Diskusi Tentang Komposisi di Forum AKI

Piano

Piano

andreas arianto yanuar <ndreaz1401@ … wrote:

Mas Slamet yang baik,
Saya waktu itu ikut lokakarya komposisi musik dengan Roderik de Man, dan sempat mendengarkan trio karya Mas Ricky Jap. Wah, saya entah bagaimana caranya sedikit banyak merasakan pengaruh musik Mas Slamet dalam karyanya. Saya jadi penasaran akan suatu hal. Apakah dalam penciptaan suatu karya baru harus selalu melalui proses yang berat? Apakah benar seperti itu? Karena akhir-akhir ini saya mencoba menyusun komposisi baru yang dengan mudah dapat saya bangun struktur tiap-tiap bagiannya, berikut tekstur-tekstur yang saya inginkan untuk terkandung dalam bagian-bagian tersebut, juga sub-sub bagiannya. Namun saya mengalami kesulitan dalam menuangkan tiap-tiap rinci bebunyian yang ingin saya tulis ke atas kertas partitur tersebut. Pemikiran-pemikiran apa saja yang dapat mendorong saya dalam mengoptimalkan ide-ide tersebut pada musik saya? Karena sering kali kebuntuan yang saya temui, dan di saat seperti itu, saya mencoba meneruskan ide lain ke atas karya yang lain lagi, namun tetap saja kebuntuan yang menghalangi keran ide ini. Terima kasih atas perhatiannya,

Andreas Arianto Y.

Mas Andreas,

Terus terang saya tidak pernah berfikir apakah suatu proses itu berat atau tidak. Saya bekerja hanya berdasarkan kebiasaan yang tersusun sendiri dari pengalaman selama puluhan tahun. Begitu pula yang saya ajarkan pada murid-murid saya: 1.komposisi dan prosesnya harus langsung dialami sendiri, saya hanya sebagai wasit yang cuma menolong menunjukkan berbagai alternatif kalau menemui kebuntuan; 2.analisa, disamping ngarang, saya juga tekankan pentingnya menganalisa musik yang sudah ada oleh seorang tokoh yang pantas dijadikan pelajaran, bukan untuk dicontoh. Menganalisanya dua cara: secara auditif dan daya-ingat tanpa partitur, dan secara visual dengan partitur dan harus bisa membayangkan bunyinya; 3.sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kreatif murid, saya berusaha membawanya pada masalah-masalah estetik dan teknik yang ragam dan jumlahnya senantiasa berkembang.

Saya selalu mendahulukan PENGALAMAN LANGSUNG, setelah itu baru bisa membicarakan TEORI. Saya tempatkan TEORI di belakang, karena merupakan kesimpulan sementara sesudah mengalami sendiri, yang nantinya bakal berubah juga sesuai dengan perkembangan pengalaman. Disamping itu, teori juga berfungsi sebagai spekulasi intelektual tentang kemungkinan kemungkinan yang belum dialami.

Untuk mengatasi kesulitan yang sering anda jumpai, saya hanya dapat menyarankan ngarang terus, coba lagi, coba lagi, sampai anda betul-betul tenggelam dalam “situasi mengarang” dan tidak peduli soal hasilnya baik atau tidak. Ini latihan yang paling praktis untuk jujur pada diri sendiri. Sama mujarabnya dengan latihan hatta-yoga. Saya sebarkan jawaban saya ini pada teman-teman saya. Mudah-mudahan saya dapat masukan baru yang dapat saya manfaatkan.

Salam,

Slamet A. Sjukur

Dieter Mack <kamasan@… > wrote:

Hallo Mas Slamet,

Makasih atas info ini. Saya merasa berminat untuk memberi tambahan kepada diskusi ini. Sebenarnya saya selalu tidak bisa menghindarkan kesan „senyum” bila saya membaca kalimat seperti „…Apakah dalam penciptaan suatu karya baru harus selalu melalui proses yang berat? Apakah benar seperti itu?..:” Saya kira pertanyaan seperti ini, saya sudah mendengar 100 kali dan menariknya, terutama di Indonesia. Tampaknya semua ingin dicapai cepat, tanpa berat, tanpa usaha, tanpa tanggung jawab. Semua mau menjadi “Dr.” tetapi tak boleh lama etc.etc. Mau naik Mount Everest, tapi jangan berat, sebaiknya dengan helikopter etc.etc.

Kenyataan ini mengundang pertanyaan pada saya: Dimana masalahnya kalau ada sesuatu yang „berat”? Para ahli ilmu yang menciptakan pembaharuan – baik yang bagus maupujn yang jelek aplikasinya – kadang-kadang mencari kebenaran selama 20 tahun. Maka jelas sekali komposisi bukan sesuatu yang bercuma-cuma atau semacam cocktail-party dengan smalltalk musikal. Komposisi yang bermakna adalah suatu komitmen sepenuhnya yang radikal. Saya selalu mengingat kalmiat Lachenmann yang mengatakan: „Komposisi musik sebagai pengalaman
eksistensialis” (Musik als existentielle Erfahrung”). Maksudnya, hanya dengan dorongan dan kritik pada diri sendiri yang setinggi mungkin seorang seniman bisa memenuhi targetnya, yaitu mempertanggungjawab kan upayanya terhadap masyarakat. Kemudian „ras” ini tidak bisa dipelajari, „rasa” ini ada atau tidak. Kalau tidak, ya sebaiknya menjadi sopir taksi atau petani atau apa saja. Selama saya „mengajar” komposisi, banyak murid akhirnya berhenti mencipta. Saya merasa untung bagi mereka karena kurang dibuang waktu dan bisa konsentrasi pada hal yang lebih fungsional bagi mereka.

Namun di sini ada satu hal: Kalau saya sangat berjuang untuk komposisi di sekolah sebagai salah satu alat pendidikan musik, tujuan saya bukan kesana seperti dijelaskan di atas. Di sekolah komposisi adalah „alat” untuk mencapai salah satu kompetensi musikal. Saya kira penting kedua aspek dibedakan satu sama yang lain.

Selain ini, saya setuju dengan Mas Slamet. Cium

Dieter Mack

smarching <smarching@yahoo. com> wrote:

Halo,
Tentang hal ini, saya tidak bisa setuju dengan Dieter. Terkadang, kalau orang Indonesia bertanya “apakah dalam penciptaan suatu karya baru harus selalu melalui proses yang berat?”, ini bukan selalu berarti mereka tidak mau menjalani proses yang berat.

Karena saya pikir, banyak orang Indonesia yang menjalani proses begitu berat (lebih daripada orang London, misalnya). Mahasiswa di Indonesia terkadang belajarnya dengan fasilitas yang amburadul (internet ngadat, duit research nggak tersedia, perpus amburadul dll). Sedangkan orang sini (di London maksud saya), kalau ada internet lambat sedikit, pasti sudah mengeluh. Orang Indonesia juga seringkali “disiksa” oleh
superior mereka (murid ditekan guru, rakyat dimanipulasi pejabat).
Mereka menjadi robot-robot yang sungguh tersiksa. Proses seperti ini berat sekali bagi saya. Sehingga, mereka-pun tidak bisa lagi menikmati proses penciptaan mereka.

Ini lain bila proses yang berat itu adalah pilihan (dan bahkan penemuan diri mereka sendiri). Kalau proses ini adalah pilihan (dan penemuan, kalau bisa juga renungan) mereka sendiri, proses yang berat itu dengan sendirinya akan dinikmati.
Soe Tjen.

To: AKI-Forum@yahoogrou ps.com
From: sjkr_slmt@yahoo. com.sg
Date: Mon, 12 May 2008 21:26:02 +0800
Subject: Re: [AKI-Forum] Tlg saran

Tanggapan Soe Tjen atas pendapat Dieter Mack seperti orang Jawa yang tersinggung karena tidak mengerti bahasa Madura. Sama sekali tidak nyambung.

Soe Tjen meengedepankan kondisi di Indonesia yang serba sulit. Namun akhirnya membedakan antara ketersiksaan yang “terpaksa” dan beratnya menemukan jati diri karena “pilihan sendiri”.

Yang terakhir itu justru yang dimaksudkan Dieter. Jadi Apanya yang tidak disetujui Soe Tjen ? Salah baca karena tergesa ?

Demonstrasi kecerdasan membedakan pilihan, penemuan dan perenungan, bisa bikin anak-anak sekolah merasa geli . . . . .

Slamet.

andreas arianto yanuar <ndreaz1401@hotmail. com> wrote:

Terima kasih atas tanggapan-tanggapan dan saran-sarannya. Sebenarnya maksud saya adalah, apakah bila suatu proses penciptaan tidak dilalui dengan berat, itu dapat dipastikan karya yang dilahirkan akan buruk?
Saya sangat menyadari bahwa dalam menulis sebuah komposisi musik ada berbagai tahap yang kita lalui, proses penginderaan akan gejala-gejala yang kita tangkap dalam kehidupan, pengaruh dari kesan-kesan yang kita tangkap dari menikmati karya-karya para seniman lain, juga suatu bentuk media musikal yang ingin kita garap lewat ide kita, dan semua ini memerlukan waktu, energi, juga usaha yang optimal.
Namun pernahkah kita merasa bahwa kita memerlukan cara atau sistematika penggarapan yang baru bagi kita dalam mencipta? Pernahkah suatu ketika kita ingin menulis suatu karya yang memang dimaksudkan untuk memiliki bobot yang berbeda, mungkin lebih ringan dari karya-karya kita sebelumnya? Memang proses pengendapan itu tidak akan mungkin kita abaikan, namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman maka kita akan mampu memilih dari sekian banyak cara yang bisa kita terapkan untuk menuju ke sana, bukan?
Andreas Arianto Y.

Pak Slamet,

Kalau saya orang Jawa yang tidak mengerti bahasa Madura, saya tidak akan menulis ketidak setujuan saya. Karena sebagai “orang Jawa”, baca bahasa Madura saja nggak bisa. Jadi, perbandingan ini proporsinya tidak tepat & tidak nyambung.

Pak Slamet kalau baca e-mail saya jangan tergesa juga. Sebenarnya yang saya permasalahkan adalah implikasi pertanyaan “apakah dalam penciptaan suatu karya baru harus selalu melalui proses yang berat?”, ini bukan selalu berarti si penanya otomatis tidak mau menjalani proses yang berat. Artinya, saya tidak mau melihat mas Andreas yang bertanya demikian lalu otomatis dia “tidak mau menjalani hal yang berat.”

Dan ketidak setujuan saya, sama sekali tidak disebabkan oleh karena saya tersinggung, tapi karena saya tersentuh. Saya sempat tersentuh dengan pertanyaan seorang murid saya dari Indonesia (waktu saya mengajar di Melbourne Uni di Australia) yang bertanya serupa. Karena saya tahu dia telah bekerja begitu keras. Namun, dia masih saja gagal, sehingga pertanyaan seperti itu mencuat. Si penanya ini mungkin mau bekerja keras untuk menemukan jati diri mereka, tapi karena sudah mengalami ketersiksaan yang “terpaksa” begitu lama, mereka tidak bisa atau tidak tahu bagaimana.

Jadi, ketidak setujuan saya bukan berdasarkan dari rasa tersinggung. Saya dibandingkan dengan “orang Jawa yang tersinggung krn tidak mengerti bahasa Madura”, juga tidak tersinggung, kok. Hanya bingung. Kalau ketidak setujuan disamakan dengan ketersinggungan, saya rasa ini juga tidak nyambung.

Soe Tjen.

To: AKI-Forum@yahoogrou ps.com
From: sjkr_slmt@yahoo. com.sg
Date: Tue, 13 May 2008 07:17:32 +0800
Subject: RE: [AKI-Forum] Tlg saran

Saya merasa perlu mengakhiri pembicaraan yang rasanya berubah menjadi tidak menarik dan bisa berkepanjangan.

Tentang pertanyaan anda “pernahkah kita merasa bahwa kita memerlukan cara atau sistimatika penggarapan yang baru bagi kita dalam mencipta?”,

Depdiknas sudah menunjukkan sangat rajin berusaha mencari metodologi dan sistimatika. Dan hasilnya NOL ! Karena yang bikin bukan orang-orang lapangan melainkan orang-orang yang hanya punya kegemaran berfikir untuk menyembunyikan ketidak-mampuannya dalam melakukan sesuatu yang nyata dan telah terbukti hasilnya. Ini namanya masturbasi intelektual.

Hal-hal yang anda pikirkan tentang berbagai tahap penciptaan, proses penginderaan dan sebagainya itu, cobalah bayangkan apa pendapat Bach yang jumlah dan mutu karya-karyanya sampai sekarang tetap menjadi kekaguman kita, bagaimana pula pendapat Einstein yang seluruh hidupnya diarahkan untuk memahami misteri yang ada di mana-mana. Saya yakin mereka tidak sempat dan tidak tertarik untuk membuang waktu seperti yang dilakukan Dipdiknas yang hanya sibuk dengan khayalan mereka sendiri.

Kecerdasan “semu” Depdiknas membuat pendidikan  menjadi sangat mnyeramkan dan membuat anak-anak sekolah merasa bodoh. Sementara Johannes Surya tahu betul dan berhasil membuat anak-anak cemerlang di olympiade matematika dan fisika, mereka yang selama ini sebagai potensi yang diremehkan (oleh orang-orang yang sok merasa pintar berfikir).

Maaf saya sudahi sampai di sini saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: