“Sticking”

“The Flash percussion”

img_4433

The Flash Percussion, saat tampil di Goethe Institut Jakarta. Sebelumnya mereka tampil di Hanoi, Vietnam. Kegiatan ini bertajuk “Cracking Bamboo”, sebuah acara festival musik perkusi yang melibatkan kurang lebih 40 seniman dari berbagai negara asia dan eropa.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah dipertemukannya para musisi yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda dan para musisi tersebut berkolaborasi untuk menciptakan karya musik baru secara spontan.

Kegiatan ini berlangsung selama dua minggu. minggu pertama mereka berkolaborasi yang dibagi dalam tiga group.  Minggu kedua, dibuat kelompok dengan formasi yang berbeda dengan minggu pertama dan mengadakan konser di tempat lain seperti Hochimin, Laos dan jakarta.

Ini saya lampirkan sebuah artikel dari majalah Tempo.

Ketika Manusia Menjadi Perkusi

Sejumlah musikus, terutama perkusionis, dari berbagai negara berkumpul, memainkan instrumen tradisional dan modern. Menarik, meski kurang komunikasi dengan penonton.

DI atas panggung Goethe Haus yang temaram, dua tetabuhan memecah sunyi. Perlahan, bunyi kentungan bambu yang ditabuh perkusionis Wei Wei Lan di sebelah kiri panggung dan ikatan bilahan bambu di sebelah kanan yang dipukul Henrik Larsen membentuk sebuah musik. Musik tetabuhan yang sangat sederhana, tanpa melodi, dalam tempo lumayan cepat.

Wei Lan memberikan latar irama, bergerak dalam jalur ketukan ajek. Adapun bunyi bambu di tangan Larsen terdengar menerobos, menyalip, sesekali mencoba mengacaukan permainan rekannya. Kira-kira lima menit pasangan ini bermain dalam musik yang penuh dengan repetisi. Suasana yang mulai monoton tersebut berubah ketika duet pemusik asal Cina dan Denmark itu kedatangan enam orang tamu: perkusionis dengan instrumen bambunya masing-masing.

Sosok yang memainkan improvisasi memang bertambah banyak. Musik semakin menggemuruh, tapi keadaan baru benar-benar berubah tatkala vokal manusia tiba-tiba ikut campur-tentu saja dengan warna berbeda. Suara manusia terdengar perkusif. Mereka tidak menyanyi, tapi berbunyi: mengeluarkan jeritan pendek-pendek tanpa arti, u’ u’ u’-sengak, istilahnya. Panggung kini menjadi ajang pertunjukan yang riuh rendah. Klimaks terjadi ketika semua instrumen bambu ditabuh dan jeritan pendek-pendek itu mencapai puncaknya.

Cracking Bamboo, Clapping Bamboos, Bols and Sengak yang membuka konser bertajuk Cracking Bamboos, Kamis dua pekan lalu, di Goethe Haus, Jakarta, itu seakan menggariskan bahwa warna suara-tak terkecuali suara manusia-punya peran penting. Cracking Bamboo dibawakan oleh 12 musisi. Selain itu, ada Udai Mazumdar asal India yang memainkan tabla, Wu Wei yang memainkan instrumen tiup sheng asal Cina, Iwan Gunawan dari Indonesia yang memainkan perkusi, dan masih banyak lagi.

Cracking Bamboo pertama kali ditampilkan di Hanoi, Vietnam, pada 15-22 September 2008. Dan di Jakarta adalah pertunjukan mereka yang kedua. Semua ini berawal dari gagasan Profesor Bernhard Wuff dari Jerman dan prakarsa Asia Europe Foundation. Sejumlah musikus, baik perkusi maupun bukan, dikumpulkan untuk berkolaborasi. “Proyek ini berupaya menggabungkan musisi dari Asia dan Eropa untuk bekerja sama sehingga menghasilkan sebuah karya dan kesempatan untuk berkolaborasi di atas panggung,” kata Udai Mazumdar.

Sepekan di Hanoi, ke-12 musisi itu pun terbang ke Jakarta dan pada 23 September lalu menggelar konser pembuka. Setiap musikus diberi kesempatan memperlihatkan kemampuannya bermain solo. Greogorio di Trapani, perkusionis asal Italia, misalnya, bereksplorasi dengan tubuhnya untuk menghasilkan bunyi perkusi yang cukup dahsyat. Cracking Bamboo menampilkan permainan solo, duet, trio, ataupun kuartet. Salah satu yang mendapat perhatian besar penonton adalah duet antara Wei Wei Lan asal Tiongkok yang memainkan pipa dan Udai yang memainkan alat musik perkusi India, tabla. Alunan melodius di antara kedua alat musik itu mampu menarik tepuk tangan penonton.

Ada pula nomor eksperimental yang dihadirkan oleh duo Mervyn Groot asal Belanda dan Henrik Larsen asal Denmark. Mereka membuat komposisi musik dengan peralatan sehari-hari, semacam stoples kaca, piring, pisau, hingga wajan, sesuai dengan judul nomor ini, Recipe for Percussion Kitchen. Bunyi unik dari peralatan makan dan dapur ini tak lupa dibumbui percakapan di antara keduanya. Cukup asyik meski agak terlalu panjang.

Akhirnya, semua ambil bagian dalam Finale: Solis-Sawal/Jawab-Tihai. Semua musisi bergabung dalam komposisi ini. Mereka menjadi dua kelompok yang berbincang melalui instrumen masing-masing. Rancak dan retak perkusi berkelindan dalam melodi pipa dan tabla. Penonton seakan tak ingin malam berakhir. Selama dua menit gemuruh tepuk tangan mengakhiri pertunjukan. Mungkin satu-satunya kritik yang pantas dihaturkan adalah minimnya komunikasi para musisi dan penonton. Pada setiap segmen tak terdapat jeda, sehingga penonton kesulitan memberikan apresiasi.

Sita Planasari Aquadini

Sumber: Majalah Tempo edisi  33/XXXVII 06 Oktober 2008

6 responses to this post.

  1. Posted by onesgamelan on Desember 12, 2008 at 21:06

    wah hebatnya tonton, yayas sareng yeru. sukselah……

    Balas

  2. Posted by uchyl on Desember 13, 2008 at 12:44

    muhun geuning hebat nya…. abdi ge hoyong saleresna mah, mung kedah rajin. hehehe
    kumaha carana supados spertos kitu nya? punten pasihan tips ah……..
    hatur nuhun.

    Balas

  3. Posted by uchyl on Desember 16, 2008 at 15:37

    abdi hoyong di ajar… pami gaduh waktos,, ajar abdi nya…..

    Balas

  4. Posted by uchyl on Desember 23, 2008 at 15:29

    ayeunamah abi tos tiasa sticking teh, tapi masih keneh di ajar. hehehe…..
    tos rada mendingan lah,,,,

    Balas

  5. Posted by adew on Januari 2, 2009 at 17:29

    wah leres nu namina sticking teh sae pizan

    asa hoyong nyobian abdi ge.hehe

    a tonton…a yayaz…yeru sukses lah!!!

    Balas

  6. Posted by Elang on Januari 21, 2009 at 04:42

    heuheuheu…A Tonskuy, Yayaz Kasepskuy & Yeru aku bangga jadi teman kalian.
    Bradeh…ajarin aku donk!pasti asyik kalo pake SULING…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: