Ensemble Mozaik Bertemu Kyai Fatahillah

Bandung, UPI

Di tengah hiruk pikuk industri musik dan musik populer, sekelompok musisi dari Berlin yang tergabung dalam ensemble mosaik bertemu Kiai Fatahillah di Bandung. Kiai Fatahillah adalah nama seperangkat gamelan milik UPI yang digunakan sebagai nama grup musisi muda pimpinan Iwan Gunawan yang sekaligus dia komposer dan konduktor serta dosen di Jurusan Pendidikan Seni Musik, FPBS UPI.

Kedua grup musisi ini mempunyai dasar yang sama yaitu tradisi masing-masing dan ketertarikan terhadap musik kontemporer. Akan tetapi mereka berbeda latar belakang budaya serta jenis alat musik yang dimainkannya. Ensemble mosaik memainkan alat Barat, sedangkan Kiai Fatahilallah memainkan alat gamelan Sunda. Pertemuan ini memiliki makna yang sangat dalam bagi pemain, penikmat, dan penonton. Menarik untuk diamati pertemuan silang budaya Barat dan Timur ini, bagaimana dialog mereka? Bagaimana pemahaman dan interpretasi mereka sehingga menghasilkan sebuah harmonisasi dan makna? Tidak saja dari sisi artistik dan estetik, namun lebih dari itu adalah pemahaman representasi identitas budaya. Bagi Kiai Fatahillah, pertemuan ini adalah yang kedua kalinya setelah dia bertemu dengan ensamble gending dari Belanda pada bulan Juli 2010 lalu di Bandung.

Kedua ensembel ini akan memainkan 10 karya komposer muda Asia Tenggara terpilih, yang menggunakan alat Barat dan gamelan Sunda. Karya mereka akan dilatih selama satu minggu baik di UPI maupun di Taman Budaya. Pergelaran 10 karya itu akan diselenggarakan pada tanggal 8 Oktober 2011, pukul 19.30 di Teater Tertutup Taman Budaya Bandung. Pada tanggal 2 Oktober di tempat dan waktu yang sama akan dipentaskan berbagai karya dari anggota juri internasional. Pertunjukan akbar ini digelar atas kerja sama Goethe Institut dengan Universitas Pendidikan Indonesia. (WAS)

Simak dan Komentari

John Cage

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

For the Ally McBeal character, see John Cage (character).
For the Mortal Kombat character, see Johnny Cage.

John Cage in 1956.

John Milton Cage Jr. (September 5, 1912 – August 12, 1992) was an American composer. A pioneer of chance music, electronic music and non-standard use of musical instruments, Cage was one of the leading figures of the post-war avant-garde. Critics have lauded him as one of the most influential American composers of the 20th century.[1][2] He was also instrumental in the development of modern dance, mostly through his association with choreographer Merce Cunningham, who was also Cage’s romantic partner for most of their lives.[3][4]

Cage is perhaps best known for his 1952 composition “4′33″“, the three movements of which are performed without a single note being played. The content of the composition, 4′33″ is meant to be perceived as the sounds of the environment that the listeners hear while it is performed,[5] rather than merely as four minutes and thirty three seconds of silence,[6] and the piece became one of the most controversial compositions of the twentieth century (the work was recently televised on BBC Four, performed by the London Philharmonic under the baton of Laurence Foster. Another famous creation of Cage’s is the prepared piano (a piano with its sound altered by placing various objects in the strings), for which he wrote numerous dance-related works and a few concert pieces, the most well-known of which is Sonatas and Interludes (1946–48).[7] Lanjutkan membaca

MUSIK KONTEMPORER DI DAERAH SUNDA SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN MUSIK LOKAL YANG BERWAWASAN GLOBAL

Oleh

Iwan Gunawan

Pendahuluan

Paradigma tentang musik kontemporer akan sulit dipahami apabila kita hanya menggunakan parameter yang  sempit serta hanya berdasar pada 100_2593pemahaman budaya lokal saja. Berdasar pada berbagai referensi bahwa asal usul istilah itu datang ke negeri kita dapat dipastikan berasal dari budaya Barat (Eropa-Amerika). Oleh karena itu pemahaman masyarakat kita terhadap musik kontemporer seringkali agak keliru. Tentang hal itu, seorang tokoh musik di Indonesia yaitu Suka Hardjana[1] pernah mengemukakan, antara lain.

Secara spesifik, musik kontemporer hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan perkembangan sejarah musik barat di Eropa dan Amerika. Namun, walaupun dapat mengacu pada sebuah pemahaman yang spesifik, sesungguhnya label kontemporer yang dibubuhkan pada kata seni maupun musik sama sekali tidak menunjuk pada sebuah pengertian yang per definisi bersifat normatif. Itulah sebabnya, terutama bagi mereka yang awam, seni atau musik kontemporer banyak menimbulkan kesalahpahaman yang berlarut-larut.

Istilah musik kontemporer yang seringkali diterjemahkan menjadi “musik baru” atau “musik masa kini” menyebabkan persepsi bahwa jenis musik apapun yang dibuat pada saat sekarang dapat disebut sebagai musik kontemporer. Padahal istilah kontemporer yang melekat pada kata “musik” itu bukanlah menjelaskan tentang jenis (genre), aliran atau gaya musik, akan tetapi lebih spesifik pada sikap atau cara pandang senimannya yang tentunya tersirat dalam konsep serta gramatik  musiknya yang memiliki nilai-nilai “kekinian”. Persoalannya adalah, untuk mengetahui apa yang “terkini” tentu saja kita mesti memiliki referensi secara historis. Melalui kesadaran historislah seseorang akan memiliki wahana (tools) yang dapat digunakan untuk menilai serta memahami aspek “kebaruan” dalam karya musik (baca:musik kontemporer). Lanjutkan membaca

Dieter Mack dan Musik “Murni”


Angin tutti2Ada kecenderungan reduksionistis. Tapi sang komponis tampak mencoba membebaskan bunyi untuk berbicara sendiri.

Selasa malam, pekan lalu, seusai pementasan musik komponis Jerman Dieter Mack di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) oleh grup musik kamar Ensemble SurPlus pimpinan James Avery, komponis Slamet Abdul Syukur terdengar mendecak kagum: “Musik yang begitu murni.”

Kata “murni” terasa menyentak, apalagi karena Slamet memakai itu sebagai perbandingan dengan Gillian Whitehead, komponis asal Selandia Baru yang karya-karyanya dipentaskan juga dalam rangka Art Summit IV di GKJ seminggu sebelumnya. Dikatakannya bahwa dalam musik Whitehead, yang bagi saya pribadi sangat bening, membumi, dan irit instrumentasi, “Masih ada kehendak merayu.”

Apakah “murni” yang dimaksud? Murni dalam arti hemat bunyi, nada, atau pesan? Murni sebagai penjelajahan atas semua kemungkinan yang ada dalam sebuah instrumen—memperalat, memperbudak, menaklukkannya kalau perlu, demi memperoleh bunyi asli? Atau murni sebagai antitesis dari “manis”, kata yang nyaris ditabukan dalam telaah musik kontemporer? Sementara, “manis” itu: melodi, harmoni, sekadar tonalitas, atau sesuatu yang menggugah roso, terasa karib di telinga?

Dieter Mack bukan orang asing di dunia musik Indonesia. Ia memakai banyak “topi”: komponis, pianis, etnomusikolog dan profesor di bidang komposisi, dan seorang yang sangat akrab dengan musik Bali. Ia dihormati, sampai sekarang, sebagai seorang penafsir yang bergulat dengan esensi gamelan, dan bukan terjemahan harfiah atau transkripsi bunyi semata. Ia tetap setia pada tradisi musik Barat—termasuk keseluruhan sejarah dan segenap hantu-hantunya, dengan unsur-unsur asing hadir bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai pemerkaya ekspresi musikal. Seperti metafor, imaji, segurat sugesti.

Dalam pengertian tersebut, karya pembuka, Taro, masih memikat. Karya tahun 1987 ini menampilkan perkusi, basklarinet, piccolo, dan dua piano dalam unisono yang ajek dan terkontrol. Tak ada ingar perkusif, riak metalik, “bunyi” Bali yang gamblang. Seperti dalam tradisi gamelan, pokok gending yang menjadi semacam melodi dasar memang diurai oleh kontrapung dan beragam ritme perkusi. Tapi lapisan-lapisan melodi yang lebih cepat, yang seharusnya berjalinan dan berkelindan secara sinkron sampai akhir teka-teki, tak sampai mengunci para pemainnya dalam sebuah ketergantungan emosional. Dari segi timing, interaksi para pemain bisa dikatakan minim, sementara jarak antara modulasi ritme cenderung panjang dan terukur. Tradisi seakan dikuliti, bunyi seperti distilasi. Lanjutkan membaca

NGAGUAR PANGALAMAN NABEUH GAMELAN JEUNG ENSEMBLE KYAI FATAHILLAH

Ku: Iwan Gunawan

ekfEnsemble Kyai Fatahillah nyaeta salah sawios unit kegiatan mahasiswa dina widang kreasi gamelan nu aya di Jurusan Pendidikan Musik FPBS UPI. Sebatan “Kyai Fatahillah” saleresna nyandak dina nami perangkat gamelan pelog salendro nu aya di UPI nyaeta “Kyai Kangjeng Fatahillah” nu akhirna disebat wae “Gamelan Kyai Fatahillah”. Salian ditinggal dina bentuk sareng jumlah waditrana anu benten tinu sanes, perangkat gamelan ieu ngagaduhan sora anu halimpu, teges jeung ngandung karakter ageung wibawa. Kukituna gamelan ieu salah sawios aset nu janten kabanggan UPI.

Akhir taun 2003, sim kuring kenging uleman ti HKW (Haus der Kulturen der Welt) kanggo kagiatan mangrupa festival seni Asia Fasifik di Berlin Jerman taun 2005.  Ngalangkungan Prof. Dieter Mack. salaku kurator dina kagiatan eta, sim kuring kedah mentaskan sababaraha karya gamelan ti ngawitan gamelan tradisional dugi ka gamelan kontemporer. Harita Dieter Mack nunjuk sim kuring kulantaran anjeuna apal pisan kana kreasi-kreasi sim kuring utamana dina karya-karya gamelan. Harita keneh, kuring dipenta datana jeung naon ngaran grupna?. Tangtuna sim kuring bingung, kulantaran ari balad-balad nabeuh mah loba, tapi dugi ka harita teu boga ngarana. Ah, kuring teh improvisasi bae, sakolebat inget kana ngaran gamelan nu aya di UPI. Sebutkeun weh ku kuring teh ngaran grupna ensemble kyai fatahillah. Lanjutkan membaca

On the Topicality of Ton de Leeuw’s Concept of ‘Acculturation’.

By Jurrien Sligter

As probably several among those present here already know the Dutch composer Ton de Leeuw wrote in 1975 a composition for Javanesejurrien gamelan, named “Gending, a homage to the musicians of the gamelan”.

He wrote the piece after many years of hesitation: He was afraid to fall into the trap of so called exoticism, the superficial imitation of eastern elements in western music. Already in 1962, more than forty years ago he included in his book on Music of the Twentieth Century[1] a chapter on “Exoticism and Folklore”. We can read in it the following statement:

We must bear in mind that the process of acculturation ( hybridization) , the fusion and adoption of elements of different cultures, may be counted among the most familiar phenomena of art history. It is not impossible that our own art (today) reveal lines of evolution, free and from within, that in some respects approach certain Eastern concepts more closely than was ever possible within our former and closed cultural pattern.

Ton de Leeuw developed his concept of musical acculturation in modern composition in the circle of UNESCO together with – amomg others –  the Vietnamese scholar Tran Van Khe. Lanjutkan membaca

LAGU JEUNG RUMPAKA

Ku: Nano S

Namperkeun sarining basa

pang-nano-sRumpaka teh kekecapan dina lagu. Dina tembang sok disebut dangding, atawa guguritan. Dina lagu kapasindenan, sok disebut kata-kata. Dina lagu kawih sok disebut rumpaka. Dina lagu pop Sunda, sakapeung sok campur jeung istilah musik, sok aya nu nyebut lirik. Para sastrawan, sok aya nu nyebut sastra lagu. Pangpangna kana rumpaka karya para sastrawan.

Tina beda-beda sebutan jeung istilah, katingalina ayeuna mah nyoko kana hiji istilah nu dianggap sisniger tengah, nyeta rumpaka bae disebutna teh. Wangunan eta rumpaka rupa-rupa. Aya anu winangun sisindiran, puisi, wawangsalan, pupuh jrrd. Malah dina perkembangan ayeuna, pangpangna dina lalaguan anyar, sok make sajak bebas bae.

Dina lalaguan tembang Sunda, anu umumna sok make rumpaka/dangding tina pupuh, geus lawas jadi bahan ulikan para ahli sastra. Nu diulikna, lain kumaha tumapelna tur adumanisna eta dangding kana komposisi lagu, tapi leuwih nyindekel kana ajen sastrana. Teu aneh mun dangding dina tembang teh loba nu aralus, maklum seeur kenging para bujangga anu tos kawentar. Salah sawiosna guguritan lagu laut kidul kenging Kalipah Apo, anu terus disandingkeun kana lalaguan, anu manjing dina pupuh dangdanggula.

Lalaguan kawih, saperti barudak/lagu rakyat/kaulinan urang lembur, kapasindenan, kawih kacapian, sanajan jumlahna bisa jadi leuwih loba, masih langka kaguar pikeun jadi obyek penelitian para ahli sastra. Memang eta ge kungsi aya, tapi sipatna ngan teu saukur ngumpulkeun wungkul, henteu dibahas atawa dianalisa sacara gemet.

Padahal naon nu disebat rumpaka teh, sacara teu sadar geus loba andilna kana milu manjangkeun daya inget kana unina kekecapan, sabada awor jeung lagu. Saur Rd Mahyar Angga Kusumadinata mah, (ahli karawitan sunda/sastrawan) rumpaka teh tiasa namperkeun sarining basa, salian ti jadi pangaluwentah (bahan ajar pendidikan basa/sastra) kanggo barudak sakola. Lanjutkan membaca

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.