Musik Indah Itu Tidak Meneror

Wawancara

29-01-2007

Rahayu Supanggah

Rahayu Supanggah

RAHAYU Supanggah terkenal tentu bukan hanya lantaran beberapa waktu lalu mendapat Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik dalam

Festival Film Indonesia 2006 untuk film besutan sutradara Garin Nugroho, Opera Jawa. Jauh sebelum itu, pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini sesungguhnya telah menjadi salah satu komposer penting dalam film One Upon A Time in America garapan Sergio Leone yang dibintangi oleh Robert de Niro.

Pada saat lain doktor etnomusikologi lulusan University of Paris VII ini juga ikut menggarap komposisi musik pertunjukan kelas dunia semacam Mahabharata (Peter Brook) dan I La GaligoKing Lear bagi sutradara asal Singapura, Ong Keng Sen. (Robert Wilson). Juga telah ratusan karya digubah oleh pemusik kelahiran Boyolali 1949 ini, termasuk komposisi


Apa komentar Panggah tentang kemungkinan musik Indonesia agar bisa mendunia? Bagaimana cara ia menawarkan gamelan kepada publik yang lebih luas? Berikut petikan perbincangan dengan seniman serbabisa ini di sebuah rumah artistik, Jalan Jayaningsih, Karanganyar, belum lama ini.

Garin menggarap Opera Jawa untuk Mozart. Bagaimana cara Anda menafsirkan musik Mozart dengan antara lain menggunakan gamelan Jawa?

Sebenarnya ketika menggarap komposisi musik untuk Opera Jawa, saya tidak membaca musik-musik Mozart secara umum. Pada saat menggarap film itu, Garin sesungguhnya ingin membuat requiem tentang Sinta untuk Peringatan 250 Tahun Mozart. Saya bersedia membantu karena juga ingin menghormati Mozart yang hampir semua komposisinya enak didengar. Garin kemudian memberikan acuan, terutama requiem Mozart. Lalu kami pun berdiskusi dan saya diberi kesempatan tampil beda dalam bentuk musik Jawa.

Lalu saya katakan kepada Garin, “Mas, orang Jawa itu saat menyambut kematian tidak sama dengan Barat. Orang Barat itu menganggap kematian sebagai sesuatu yang telah habis, sehingga mereka bisa merespons kehadiran maut dengan bersenang-senang terlebih dulu. Orang Jawa memiliki sikap lain saat berhadapan dengan kematian. Karena menganggap kematian sebagai jembatan untuk hidup ke alam lain atau surgawi, mereka justru merayakan peristiwa tersebut dengan agung dan kontemplatif. Karena itu, musik yang ingin saya garap juga semacam itu, yakni sederhana, agung, bahagia, dan kontemplatif.

Mengapa harus sederhana?

Ya, kami tidak memainkan musik gamelan secara gigantis dengan sekitar 30 pemain, tetapi hanya melibatkan tiga sampai empat pemusik. Kesimpelan itu merupakan hal paling mendasar dalam komposisi saya. Justru karya hebat-hebat itu, selalu berasal dari yang simpel. Simpel itu bukan berarti tidak kompleks.

Tapi bukankah pertunjukan Peter Brook atau Robert Wilson sangat megah dan gigantis? Mengapa musik Anda justru simpel?

Pada saat kita berkesenian -lebih-lebih jika kesenian itu multimedia atau multikultur- sebaiknya setiap unsur harus saling mendukung. Jika yang satu sudah kuat, mengapa yang lain harus menonjol-nonjolkan diri? Kolaborasi akan berjalan indah jika setiap unsur saling mengisi.

Lalu, bagaimana Anda berdialog dengan kultur lain, kultur naskah Peter Brook atau Robert Wilson, misalnya?

Yang penting dalam penggarapan kesenian multikultural dan multietnik, unsur-unsur yang terlibat harus saling mengenal. Jangan sampai yang satu mendominasi, mengorbankan, atau mematikan yang lain. Wujud kolaborasi bisa saja berdialog. Jika musik Jepang tidak bisa gathuk dengan simfoni ya tidak perlu dimainkan secara bebarengan.

Yang saya lakukan saat menyususun komposisi untuk King Lear atau I La Galigo juga sama. Kita tahu King Lear keliling dunia dan menginspirasi seniman lain untuk membuat pertunjukan serupa, sedangkan di Melbourne I La Galigo dianggap sebagai “karya terbagus abad ini”. Dengan kata lain, dalam pertunjukan itu, musik saya tidak menonjol, tetapi berfungsi memberi arti, melengkapi, dan memperkaya.

Mungkin Anda tampil lebih menonjol saat menggarap Opera Jawa?

Oo, saya justru paling tidak puas pada komposisi musik Opera Jawa. Pertama, karena saya hanya punya waktu tiga bulan untuk karya yang seharusnya saya kerjakan selama tiga tahun. Kedua, saya tidak pernah membuat komposisi untuk kompetisi…dan ternyata karya ini menang dalam sebuah kompetisi. Semula saya bersedia membuat komposisi untuk Opera Jawa karena tahu ia bakal tidak dikompetisikan. Saya paling benci pada kompetisi. Mengapa orang harus saling mengalahkan? Apa tidak lebih baik kita saling menghargai?

Anda punya cara khas untuk bergaul dengan kultur lain saat berkolaborasi dalam I La Galigo?

Ini merupakan kolaborasi yang “agak ringan”. Kecuali saya, para pendukung lakon ini adalah orang asing. Sutradara, penulis naskah, dan penata lampunya orang Amerika. Bertindak sebagai penata musik dan komposer, saya memang menggunakan materi musik Bugis atau Makassar abad ke-13 atau ke-14. Materi itu hampir mati dan tinggal 15 orang yang bisa memahami bahasa I La Galigo.

Semua bermula dari nol. Kami mencari materi-materi lama di Sulawesi Selatan yang telah menghilang dan menghadirkan kembali dengan pendekatan dan tafsir baru untuk pertunjukan modern. Modern, dengan demikian, tidak harus bermateri modern. Modern itu bukan Barat. Modern itu sebuah sikap bagaimana menginikan karya dalam bentuk, nilai, dan manfaat.

Konstruksi komposisi pun akhirnya tertemukan setelah tentu saja saya berdialog dengan Robert Wilson yang akan memvisualkan naskah I La Galigo ke panggung. Wilson, kita tahu, sangat ahli dalam bidang visual. Saat membuat teater ia seperti melukis di kanvas, sehingga kontur jelas, perubahan ekologi tertangkap, dan warna tertampilkan. Orang Indonesia akan bosan menghadapi pertunjukan ala Robert Wilson. Karena itu, musik pun menjadi imbangan.

Jadi bagi orang Indonesia, dalam pertunjukan itu, Anda dianggap tampil sebagai penyelamat ya?

Ya…koran-koran menyebut semacam itu. Saya malu untuk menyebut diri saya sebagai penyelamat. Kata orang Asia, “Pertunjukan ini jika tidak diselamatkan oleh musik hanya akan jadi pergelaran biasa.” Saya kira pendapat semacam itu sangat berlebihan. Kebanyakan penonton Asia kurang terbiasa dengan pertunjukan yang berjalan pelan. Mereka juga belum bisa mengambil hikmah atau manfaat dari pertunjukan yang berjalan pelan.

Ini akan berbeda jika pertunjukan itu digelar di New York, Tokyo, atau Roma. Mereka yang sudah jenuh dengan pertunjukan yang serbariuh dan cepat akan menganggap I La Galigo sebagai terapi atau alternatif untuk melihat sesuatu yang lain.

Anda menggunakan gamelan sebagai salah satu titik pijak bermusik. Menurut Anda, apakah gamelan lebih berpotensi sebagai musik yang diterima dan dimainkan oleh warga dunia?

Dibandingkan dengan wayang, gamelan memang lebih mendunia. Pertama, nilai -bukan wujud- gamelan sekarang ini dibutuhkan oleh warga dunia. Semangat individualisme di Barat itu kian mengakibatkan orang hidup dalam keterasingan. Mereka juga tak mau mendengar suara orang lain. Nah, jika kita menabuh gamelan, mau tidak mau kita mendengarkan orang lain. Tidak bisa orang menabuh sendiri-sendiri, sehingga memunculkan toleransi. Semua orang dalam memainkan gamelan menjadi kreator, menjadi komposer. Dalam bermain gamelan, waktu membuat musik adalah waktu penyajian itu sendiri. The moment of creation is the moment of performance. Pada saat orang bermain itulah orang menjadi orang. Dan warga dunia sedang ingin mendapatkan cara bermain musik yang semacam itu. Ia digunakan di Eropa sebagai terapi untuk memanusiakan kembali orang-orang yang telah dipenjara.

Dalam bermain gamelan, tidak ada batas antara profesional dan amatir. Ini berbeda dari pemain musik simfoni yang harus belajar tujuh tahun terlebih dulu sebelum tampil dalam sebuah orkestra. Dalam musik gamelan, yang empu dan amatir harus belajar bersama. Musik gamelan, dengan demikian, sangat akomodatif dan relevan. Gamelan bisa semacam itu karena ia bersifat terbuka. Ia bisa ditabuh ala Basiyo atau ketoprakan, atau apa saja. Ia juga bisa ditabuh ala orang Blora karena gamelan memang memungkinkan dihadirkan dalam waktu dan ruang lain.

Meskipun demikian saya tidak ingin terkungkung gamelan.

Bagaimana komposisi musik yang indah menurut Anda?

Komposisi yang indah itu tidak meneror. Tidak membuat pendengarnya dilukai rasanya. Dari komposisi ke komposisi akan terus-mene-rus indah kalau unsur-unsurnya makin kaya juga. Komposisi saya itu sing nglakokke seneng, sing ngrungoke seneng. Ada lho komposer yang menciptakan karya sulit sehingga yang memainkan tidak nyaman. Musik-musik saya itu, sesungguhnya merupakan musik tradisional yang dimunculkan dalam tafsir baru. Saya mencoba menangkap spirit musik tradisional dan lalu menghadirkan secara baru.

Jadi, apa sesungguhnya fungsi musik Anda bagi pendengar?

Saya berharap pendengar yang semula beringas bisa terlembutkan hatinya. Saya ingin pendengar yang semula arogan menjadi sosok yang menghargai orang lain. Saya ingin musik saya menjadi terapi bagi orang-orang yang merasa sakit hidup di dunia yang kian kacau-balau ini.

(Triyanto Triwikromo/35)

Sumber: Suara Merdeka Cyber News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: