EKSISTENSI MUSIK DEGUNG DIMASYARAKAT SUNDA

Gamelan Degung

Gamelan Degung

Oleh

Iwan Gunawan

Degung adalah salah satu genre musik yang berkembang di daerah Sunda dan konon katanya seni Degung ini berasal dari kaum elit atau priyayi (bangsawan Sunda). Terlepas dari hal itu, saya ingin lebih menyoroti persoalan ini pada persoalan perkembangan yang dipandang dari aspek musikal, dengan alasan bahwa tulisan-tulisan mengenai degung yang dilihat dari sudut historis dan lain-lain sudah terlalu banyak, namun yang membahas perkembangan secara musikal masih langka, dampaknya aspek kesadaran mengapresiasi serta mengkritisi musik degung baik oleh senimannya sendiri maupun masyarakat luas belum begitu memadai. Menurut saya kesenian ini mengalami “kemandegan,” artinya sedikit sekali para seniman melahirkan karya-karya baru yang berakar dari musik degung kecuali arah perkembangannya menuju pada komoditi budaya pop.

Perlu diketahui bahwa pada awalnya, musik degung hanya menggunakan instrument saja tanpa menggunakan vocal. Berbeda dengan musik lainnya di Sunda (yang cenderung menggunakan vocal), bahwa musik degung secara gramatik memiliki bentuk serta struktur yang cukup ketat (walaupun terdapat sedikit improvisasi) sehingga pada setiap karya memiliki keutuhan tersendiri. Jika kita melihat seni lainnya seperti Tembang Sunda Cianjuran (terutama bentuk panambih), kliningan atau celempungan, konsep instrument yang sifatnya mengiringi vocal dalam suatu lagu sangat dominan. Akhirnya, secara umum tatanan bunyi yang dibangun berdasarkan pada pola-pola atau patern-patern yang diulang-ulang (siklus). Dapat dikatakan bahwa satu pola atau satu pattern dapat dipakai untuk beberapa lagu, yang berbeda hanya melodi vocal, sedangkan pola atau patern sama saja, walaupun dalam beberapa hal terasa berbeda namun hal itu merupakan variasi saja yang sifatnya improvisatif.

Kembali pada persoalan degung, bahwa seni degung yang saya maksud seperti di atas kemudian disebut dengan istilah Degung Klasik. Pada era sekitar tahun 1980 – 1990, Degung merupakan salah satu genre musik di Sunda yang diberi perhatian khusus oleh masyarakatnya, umumnya masyarakat Sunda. Terdapat suatu prestise tertentu jika sebuah grup Degung dapat memainkan karya-karya Degung Klasik mengingat bahwa pada waktu itu Degung sudah mengalami perkembangan serta perubahan akibat pengaruh dari seni lainnya. Sehingga grup-grup seni Degung jarang sekali mementaskan karya-karya Degung Klasik dikarenakan dua alasan, pertama adalah karya Degung Klasik memiliki bentuk serta struktur tertentu dan untuk dapat memainkannya mesti mempelajarinya melalui notasi atau berguru secara lisan pada orang ahli. Kedua adalah, pada masa itu rekaman Degung Klasik masih sangat jarang serta belum banyak diproduksi secara komersial. Hal itu sehubungan dengan kebanyakan para seniman (non akademis) dalam mempelajari Degung seringkali melalui rekaman yang diproduksi secara komersial. Akhirnya sampai saat ini karya-karya musik Degung yang sering ditampilkan berdasar pada lagu-lagu yang sedang “ngetrend” dan selanjutnya fungsi seni ini hanya sekedar untuk hiburan hajatan semata.

Di sisi lain, saat ini gamelan degung telah dikenal di beberapa negara. Salah satu grup yang mengembangkan repertoar gamelan degung adalah grup evergreen club dari Canada. Melalui grup ini banyak komponis dunia yang telah menciptakan karya musik dengan perangkat Gamelan degung. Para komponis itu antara lain John Cage (Haikai, 1986), Gilles Trembley (L’arbre de Borobudur, 1994), James Tenney (The Road to Ubud, 1986), Dieter Mack (Crosscurent, 2001) dan masih banyak komponis lainnya.

Terlepas dari kenyataan di atas, bagaimanapun musik degung sampai saat ini masih eksis di masyarakat Sunda. Untuk itu saya ingin sedikit membahas berbagai perubahan serta perkembangan musik Degung berdasarkan atas pengamatan secara musical.

PENGARUH GRAMATIKA MUSIK KLININGAN TERHADAP DEGUNG

Salah satu perubahan yang sangat nyata pada musik degung adalah masuknya unsur vocal atau penyanyi seperti halnya dalam genre musik Kliningan. Namun demikian melodi vocal masih berdasarkan pada struktur melodi bonang yang sesuai dalam komposisi musik degung. Artinya melodi bonang sebagai melodi utama dalam karya degung dijadikan suatu lagu atau hanya ditambah syair. Misalnya dalam karya Manintin, Ayun Ambing, Bima mobos dan lain lain (tetapi tidak semua karya degung klasik menggunakan vocal). Selain itu, muncul konsep wiletan dalam degung seperti wiletan dalam genre musik kliningan. Sehingga mau tidak mau gaya permainan kendang mesti disesuaikan seperti pada kendang kliningan, karena instrument ini berfungsi mengatur atau mengendalikan wiletan.

Selanjutnya, pengaruh Kliningan terhadap degung menjadi sangat kuat sekali. akhirnya banyak lagu-lagu kliningan dimainkan oleh instrument degung, dari lagu-lagu yang bersifat pola atau pattern seperti catrik, kulu-kulu, banjaran dan lain-lain sampai pada lagu-lagu Ageung seperti Gunung Sari, Kastawa, Paksi Tuwung dan lain sebagainya. Pada era tahun 80-90an, musik degung yang dipengaruhi oleh kliningan menjadi gaya yang dominan, bahkan di sekolah-sekolah (SD, SMP, SMA), organisasi-organisasi tertentu (Dharmawanita dan lain-lain) dalam kegiatan tertentu mempelajari musik degung. Sedangkan karya-karya Degung Klasik hanya dipelajari di sekolah kejuruan seni seperti SMKI dan STSI Bandung. Namun pada akhirnya di masyarakat umum, lagu-lagu yang bersifat pola atau patern (yang lebih sederhana dari pada degung klasik) menjadi sebuah standar serta menjadi cikal bakal perkembangan musik degung saat ini yang mengarah pada lagu-lagu “pop” komersil.

PENGARUH INDUSTRI REKAMAN PADA KREASI MUSIK DEGUNG

Untuk mengamati perkembangan musik degung saat ini, tampaknya agak sulit jika kita ingin melepaskan kaitanya dengan industri rekaman. Hal ini berdasar pada kenyataan bahwa hampir semua kreasi musik degung yang diciptakan para seniman saat ini berawal dari produksi rekaman yang dijual secara komersil. Baru kemudian, setelah karya-karya tersebut dikenal masyarakat, dimainkan di panggung-panggung, terutama panggung hiburan/hajatan. Jarang sekali terselenggaranya pergelaran musik degung secara khusus, kecuali pada tahun 80-an, RRI Bandung sering mengadakan acara rutin yaitu siaran live musik degung oleh grup-grup kesenian dari berbagai daerah di Bandung. Akhir-akhir ini, dikarenakan produksi rekaman semakin gencar, mengakibatkan pergelaran atau peristiwa musik degung secara langsung sudah agak langka. Untuk alasan ekonomis, masyarakat yang ingin menikmati musik degung cukup dengan memutar rekamannya saja. Hal tersebut mengakibatkan dampak yang sangat menyedihkan, diantaranya terjadi perubahan sikap, fungsi serta pandangan masyarakat terhadap musik degung. Di mata masyarakat umum, musik degung saat ini befungsi hanya sebagai “background”/”kertas dinding” saja, namun demikian seringkali para senimannya tidak sadar akan hal itu.

Menurut pengamatan saya, bahwa kreasi musik degung saat ini diwarnai oleh beberapa gaya dari senimannya. Dari beberapa kreasi yang pernah diciptakan, muncul beberapa seniman yang sampai sekarang ini masih eksis dalam berkreasi musik degung. Namun demikian para seniman tersebut ada yang cukup dikenal di masyarakat umum ada yang tidak, tetapi keterlibatannya sangat penting dalam menentukan arah perkembangan musik degung. Mengenai keterlibatan seniman degung serta ciri khas dari kreasinya, terutama era tahun 80 an sampai sekarang, akan saya uraikan sebagai berikut.

1. Gugum Gumbira

Masyarakat mengenal Gugum Gumbira sebagai seniman pencipta Tari Jaipongan, namun keterlibatan dalam perkembangan musik degung sangat menonjol. Sebagai pimpinan dan produser Jugala Group serta pemilik perusahaan rekaman Jugala Record, kreasi Gugum Gumbira sebenarnya sangat produktif serta potensial sekali. Beberapa album awal tidak begitu mengikuti selera pasar. Ciri khas karyanya banyak dipengaruhi oleh musik kliningan dan tembang sunda Cianjuran. Hal ini dapat dilihat dari repertoar lagu-lagu yang dibawakan seringkali mengambil dari repertoar lagu-lagu panambih Tembang Sunda Cianjuran yang diiringi oleh gamelan Degung dengan konsep gramatika musik kliningan. Tetapi seiring dengan semakin maraknya budaya “pop” serta alasan komersil, pada akhirnya karya-karya yang diciptakan berorientasi pada selera pasar juga. Keunggulan dari Grup ini adalah kompetensi para pemainnya yang sangat baik, sehingga boleh dikatakan bahwa posisi Gugum Gumbira dalam berkreasi musik Degung lebih dipandang sebagai “sutradara” (men-direct), beliau sangat pandai memilih pemain serta memanfaatkan ide atau potensi keterampilan pemainnya.

2. Ujang Suryana

Selain sebagai pencipta lagu, Ujang Suryana dikenal sebagai pemain suling Degung. Karya Degung yang sangat terkenal (bahkan sampai luar negeri), adalah karya instrumental. Konsep melodi atau gaya permainan melodi sulingnya sangat sederhana sekali (sedikit sekali ornamen, padahal keindahan suling sunda terletak pada varian atau ornamennya). Terkadang kesederhanaan ini menjadi bahan guyonan bagi pemain suling karena terkesan seperti orang yang sedang belajar bermain suling. Namun demikian karena aspek “conditioning” (sering sekali karya ini didengar seperti di radio, restaurant dan lain-lan), pada akhirnya gaya permainan suling ini diakui masyarakat akan keunikannya. Jarang sekali bahkan tidak ada pemain suling yang memainkan seperti Ujang Suryana, sehingga gaya permainan suling tersebut pada akhirnya menjadi khas dan individual.

3. Nano Suratno

Barangkali, seniman ini adalah seniman yang paling produktif dalam mencipta lagu-lagu degung dengan hasil penjualan rekaman yang sangat sukses. Sudah jelas bahwa karakteristik karya-karya degung Nano S cenderung sangat diwarnai oleh musik pop. Hal ini memang berdasar pada kenyataan bahwa motivasi beliau dalam berkarya degung atau lagu-lagu yang diciptakan ingin disukai banyak orang. Sehingga unsur-unsur musik pop beserta segala triknya sangat kuat sekali. Isi syair tentang cinta, iramanya yang “ngebeat”, melodi yang mudah dicerna seperti ciri-ciri musik pop pada umumnya sangat nyata. Namun jika dilihat dari unsur garap, terutama arransemennya, memiliki tatanan yang apik, terkadang dalam beberapa karyanya digarap secara kreatif serta mempunyai kompleksitas yang cukup tinggi, sehingga tak mudah para pemain dapat memainkannya. Tentunya hal itu dipengaruhi oleh karena kebanyakan karya Degung yang pernah diciptakan Nano s diperkaya oleh seniman lain seperti Lili Suparli, Gatot Winandar, Barlen, Ega Cahyar Mulyana dan lain-lain. Pada intinya dalam beberapa karyanya, Nano S sering melakukan kolaborasi dengan para seniman tersebut. Namun demikian, sosok Nano S bukan saja sebagai pencipta lagu atau arranger musik Degung, sebenarnya beliau memiliki wacana musik yang luas baik sebagai komponis maupun sebagai budayawan.

4. Iik Setiawan

Karya-karya Iik Setiawan serta produktifitasnya, tak jauh dengan apa yang dikerjakan oleh Nano S (kebetulan Iik Setiawan adalah salah seorang murid Nano S). Namun jika diamati secara seksama, bahwa karya Iik memliki keunikan tersendiri. Terutama dalam varian melodi lagu dan tentunya arransemennya yang tidak rumit namun terasa pas dengan karakter lagunya. Lagu-lagu ciptaan Iik Setiawan sangat populer dan sering dibawakan oleh grup-grup degung dalam sebuah pementasan hajatan. Sama seperti Nano S, pengaruh musik pop pada kreatifitas karya Iik sangat kuat sekali, bahkan dalam satu album Iik dan kawan-kawan pernah membentuk sebuah grup yang namanya “Degung Dedikasi”, garapannya antara lain mengarransemen lagu-lagu pop barat dengan menggunakan alat gamelan degung “Diatonis”.

5. Ismet Ruchimat

Dalam perkembangan musik degung di Sunda, karya Ismet merupakan karya degung yang mutakhir dibanding dengan karya seniman lainnya. Eksistensi Ismet dalam musik degung lebih banyak dikenal dalam pementasan-pementasan secara live dengan grupnya yang bernama “Samba Sunda”. Tak banyak karya-karyanya diproduksi melalui rekaman komersil. Secara musical bahwa hubungan karya Ismet dengan Degung Klasik sangat nyata sekali. Banyak materi-materi yang bersumber dari repertoar Degung Klasik, diolah secara kreatif sehingga menghasilkan sesuatu yang baru. Karya Ismet tidak selalu menggunakan alat gamelan degung, namun hampir keseluruhan karyanya selalu terdapat unsur-unsur musik degung terutama Degung Klasik. Namun demikian, suasana atau cita rasa “pop” seperti yang dikemukakan di atas, masih kental sekali. Terutama dalam hal garapan perkusi atau konsep ritme yang dirasakan sangat nyata diambil (bahkan “mengutip”) dari gaya perkusi Afrika atau Latin. Terlepas dari hal itu, karya-karya Ismet memiliki keunikan tersendiri serta menjadi isu yang hangat diperbincangkan, sehingga menjadi perhatian masyarakat seniman Sunda saat ini.

Dari paparan di atas mencerminkan bahwa sebuah perubahan atau perkembangan musik degung ternyata sangat erat dengan “trend” atau “budaya pop”. Barangkali, hal ini dikarenakan oleh wahana atau tool (meminjam istilah Suka Hardjana), seperti adanya teknologi rekaman, bisnis komersil dan lain sebagainya yang menyebabkan perkembangan musik degung menuju ke arah itu. Namun bagaimanapun, sebuah trend musik tidak dapat dijadikan sebagai acuan arah perkembangan musik secara kualitatif, karena kreatifitas musik yang mengikuti trend tidak berasal dari kegelisahan yang dirasakan sebagai kebutuhan ekspresi secara utuh, namun kegelisahan yang muncul termotivasi atas dasar aspek popularitas, komersialisme, status dan lain sebagainya.

Melihat kenyataan seperti di atas timbul satu pertanyaan, adakah karya musik degung dari hasil kreatifitas seniman sunda saat ini yang berangkat dari ekspresi yang utuh atau murni, tak ada kompromi dengan selera pasar?. Pertanyaan ini saya lontarkan sebenarnya mempertanyakan pula akan nasib keberadaan Degung Klasik.

31 responses to this post.

  1. Posted by uchyl on Desember 13, 2008 at 12:39

    saya sebagai anggota kyai fatahillah sangat bangga, karena saya merasa nyaman dan banyak sekali mendapatkan ilmu dari ensemble kyai fatahillah ini. saya juga bersyukur dapat ikut di acara internasional SIEM kemaren yang di adakan di solo. punten rada mengkol komentarna!

    Balas

  2. Posted by fitria ramdani on Januari 15, 2009 at 13:04

    saya bingung,,dan saya ini benar2 awam,,maklum saja..saya ini hanya anak sma yang hanya tau aliran musik biasa,,main keyboard saja hanya untuk musik biasa seperti jazz,pop,rnb dan sebagainya..pda tgl 15 januari 2009 saya membaca artikel tentang ensamble kyai fatahillah,,sekarang saya duduk di bangku kls 3 sma di cirebon. awalnya saya mempunyai tekat yang kuat untuk masuk IKJ. tapi semua itu buyar setelah saya melihat artikel ini. saya langsung berubah haluan tujuannya ke UPI. pADA SAAt itu juga saya mulai browsing mencari artikel tentang kalian..hampir di semua artikel tertulis nama IWAN GUNAWAN!!ITS AMAZING THING,,,SEBenernya anda ini siapa??sehingga bisa memotifasi kaum muda untuk mencintai musik traditional??sungguh kagum saya sebagai anak sma yang bisa dibuat terpana hanya karna sebuah artikel yag sangat mengagungkan kalian dan anda..

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Januari 15, 2009 at 15:58

      terima kasih anda telah mengunjungi blog saya. tentang kebingungan anda silahkan diskusikan di sini. Mengenai saya dan ensemble kyai fatahillah tidak usah dilebih-lebihkan. namun bila ada pertanyaan tentang ensemble kyai fatahillah atau tentang studi di UPI silahkan bertanya, saya dengan senang hati akan menjawabnya. terima kasih.
      salam

      Balas

  3. Posted by fitria ramdani on Januari 16, 2009 at 06:44

    gni saya mau tanya..nanti kata guru saya di upi kalo lewat pmdk ada tes praktek khususnya di jurusan senbi musik…nah pertanyaan saya, nanti yang di ujiankan apa aja?

    Balas

  4. Posted by onesgamelan on Januari 17, 2009 at 04:12

    biasanya, kemampuan dasar musikal. misalnya anda harus memiliki kompetensi:
    1. dapat membedakan tinggi rendah nada
    2. mengenal karakter bunyi (contoh, membedakan akor mayor minor/laras salendro pelog dll.
    3. mengenal perasaan Irama
    4. mampu menirukan ritme, melodi dsb.
    agar lebih meyakinkan, anda harus memainkan instrumen yang anda kuasai.
    5. wawancara tentang sejauh mana anda punya minat studi di Prodi seni musik UPI.
    sementara gambaran kasar seperti itu yang akan diujikan.

    Balas

    • Posted by selvy on Februari 27, 2010 at 01:02

      bapak taun sekarang saya mengikuti jalur pmdk jurusan pendidikan seni musik,, saya tisak terlalu mahir di dalam memainkan musik .apakah itu tidak apa2????

      Balas

  5. pak..
    saya juga lagi bingung..

    saya mau ikutan PMDK Musik UPI taun ini..
    insyaallah..

    waktu sd saya sering ikutan pentas angklung dan rampak sekar..
    tapi gak tau itu dapet setifikat atau gak. mungkin dapet. tapi secara itu rame2 maennya. ya pasti atas nama sekolah aja. bukan atas nama sendiri.

    yang jadi pertanyaannya..
    kalo mau masuk PMDK UPI tuh.. wajib punya setifikat or piagam yang relevan ma musik?
    kalo ga gimana?
    kalo misal setifikatnya dari yang saya sebutin di atas ga pa-pa?

    terus kalo mau masuk music wajib 10 besar?

    terus misal kalo rapornya yang diliat cuma pelajaran seni musik. sedangkan d smk saya ga ada pel seni musik (soalny smk IT).
    itu gmana?

    kalo smp sih ada..

    insyaallah kalo bisa,untuk tes khusus saya mau main gitar.
    gak musti ahli banget kan? yang penting tau dasar dan punya bakat seni?

    gmana pak??

    saya suka banget musik.
    pengen banget masuk fakultas musik UPI..

    Balas

  6. Posted by onesgamelan on Februari 18, 2009 at 16:28

    pertama, kamu bisa masuk pmdk tergantung sekolahnya, apakah diusulkan atau ngga? coba tanya guru/pegawai sekolah yang mengurus hal tersebut.
    kedua, sertifikat/ piagam kalau punya bagus akan tetapi itu digunakan sebagai bahan pendukung, yang paling utama dalam tes pmdk kamu harus menunjukan bakat serta motivasi yang tinggi untuk studi musik di UPI.
    tentang apa yang diujikan mohon lihat komentar saya di atas.
    semoga anda bisa lolos….

    Balas

  7. Posted by henry virgan on Februari 19, 2009 at 01:48

    Broer Iwan sudah memulai suatu langkah yang sangat-sangat berarti bagi “langkah kecil” perkembangan Degung untuk selanjutnya, melalui tulisan broer di atas. Saya tertarik dengan berbagai ide bung Iwan saat kita berdiskusi di darat, yaitu ingin melacak dan mem-“peta”-kan musik Sunda beserta berbagai hal yang mengikutinya secara umum dan khususnya musik Gamelan. Sehingga nantinya akan terkumpul “database” tentang musik Sunda (Semoga dan kita berharap). Hal tersebut sangat menentukan perkembangan musik Sunda ke depan, karena dengan begitu kita dapat mempelajari berbagai musik gamelan (atau karawitan?) dengan berbagai cara. Misalkan dengan studi partitur maupun studi audio. Apa saja yang telah berkembang dalam sekian masa. Apa saja yang di”lestari”kan. Gaya apa saja yang muncul sampai pemikiran-pemikiran para seniman, pelaku, pendidik dan komposer serta pengambil kebijaksanaan yang terkait dalam perkembangan tersebut. Sehingga generasi selanjutnya dapat memposisikan dan secara sadar ber”aksi” dalam perjalanan berikutnya. Melalui blog bung Iwan ini maupun melalui diskusi-diskusi kecil di darat, kita juga sama-sama berharap pihak-pihak tersebut di atas dapat turut menyumbangkan pemikirannya dan bergerak.
    Bung Iwan, semoga jalan dibukakan.
    GBU All.

    Balas

  8. Posted by onesgamelan on Februari 19, 2009 at 05:28

    thanks your support……

    Balas

  9. waduh..

    makasih banget ya pak masukannya..

    saya ada pertanyaan lagi..

    ada yang bilang.. katanya.. kalau misal keterima PMDK..
    IPK nya harus naik terus ya?
    kalau tidak bakal dikeluarkan?
    benar begitu?

    kalau untuk bidang seni musik IPK secara keseluruhan atau hanya nilai kejuruannya saja.. (musik)?

    duh..
    maaf jadi OOT begini..

    Balas

  10. Posted by onesgamelan on Februari 20, 2009 at 03:52

    kalu IPK tentu saja nilai seluruh mata kuliah yang ditempuh. Yang penting harapan buat semua mahasiswa ipknya…. ya tentu saja harus bagus dan tidak ada seorang mahasiswa yang mau ipknya jelek jika ia merasa belajar dengan sungguh2.
    sejauh yang saya tahu belum ada mahasiswa yang lolos melalui pmdk dikeluarkan gara2 ipknya turun…akan tetapi sebagai mahasiswa dengan jalur pmdk….masa sih ipknya jeblog!…disitulah tanggung jawabnya. mahasiswa dengan jalur pmdk harus dapat membuktikan bahwa Ia adalah mahasiswa terpilih.

    Balas

  11. Posted by gilang on Februari 20, 2009 at 09:56

    pak iwan,.. heuheu,.. tulisannya benar-benar memberikan pencerahan.. diantos topik berikutnya..

    Balas

  12. Posted by karin on Februari 20, 2009 at 17:13

    hmm.. iya2..

    terimakasih ya pak.

    lebih ada pencerahan..

    terakhir..

    kalo fakultas seni musik nampung berapa orang ya buat jalur PMDK? *sekedar buat bayangan*

    maaf nanya terus.. ^_^;

    Balas

  13. Posted by onesgamelan on Februari 21, 2009 at 03:45

    biasanya sekitar 25 orang sampai 30 tetapi kadang2 ditentukan oleh kebijakan dari universitas. pokoknya kalau kamu punya minat tinggi jadikan jurusan musik menjadi pilihan ke 1 jangan yang ke 2 karena hal itu jadi bahan pertimbangan juga. Kalau anda bertanya terus tak usah sungkan saya senang menjawabnya sejauh itu bermanfaat. seperti kata pepatah malu bertanya sesak napas…eh salah ya…..

    Balas

  14. Posted by karin on Februari 21, 2009 at 11:54

    hehe..

    kalo gitu saya ga akan sungkan2 nanya2 lagi..😀

    kirain teh ganggu..

    soalnya dari kemarin komen saya udah out of topic..😛

    skali lagi makasih banget pak..

    saran dan masukan2nya sangat berguna sekali..

    kmaren udh hampir hopeless gag bakal jadi ikutan PMDK.. berhubung kirain harapan kterimanya sangat kecil..

    sekarang mah yang penting harus berusaha dulu.

    ok!

    pendaftaran ditutup tanggal 2 maret kan?

    suskes buat ensemble nya! ^_^

    Balas

  15. HM,,,
    makasih pak…
    itu bner kan pak jadwalnya dari tgl 27-28??
    mulai jam berapa y pa??
    tidak ada pemberi tahuan di sekolah saya,,

    Balas

  16. oh iya pak saya lupa,nanti saya perlu membawa keyboard saya tidak?
    atau sudah di sediakan di upi?

    Balas

    • Posted by onesgamelan on Maret 11, 2009 at 14:31

      perkara jadwal saya kurang tahu, coba masuk di http://www.upi.edu mudah2an ada informasi.
      kalau kamu mau main keyboard, di upi disediakan piano akustik. kalau mau main electone di upi
      tersedia yamaha psr 3000. kalau kamu tidak repot nggak salah kalau mau bawa alat sendiri.

      Balas

  17. oh gitu,,
    maksih pa kalo gitu..
    nuhun pak…

    Balas

  18. bapa….
    saya mau curhat…
    ekmaren tesnya susah,,,
    yang lain 5-10 menit,,
    saya 15 menit sendiri,,
    hiks,,
    doakan say lolos ya pa…
    nilai plus apa saja yang menjadi pertimbangan pak??

    Balas

  19. *baca postingan di atas*

    haduh.. sama..
    saia juga kesulitan pas tes kmarin..
    udah mah paling trakhir lagi di testnya pas tgl 28.. haha
    mana yang daftar 300an yang kterima cuman 20 orang..

    tawakal aja ini mah.. nu penting udah usaha.. dan menunjukkan minat.. hehe…
    sempet keder juga liat orang2 skill main musiknya udah jago2..

    palagi liat nak2 SMK 10.. waduh..
    saya dari SMK 11.. smpet dikira anak SMK 10.. jelas sgt beda lah.. haha..

    yah,kalo gagal..
    masih ada UM dan SMPTN.. ^_^

    o ia,saya juga mau nanya,,
    minimal kita harus bisa apa aja hr itu,yg menjamin kita bisa lolos tes PMDK kmrn?
    harus sempurna kah?
    terus,sama kayak di atas,apa aja yang dipertimbangin?

    Balas

  20. Posted by Owlieh on April 10, 2009 at 12:16

    sae kang sing teraslah nulis artikelna. ngarah abdi teu kedah ka kampus jauh teuing. Hidup Fatahillah abdi mah ngadukung ku dua weh.

    Balas

  21. Posted by ghie on Juli 14, 2010 at 06:27

    kang, dimana saya bisa dapet album album nya kang Iik Setiawan yang Degung Dedikasi Diatonis?
    saya dah cari kemana mana ga nemu…
    dulu sempet punya, tapi ilang dipinjem temen…
    tulung ya kang…😀

    Balas

  22. ak lita masih ank smp kls 3 , ak png tau donk tentang seni musik karawitan soalnya ak jg png masuk upi fakultas seni musik karawitan

    Balas

  23. Salam’alaikum wr. wb. Salam silaturahmi. Sampurasun.

    Salut buat Kang Iwan. Saya Rachmat, alumni ASTI/STSI Bandung Jur Karawitan (’89/’05). Sekarang sedang melanjutkan studi di ISI Yogyakarta. Rencana tesis tentang Degung. Boleh saya tahu alamat Akang? Ada yang ingin saya obrolkan, tapi rasanya tak cukup kalau di sini. Atau no. kontak kalau tidak keberatan.
    Atau kalau ada alamat e-mailnya. Alamat e-mail saya mamarahmat@gmail.com.

    Terimakasih banyak sebelumnya.

    Balas

  24. Saya senang sekali dapat membaca tulisan ini.
    Kalau boleh ingin saya sampaikan pengalaman saya belajar dan bermian gamelan degung yang mungkin dapat menjadi informasi tambahan.

    1. Saya belajar gamelan degung dengan pak Encar Carmedi pada tahun 70an dirumah beliau Kebon Gedang , Kiaracondong, kemudian diteruskan belajar di KOKAR Bandung dengan pak Juju sain. Menurut penjelasan beliau lagu bonang teknik “gumek ” yang diajarkan adalah berdasarkan pengamatan beliau atas pengamatan permainan bonang yang dimainkan oleh pak Encar, Penulisan notasi bonang ditulis sangat rinci bagi pukulan tangan kanan dilarik sebelah atas dan pukulan tangan kiri dilarik bagian bawah. Hal ini atas dasar pengalaman beliau menuliskan notasai gambang yang juga diajarkan pada kami. Jadi kedua almarhum mempunyai andil yang cukup besar pada era itu untuk perkembangan gamelan Degung pada dewasa ini.

    2. Pada era tahun itu juga, grup Lingkung Seni Parahiyangan yang dipimpin oleh pak Encar telah merekamkan beberapa lagu di perusahan rekaman Lokananta, Surakarta, diantaranya ada lagu Pajajaran, Beber Layar, Lengser Midang dan beberapa lainya. ( kemudian diikutu oleh prduksi rekaman di Bandung ) Selain rekaman lagu Klasik Degung juga ditampilkan garap lainnya yang menggunakan teknik kemprangan pada bonang, teknik caruk pada saron dan teknik kendang kiliningan. Penambahan garap seperti itu tentu saja tidak terlepas dengan hadirnya pak Entis Sutisna almarhum, pemain suling yang juga pemain rebab untuk lagu gamelan kiliningan / wayang dan pak Tosin Mochtar almarhum pemain kendang kiliningan dan tari yang sangat terkenal pada era itu. Begitulah seterusnya garapan Lingkung Seni Parahiyangan menjadi panutan untuk garapan seterunya.

    3. Perkataan degung mungkin berasal dari kata Belanda untuk menyebutkan gong ( di Bali dan Jawa Tengah juga dimaksud gamelan ) De Gong……

    Balas

  25. Posted by iik setiawan on Mei 30, 2012 at 21:13

    Hatur nuhun parantos ngaapresiasi karya pribados. Diantos resensi sanesna.

    Balas

    • Posted by ghie on Mei 3, 2014 at 04:10

      punten kang, manawi tiasa masihan informasi kangge meser kaset/cd degung dedikasi, dimana nya? kumargi tos milari kaditu kadieu, teu mendak-mendak… hatur nuhun

      Balas

  26. Posted by Tomy Rando on Juni 15, 2012 at 06:46

    Gue suka me musik degung,
    tolong kasi tau asal usul pencipta nye………..

    Balas

  27. Posted by ali on November 15, 2013 at 03:38

    Makasihh lengkapp Smua Good

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: