, 12 Desember 2004)

BERBAGAI PEMENTASAN DAN ALBUM REKAMAN

Dalam kiprahnya sebagai seniman, begitu banyak karya-karya yang pernah beliau ciptakan, baik yang sudah dipentaskan, direkam dan diedarkan atau karya-karya yang masih bersifat arsip pribadi. Suatu saat (sekitar tahun 2002), penulis pernah diajak masuk ke studio pribadinya, beliau memperkenalkan karya-karyanya yang sudah dianggap selesai dan disimpan dalam file computer. Waktu itu penulis hanya sempat mendengarkan tiga buah karya barunya, dari tiga buah karya yang menurut beliau karya musik kontemporer, sangatlah mengesankan. Pengalaman itu membuat suatu wacana secara pribadi bahwa kreatifitas serta produktifitas beliau sangat tinggi.

Dari beberapa sumber yang penulis peroleh, berbagai pementasan yang pernah dilakukan Harry Roesli diantaranya,

  1. Pesta Musik Semalam Suntuk, Summer 28, tanggal 16 Agustus 1973 di Pasar Minggu, Jakarta.
  2. Rock Opera Ken Arok yang digelar di Gedung Merdeka, Bandung, 12 April 1975, dipentaskan lagi pada 2 Agustus 1975 di Balai Sidang, Jakarta.
  3. Apresiasi Seni Mahasiswa di Gelanggang Mahasiswa Kuningan tanggal 3 Desember 1977.
  4. Musik Rumah Sakit (1979 di Bandung dan 1980 di Jakarta)
  5. Pagelaran Musik Konkrit “Musik Sikat Gigi” selama tiga hari, 31 Juli hingga 1 Agustus 1980 di Bandung, 1982 Jakarta
  6. Opera Ikan Asin (Tahun?)
  7. Opera Kecoa (Tahun?)
  8. A Mild Jak Jazz ’93
  9. Off the Record tahun 1993
  10. DKSB dan remaja SMA Blue Enterprises, digelarnya Over Dosis, 30 April – 1 Mei 1994, di Gedung Kesenian Akademi Seni Tari Indonesia (Bandung)
  11. Pada tahun 1995 Opera Tusuk Gigi
  12. A Mild Jak Jazz ’95 dengan memukul 13 tong kosong
  13. Konser Musik Generasi Koplo di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 April 1996
  14. Festival Perkusi Jakarta 8-9 Juli 1997di arena Pekan Raya Jakarta
  15. Musik Jazz Invalid 25 Jam 4 Menit di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Bandung, 26 Juli 1997
  16. Konser ”Reuni Gang of Harry Roesli” di Poster Café 31 Oktober 1997, Jakarta. Berlanjut di Bandung, 22 November 1997
  17. Pada 17 April 1998, DKSB tampil di Teater Utan Kayu, Jakarta.
  18. Ketawa, UPI Bandung 2001

Sedangkan, karya-karya yang pernah direkam dan diedarkan baik melalui major label maupun indie label antara lain, Philosophy in Rock (1971), HR Solo I (1972), HR Solo II (1973), HR Solo III (1974), Kaki Langit Akustik (1975), Titik Api (1976) hingga Ken Arok (1977), HR Solo IV (1977) dan Focus (1977). Disusul Tiga Bendera (1977), Gadis Plastik (1978), LTO (1978), Daun (1979), Jika Hari Tak Berangin (1979) serta Kharisma I (1981). Dilanjutkan dengan Kharisma II (1982), Kota Gelap (1982), Zaman (1984), Kuda Rock ’n Roll (1986), Cas Cis Cus (1989), Asmad Dream (1990), Cuaca Buruk (1992), DKSB Book (1992), dan Si Cantik (1997). Beberapa hasil rekamannya itu diproduksi dan diedarkan di Australia, AS, serta beberapa negara Eropa.

Melihat dari daftar karya-karya di atas, baik dalam bentuk rekaman maupun pementasan, boleh kita katakan bahwa di Indonesia ini beliau merupakan seorang seniman yang sangat produktif dan mungkin paling produktif, yang bekerja dalam wilayah ideologi musik yang sangat beragam. Di samping itu, banyak karya-karya yang belum masuk pada daftar di atas antara lain karya pada acara pekan komponis, karya musik untuk film, sinetron, tari, teater, iklan TV/Radio dan lain-lain.


PENCEKALAN

Dalam perjalanan kreatifitasnya yang “kelewat badung” itu, konser musik Harry Roesli seringkali mendapat pencekalan atau berurusan dengan pihak berwajib salah satunya, kasus sampul Album Philosophy gang (1971).

Saat itu, album yang hanya diedarkan dalam format piringan hitam, tidak beredar secara luas. Kenapa? Karena album ini memang sarat kontroversi. Mulai dari visualisasi sampul album saja, Harry Roesli telah berurusan dengan pihak berwajib. Ini dikarenakan, sampul album yang digarap oleh A.Murad Kusumo Handojo, seorang pelukis surealis jebolan Seni Rupa ITB, dianggap menawarkan pornografi. (Denny Sakrie, Sinar Harapan 2003)

Kemudian konser musik Ken Arok di Semarang pada Januari 1976, dihentikan oleh yang berwajib, dengan alasan naskah pertunjukan terlambat tiba di meja pemberi izin. April dan Mei 1995, pergelarannya juga batal tampil karena soal izin. Konser Musik Kontemplasi Jilid III yang direncanakan 22 Februari 1998 di Gedung Pusat Kebudayaan Perancis, Bandung, dicekal pula. Terakhir kasus soal plesetan “Garuda Pancasila” tahun 2001 diusut polisi.

Walaupun saat ini beliau telah tiada, semangat kreatifitas seni serta kepedulian pada persoalan-.persoalan sosial yang diwariskan beliau pada keluarga serta anak buahnya dan masyarakat kesenian Bandung pada umumnya, sepertinya tak pernah mati. Di kediamannnya Jalan Supratman no 57 Bandung, masih sering diselenggarakan kegiatan-kegiatan seni dan kegiatan sosial. Bahkan Rumah Musik Harry Roesli yang beliau dirikan pada tahun 1997/1998 sebagai tempat pendidikan serta pengajaran musik, sampai saat ini masih berjalan dengan baik.

3 responses to this post.

  1. Posted by uchyl on Desember 21, 2008 at 14:35

    sbenernya saya ga ngerti apa isi karya – karya yang di ciptakan beliau..
    sbenernya apa sich isi dari semua karya itu?

    Balas

  2. Posted by kuring on Desember 21, 2008 at 14:48

    atuh kedah ngadangukeun heula musikna!, tapi umumna musik mas harry mah gampang dicerna dina syairna, sedengkeun ari isi nu musikal rada hese, margi urang kedah gaduh peralatanana kanggo nafsirkeun. teu aya kabeneran nu tunggal perkawis eusina nu penting kumaha jeung naon kamonesanana. sakitu ti pribados….upami panasaran mangga diteraskeun diskusina…….

    Balas

  3. Posted by uchyl on Desember 23, 2008 at 15:26

    oh…. kitu nya pa. berarti abdi kedah hafal lirik na atanapi kumaha? abdi teh sok bingung pami merhatoskeun lagu ti kang harry… atanapi memang karya na kang harry mah kanggo sindiran? eta teh kalebet sindiran teu? nya kritikan lah kitu…..?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: